Pengamat: Computational Thinking Perlu Diterapkan dalam Pendidikan

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Kamis, 13 Okt 2016, 19:28 WIB Humaniora
Pengamat: Computational Thinking Perlu Diterapkan dalam Pendidikan

Istimewa

SISTEM pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan semakin kompleks. Dari berbagai survei yang dilakukan lembaga-lembaga kredibel dunia, Indonesia masih menempati urutan bawah.

Hal ini disampaikan pakar pendidikan Indra Charismiadji dalam seminar 'Computational Thinking, A Global Trend in Education- Seminar and Workshop for School Leaders', Kamis (13/10).

"Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar dapat bersaing di era global. Sekolah harus mampu mempersiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global," kata Indra.

Salah satu cara mengatasi ketertinggalan pendidikan Indonesia ialah dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering, and Math), sebuah model pembelajaran populer di dunia yang efektif dalam menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan enjinering.

Metode STEM, dipaparkan Indra, mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, pemahaman budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarier.

Indra menjelaskan, saat ini materi kurikulum STEM telah dipersiapkan untuk di sekolah-sekolah dalam negeri. Kurikulum tersebut mengajarkan anak didik tentang 'computational thinking'.

"Artinya, bukan sekadar belajar menekan tombol, melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi, atau berpikir layaknya komputer," ujar pria yang aktif di organisasi Dewan Pakar di Asosiasi Guru TIK/KKPI Indonesia.

"Indonesia harus menyadari bahwa dunia pendidikan sangat berubah. Yang tadinya dengan kertas, kapur, dan buku, kini harus mampu menyesuaikan teknologi," jelasnya.

Sekolah yang menerapkan keterampilan computational thinking akan menjadi barometer bagi sekolah lain dan mampu bersaing dan menjadi pemimpin dalam penerapan pembelajaran Abad 21.

Sementara Head of Student Life Sampoerna University, Eddy Henry, mengatakan, computational thinking merupakan sebuah pendekatan yang diyakini dapat menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan masa depan, dengan lebih cermat dan terukur.

Sampoerna Academy dan Sampoerna University telah mengimplementasikan Pendidikan Abad 21 melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, dan Math (STEAM) yang yang mengedepankan computational thinking.

"Pendekatan ini sudah diperkenalkan sejak taman kanak-kanak dan tingkat sekolah dasar, melalui pengajaran dan permainan yang mendorong mereka untuk mampu memecahkan masalah sederhana. Pada tingkat pendidikan menengah, hingga perguruan tinggi, siswa akan diberikan tingkat pemecahan permasalahan yang lebih kompleks. Mereka juga diperkenalkan bagaimana memanfaatkan alat bantu seperti komputer dan perangkat digital sesuai tujuannya" jelas Eddy. (OL-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More