Menjaga Manifesto Abstrak

Penulis: MI/IWAN J KURNIAWAN Pada: Minggu, 09 Agu 2015, 00:00 WIB Weekend
Menjaga Manifesto Abstrak

MI/IWAN J KURNIAWAN

SEMBARI berjalan masuk ke warung kopi yang ada di Kawasan Galeri Nasional, Jakarta, pelukis abstrak asal Kota Bandung, Freddy Sofian, 67, langsung memesan secangkir kopi panas. Ia terlihat bersama beberapa rekan pelukis yang tengah berpameran.

Tak berapa lama, ia kembali ke gedung pameran. Ia sopan menjelaskan karya-karyanya pada pameran bersama bertajuk Soulscape in Progress #2 di Gedung C galeri tersebut. Puluhan lukisan abstrak terpajang rapi.

Di pintu depan, satu per satu pengunjung masuk. Ada yang dari masyarakat umum, sesama pelukis, dan siswa-siswi sekolah menengah kejuruan yang ada di Jakarta dan sekitarnya. "Kesatuan ini secara random saya terapkan di atas kanvas. Ada 15 kanvas yang saya gabungkan menjadi satu kesatuan," tutur Freddy di sela-sela pameran, Jumat (7/8) sore.

Dalam pameran yang berlangsung hingga Senin (24/8) mendatang itu, Freddy menghadirkan dua karya, yaitu Unity (30 x 30 cm, 2015) dan The Object on the Silverscape (135 x 175 cm, 2015). Tiap-tiap karya mengangkat tema kolase kertas, yaitu berupa eksperimental.

Selain Freddy, pameran tersebut menghadirkan 20 pelukis. Mereka di antaranya Ade Artie, Agus Budiyanto, Aming Prayitno, Amlan Maladi, Andi Suandi, AR Soedarto, AT Sitompul, Bibiana Lee, Dedi Sufriadi, Eddy Hermanto, dan Elisha. Lalu, ada pula Gogor Purwoko, Krishna Eta, Makhfoed, dan Nunung WS.

"Ada periode lama saya bereksperimen dengan seng. Namun, pada pameran ini saya bereksperimen dengan kertas dan kanvas. Saya gunakan seng untuk mengeksplorasi tekstur. Sekarang, saya coba dengan media kertas," paparnya.

Kehadiran Freddy memang memberikan sentuhan eksperimental. Ia merupakan salah satu pelukis yang belajar langsung dari mendiang Barli Sasmitawinata. Gaya eksperimental lewat karya abstrak Freddy memang sulit dipahami, butuh pendekatan multidisiplin ilmu.

Meski demikian, itu tidak menjadi persoalan. Ia sudah memilih menjadi seniman hampir 50 tahun. Baginya, mengabdi sebagai pelukis abstrak menjadi panggilan jiwanya.

"Saya pernah mengalami hidup susah. Anak sakit enggak pernah pergi ke dokter. Saya percaya Tuhan tak buta," gumamnya.

Konsisten
Kehadiran Freddy sebagai pelukis kawakan bukan isapan jempol belaka. Ia bersama seniman Kota Bandung yang tergabung dalam Studio Rangga Gempol pernah melakukan pameran bersama di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, pada 1974. Barli juga hadir sebagai seniman kala itu.

"Saya pernah terlibat di Gerakan Seni Rupa Baru pada 1979 di TIM (Taman Ismail Marzuki). Saya tak mau memberontak terhadap seni. Hanya melalukan penelitian dengan menggunakan barang rongsokan (kursi bekas) sebagai media," ungkap lelaki yang memiliki tiga anak dan empat cucu itu.

Terlepas dari konsistensi Freddy, kehadiran Ade juga cukup memberikan perhatian. Ia menghadirkan Untitled #2 (100 x 100 cm, 2015). Karya akrilik di atas kanvas itu memberikan perenungan atas kehidupan. Ia memanfaatkan ruangan imajinasi bidang sebagai cara ia berkomunikasi dengan penikmat seni. "Ada imajinasi bidang dan gerak. Ini saya lakukan karena bidang bisa menjadi simbol," tutur Ade. Kehadiran karya abstrak memberikan tafsir dan pemaknaan berbeda.

Inilah yang Ade percayai bahwa abstrak merupakan karya tertinggi dalam seni lukis. Terlepas dari itu, memang butuh jam terbang untuk bisa mendapatkan pengakuan. Ade sudah mencari jalan dengan menggunakan insting dan spirit dalam menyajikan karyanya.

Pameran Soulscape in progress #2 merupakan serangkaian pameran abstrak. Itu sudah dilakukan para seniman abstrak di berbagai kota. Mulai Jakarta, Yogyakarta, hingga Bali. Pameran kali ini memang tidak terlepas dari diproklamasikannya Manifesto Abstrak Jakarta pada 17 Juni 2005 silam.

Itu menjadi pameran ke-17 yang dilakukan sejak manifesto tersebut. Para seniman menunjukkan keberadaan pelukis abstrak di Tanah Air terus berkarya dan mereka ikut memberikan ruh pada ranah abstrak sebagai bagian penting pada seni rupa. Dua puluh pelukis kali ini memberikan sebuah hakikat kehidupan. Mereka terus menekuni genre yang masih awam dalam masyarakat kita. Ada perenungan dan kemajuan ekplorasi.

Lewat tema Soulscape in progress #2, ada pesan seni yang bermuara di hati nurani. Perasaan mendalam atau gagasan pemikiran secara intelektual mereka sajikan lewat penciptaan secara pribadi sekaligus universal.

Ada visualisasi kegelisanan transendental. Soulscape di sini bisa jadi sebagai proses pengakraban, pencerahan, dan penyerahan diri seniman secara total lewat karya. (M-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More