Dukung Ibu Bekerja Menyusui

Penulis: MI/ENI KARTINAH Pada: Rabu, 05 Agu 2015, 00:00 WIB Humaniora
Dukung Ibu Bekerja Menyusui
"DI gudang berkas, sambil selonjoran pake alas kardus."

Demikian tweet salah satu ibu bekerja lewat akun Twitter-nya. Ia menanggapi tweet pertanyaan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) tentang di mana para ibu menyusui memerah ASI (air susu ibu) mereka saat bekerja.

Seorang ibu lainnya menjawab, "Pagi di musala, siang di toilet karena musala dipakai. Toilet bau itu perjuangan banget."

Ada juga ibu yang berkata, "Di ruang ATK (alat tulis kantor), gudang, pengap gak ada aliran udara, lampu kadang mati, pintu gak bisa dikunci, kadang tiba-tiba ada orang masuk."Ibu yang lain lagi berkicau 'Di toilet yang cuma satu-satunya di lantaiku. Jadi gak bisa santai, takut ada yang kebelet'.

Cicitan-cicitan itu menggambarkan bagaimana ibu pekerja yang masih dalam masa menyusui harus berpayah-payah dalam memerah ASI untuk pada bayi mereka saat ditinggal kerja. Sebagian ibu mampu melewati berbagai rintangan itu. Namun, ada sebagian lain yang terpaksa menyerah di tengah jalan dan memilih memberikan susu pengganti ASI untuk si buah hati, meski paham bahwa ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi.

Ketua AIMI Pusat, Mia Sutanto, mengungkapkan pemerintah sejatinya sudah menunjukkan niat baik dalam mendukung pemberian ASI bagi bayi. Hal itu ditunjukkan dengan sederet peraturan yang menjamin hak ibu untuk menyusui dan hak bayi untuk mendapatkan ASI (lihat grafik). Sayangnya, menurut Mia, implementasi peraturan-peraturan itu belum menyeluruh.

"Pemerintah sebenarnya sudah mendukung dengan berbagai peraturan dan perundang-undangan yang sudah cukup lengkap. Akan tetapi, percuma punya peraturan yang bagus tapi tidak dijalankan, tidak dilakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya, serta tidak jatuhkan sanksi bagi pelanggarnya," katanya pada diskusi peringatan Pekan ASI Sedunia yang jatuh tiap 1-7 Agustus di Jakarta, pekan lalu. Tahun ini, tema peringatan ialah Menyusui dan bekerja: Mari kita sukseskan.

Kicauan para ibu di atas bisa menjadi bukti bahwa peraturan-peraturan itu memang belum diterapkan dengan baik. Data Riset Kesehatan Dasar 2013 tentang persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif (ASI saja) juga bisa jadi petunjuk. Data itu memperlihatkan pada usia 0-1 bulan, bayi yang mendapat ASI eksklusif mencapai angka 52,7%. Namun, seiring bertambahnya usia bayi, angka ASI eksklusif pun menjadi menurun hingga pada usia 6 bulan, tinggal 30,2% saja.

"Dapat disimpulkan, seiring bertambahnya umur bayi semakin bertambah juga gangguan dari berbagai faktor yang mengakibatkan ibu tidak lagi menyusui secara eksklusif. Bagi wanita bekerja, gangguan tersebut dapat saja disebabkan dari kewajiban si ibu untuk kembali bekerja," ujar Sekjen AIMI Pusat, Farahdibha Tenrilemba, pada diskusi yang sama.

Cuti 6 bulan
Karena itu, AIMI meminta peraturan yang sudah ada benar-benar ditegakkan. Selain itu, lanjut Mia, peraturan tentang cuti melahirkan yang dibatasi 1,5 bulan sebelum dan sesudah hari perkiraan kelahiran (untuk karyawati swasta) serta 1 bulan sebelum dan 2 bulan sesudah melahirkan (bagi PNS) juga perlu direvisi sehingga hanya disebutkan bahwa cuti melahirkan lamanya ialah 3 bulan.

"Bila dibuktikan dengan surat dokter bahwa kandungan ibu baik-baik saja, ibu dapat mengambil cuti mendekati hari perkiraan kelahiran sehingga akan lebih banyak waktu ibu bersama bayi, yang berarti juga akan lebih banyak waktu bagi ibu untuk mempersiapkan pemberian ASI eksklusif," saran Mia.

Tentunya, lanjut dia, akan lebih baik dan ideal lagi apabila pemerintah dapat membertimbangkan untuk memberikan cuti melahirkan selama 6 bulan, sesuai periode pemberian ASI ekslusif bagi bayi seperti yang disarankan WHO. "Tentunya hal ini harus disetujui oleh berbagai stakeholder di Indonesia."Memang, kata Mia, masih banyak pihak yang menganggap cuti untuk menyusui sebagai tindakan tidak produktif. Namun, AIMI justru menganggap sebaliknya, ibu bekerja yang diberi cuti menyusui lebih produktif.

"Ibu bekerja yang mendapatkan cuti menyusui selama 6 bulan tidak akan sering izin mengantar anaknya ke dokter karena anaknya sering sakit di kemudian hari, sebab bayi yang diberi ASI eksklusif jarang sakit," jelas Mia.

AIMI mencatat pada 2014, Vietnam sudah memberlakukan cuti melahirkan 26 minggu pada ibu bekerja, Irlandia 26 minggu, Singapura 16 minggu, Denmark 18 minggu, Inggris 40 minggu, serta Norwegia 44 minggu. "Daftar negara tersebut bukanlah negara dengan pendapatan per kapita yang rendah."Salah satu contoh perusahaan Indonesia yang telah menerapkan cuti melahirkan selama 6 bulan dengan gaji tetap dibayar penuh ialah perusahaan di bidang komunikasi, Opal Communication.

"Awalnya didasari pengalaman istri yang pada saat hamil tidak mendapatkan cuti yang cukup sehingga saya berjanji akan berlaku adil pada karyawati," ujar CEO Opal Communication, Kokok Herdhianto Dirgantoro, yang juga hadir pada diskusi itu.

Alasan lainnya, lanjut Kokok, ialah biaya kesehatan anak. Menurutnya, anak yang disusui secara sempurna memiliki daya tahan yang lebih baik sehingga biaya kesehatan yang ditanggung kantor dan orangtua akan lebih rendah.

"Saya juga ingin masa depan Indonesia lebih baik. Kalau asupan ASI ke anak lebih panjang, anak lebih sehat, kuat, dan cerdas. Dengan demikian akan tercipta generasi yang memiliki produktivitas tinggi." (*/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More