Intan Avantie Bangga Warisi Darah Mode

Penulis: Retno Hemawati Pada: Minggu, 07 Agu 2016, 11:05 WIB Hiburan
Intan Avantie Bangga Warisi Darah Mode

Dok. Alfi Path

DESAINER kebaya, Eufrasya Citra Intan Avantie, 31, bangga menyandang nama besar sang ibu, Anne Avantie, 62. Tidak sedikit pun nyalinya menjadi ciut bahkan ketika banyak orang menghubungkan keberhasilannya di dunia mode dengan nama Anne.

“Namanya orangtua mau sampai kapan pun akan tetap jadi orangtua. Jadi, kalau saya dikaitkan dengan ibu saya, ya pasti karena saya dilahirkan ibu saya. Kalau dibilang saya dibayang-bayangi ibu saya itu justru yang menjadi harapan saya sampai mati,” ungkapnya di sela acara Bekasi Wedding Exhibition, Bekasi, Jumat (5/8).

Dia justru semakin terbuka dan meng­akui Anne menjadi inspirasinya selama ini. Banyak hal yang dipelajari anak pertama dari tiga bersaudara itu.

“Ibu adalah orang yang berpikiran terbuka. Dalam hidup saya, beliau merupakan support system dalam banyak hal,” kata dia.

Kebersamaan keduanya membuat Intan, demikian namanya sering disebut, mewarisi bakat yang dimiliki sang ibu. Meski demikian, perempuan kelahiran Surakarta itu juga ingin membuktikan dirinya bisa berhasil seperti Anne. Dengan upayanya, mimpi itu lambat laun terwujud. Selama dua tahun terakhir, ia berhasil berlomba dengan Anne.

“Saya menyaingi ibu saya nih. Untuk Putri Indonesia dan Miss Universe kebetulan dua tahun lalu pakai karya saya. Biasanya ibu saya yang pegang tiga besar Putri Indonesia dan Miss Universe. Kebetulan tahun lalu saya yang megang tiga besar. Terus ibu saya bilang, semua akan tiba pada waktunya,” kisahnya.

Limbah eksklusif
Sebagai generasi ketiga yang mewarisi darah mode keluarga, Intan mengaku memiliki banyak kesamaan dengan sang ibu yang menurutnya tidak dimiliki orang lain.

“Semua baju yang kita buat itu tidak dimulai dari sketsa. Kalau desainer lain bikin baju dari sketsa, saya dan ibu justru punya kebiasaan yang agak mirip nih, kebetulan sukanya semaunya sendiri. Apa yang kita pegang ya mengalir begitu saja, tidak terkonsep,” ungkap ibu dua anak itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, kemampuannya semakin berkembang. Tidak sedikit yang berta­nya mengapa dirinya hanya mendesain kebaya. “Saya belajar dari ibu saya agar tidak serakah. Apa yang kamu buat sehingga membuat jatuh cinta, maka imani dan amini. Ibu saya selalu bilang kita bisa bikin banyak baju, tapi cintai satu jalur supaya jalur ini berkembang dan konsisten. Kalau kamu bikin banyak baju jadi laci-laci di kepala ini bisa penuh karena terlalu banyak,” ujar Intan.

Lebih lanjut, Intan berharap karya-karyanya bisa dinikmati semua kalangan. Dia ingin semua orang Indonesia bangga dengan produk budaya dalam negeri.

Di sela-sela kesibukannya sebagai desainer, Intan juga meluangkan waktunya menjadi guru tata busana bagi anak-anak di sebuah sekolah menengah kejuruan di Semarang. Ia memanfaatkan kain yang tak terpakai untuk diolah menjadi karya yang bernilai jual tinggi. “Saya ingin memakai limbah menjadi sesuatu yang bisa dijual. Saya menyebut limbah ini limbah eksklusif,” pungkasnya. (Alfi Rahmat Faisal/H-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More