Sayangi dengan tidak Menyentuhnya Hiu Paus

Penulis: Rosmery Sihombing Pada: Minggu, 07 Agu 2016, 13:42 WIB Weekend
Sayangi dengan tidak Menyentuhnya Hiu Paus

MI/ROSMERY SIHOMBING

TIDAK sampai 10 meter dari jalan raya, pantai sudah terlihat. Suara teriakan pengunjung maupun dari pengeras suara petugas pun terdengar. Sore itu, perahu-perahu kayu yang membawa pengunjung untuk melihat dan memberi makan hiu paus, Rhincodon typus, menumpuk di satu titik. Suara takjub pengunjung, jepretan kamera, maupun telepon seluler terdengar riuh. Mereka berteriak memanggil nama Sherli, maupun Bima, yakni nama paus itu. Para orangtua maupun anak-anak di atas perahu sibuk minta difoto saat hiu paus mendekati perahu mereka. Begitu kepala paus membentur badan perahu dan mulutnya menganga minta makan, di situlah para pengunjung berekspresi sambil berteriak. Namun, rapatnya perahu satu dan lainnya membuat hiu tidak leluasa bergerak dan sering membentur kayu. Sebab itu, jangan heran bila Anda bertemu dan hiu paus yang sekitar bibirnya penuh borok. "Itu sudah lumayan bu, sudah disuntik dan diobati petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)," ujar pendayung perahu yang membawa sejumlah wartawan peserta Tour Sidomuncul. Dari atas perahu pengunjung juga bisa melihat secara jelas aktivitas para penyelam, ikan-ikan hias, dan karang karena masih jernihnya air laut.

Kian tersohor

Sejak diresmikan pada 17 April 2016 oleh Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, objek wisata hiu paus di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila, Bone, Kabupaten Gorontalo, itu cukup menyedot perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Terlebih lagi sejak perusahaan jamu dan farmasi PT Sido Muncul Tbk menjadikannya iklan produk Kuku Bima, jumlah pengunjung pun meningkat hampir 300%.

"Biasanya 200-300 pengunjung per hari, kini bisa 1.000-an, apalagi mulai Jumat sampai Minggu," ujar salah seorang pendayung perahu yang membawa pengunjung ke pantai. Kehadiran hiu paus yang merupakan fenomena alam tersebut (baru empat bulan) tentu mendatangkan rezeki bagi penduduk setempat maupun nelayan.

Sebagian besar pemilik perahu pun lebih menyewakan perahunya untuk wisatawan ketimbang mencari ikan. "Saya bisa dapat Rp200 ribu per hari. Paling sepi Rp100 ribu. Itu sudah bersih saya sudah bayar sewa perahu," ujar si pembawa perahu lagi. Selain pemilik perahu, warga sekitar juga ketiban rezeki karena mereka mulai berjualan dan menyewakan toilet di rumah mereka untuk bilas para pengunjung yang snorkeling maupun berenang di pantai. Sebabnya, pemerintah setempat belum mendirikan fasilitas toilet dan tempat bilas.

Perhitungkan konservasi

Namun, cara pengunjung berinteraksi dengan hewan sepanjang 9 meter hingga 16 meter itu sungguh mengkhawatirkan para pecinta lingkungan maupun wisatawan hijau. Salah satunya Arian Timmerman, turis asal Den Haag, Belanda. Ia setuju kehadiran paus sejak 4 bulan lalu itu baik untuk menambah kesejahteraan masyarakat sekitar. Namun, objek wisata baru itu harus ditata demi kelangsungan paus.

"Petugas harus mengatur jumlah perahu di pantai, jangan menumpuk supaya tidak ditabrak hiu dan melukai mulut mereka. Suara dari pengeras suara juga tidak perlu itu membuat bising, menambah crowded, dan membuat hiu tidak nyaman. Pengunjung termasuk saya merasa tidak nyaman," jelas Arian yang didampingi suaminya, Timmerman. Tangan-tangan para pengunjung yang membelai-belai kepala paus saat memberi makan, tambahnya, juga harus dihentikan karena tidak baik buat kesehatan paus.

Pemberian makan juga harus dijadwal, bukan setiap saat, dan diberikan petugas. "Paus itu hewan liar, jangan sampai mengubah sifat dan kebiasaan perilaku mereka. Jangan sampai perlakuan yang salah itu membuat paus pergi karena tidak nyaman, dan kalian kehilangan destinasi wisata yang indah ini" ujar Arian lagi. Namun, ia berjanji akan turut mempromosikan Gorontalo kepada temantemannya di Belanda.

"If I go back home, of course I will tell to all my friends about this natural phenomenon. I would say: 'if you go to Sumatra don't forget to Gorontalo. There are whale sharks there," tambah Arian dan Timmerman, yang mengaku tidak menjamah paus, sekalipun mereka menyelam.

Agar mereka tidak terluka

Apa yang dikhawatirkan Ariman diakui Oktaf, salah seorang pemandu wisata Gorontalo. Menurutnya, kelompok sadar wisata sudah berulang kali meminta pemerintah setempat memberikan fasilitas yang bisa meminimalisasi kerusakan pada paus. Misalnya, memberikan bantuan kredit perahu karet supaya ketika paus muncul tidak terluka saat membentur perahu. "Kami juga mengusulkan supaya pemberian makan oleh petugas saja dengan jadwal khusus, dan pengunjung cukup menyaksikan dari perahu," ujar Oktaf. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/2) akan digelar debat kedua Pilpres 2019. Debat kali ini akan mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kedua ini?





Berita Populer

Read More