Demi Budaya Kerja yang Kreatif

Penulis: Fario Untung Tanu Pada: Minggu, 24 Jul 2016, 01:00 WIB DESAIN
Demi Budaya Kerja yang Kreatif

MI/ ADAM DWI

DI dalam sebuah ruangan kotak kecil dengan desain kontainer berwarna hijau, seorang pria fokus bekerja. Meski begitu, bahasa tubuhnya juga sangat rileks dengan duduk lesehan dan laptop di pangkuan. Ruang kerja ini disebut quiet box dan hanyalah salah satu ruangan unik di kantor Maverick Indonesia. Sesuai namanya, ruang itu dibuat untuk suasana kerja yang tenang dan relaks. Perusahaan yang berlokasi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini menyediakan empat quiet box yang semuanya hanya berkapasitas satu orang. Kapasitas kecil ini sengaja dibuat untuk memfasilitasi karyawan yang ingin memiliki privasi tinggi.

Untuk ruang yang juga berkonsep lesehan dengan kapasitas lebih besar, ada tatami room. Ruang yang terletak di lantai satu tersebut menggunakan konsep ruang duplex, yakni satu ruangan yang memiliki dua lantai yang saling terhubung. “Mengusung konsep lesehan untuk diskusi, tempat ini juga biasa digunakan untuk tempat bersantai dalam bekerja,” jelas interior desainer kantor Maverick Indonesia, Toton Suhartono, saat ditemui Media Indonesia di kantor tersebut, Kamis (21/7). Dinamika desain ruang yang ada di kantor itu dirancang Toton mengikuti kebutuhan sekaligus sesuai dengan budaya perusahaan. Dijelaskan Toton dan Partner Maverick, Lita Soenardi, perusahaan konsultan komunikasi ini memiliki budaya kerja yang kreatif, percaya diri, independen, dan berani. Agar budaya kerja itu bisa berjalan baik, kenyamanan suasana kerja sangat diperhatikan. Di sisi lain, meski memiliki beberapa ruang tertutup, keseluruhan kantor itu lebih didominasi suasana serbaterbuka. Tidak ada sekat di antara meja kerja karyawan, bahkan juga pimpinan.

“Di sini konsepnya terbuka. Karena memang kantor komunikasi, jadi memang komunikasi antarsemua karyawan harus mengalir serta tidak ada perbedaan ruang kerja antara pimpinan dan karyawan, semuanya sama,” sambung Lita soal kantor yang beroperasi pada Juli 2013 itu. Cairnya suasana juga didukung dengan interior penuh warna yang kontras dengan konsep industrial. Pilar-pilar baja, pipa, kabel-kabel memang menghiasi ruangan yang bersanding dengan lantai acian semen. “Memang penggunaan warna yang kontras dari konsep industrial ini se­ngaja digunakan agar tidak sepenuhnya kaku dan monoton serta menjadikan kantor ini dengan budaya perusahaan yang tampak independen, percaya diri, kreativitas, dan keberanian,” tambah Toton. Di lantai dua, gantungan-gantungan koran dan majalah nasional menjadi pemandangan utama. Wajar saja, lantai ini memang difungsikan sebagai ruang pemantauan dan analisis. Gantungan koran dan majalah tidak hanya digunakan sebagai bahan kajian, tapi juga aksen interior.

Nuansa outdoor
Elemen menarik lain yang tidak mungkin luput dari pandangan ialah sebuah dinding penuh tanaman. Dinding bernama green wall ini menembus tiga lantai kantor tersebut. “Green wall ini dibuat memang untuk penyejuk ruangan. Karena warna hijau kan memang lebih sejuk di mata, apalagi saat banyak pekerjaan, adanya tanaman ini tentu sangat menyejukan mata,” tutur Toton. Suasana sejuk juga makin benar terasa jika kita naik ke area rooftop. Area ini digunakan baik untuk keperluan internal maupun acara mini milik klien. Banyak pula karyawan yang menggunakan area ini untuk kegiatan after office, termasuk berolahraga ringan atau hanya kongkow. Meski berada di luar, sentuhan artistik juga tidak luput, yakni lewat tong bekas yang didaur ulang menjadi tempat duduk. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More