Evolusi Helikopter Sipil ke Militer Libatkan PT Dirgantara Indonesia

Penulis: Ainonline/Airbushelicopters/Antara/Zic/L-2) Pada: Sabtu, 16 Jul 2016, 02:50 WIB Eksplorasi
Evolusi Helikopter Sipil ke Militer Libatkan PT Dirgantara Indonesia

MENGALIHFUNGSIKAN kendaraan militer untuk keperluan sipil sering kali ditemukan di beberapa negara, terutama dalam keperluan transportasi. Namun, lebih menarik lagi ketika mengalihfungsikan kendaraan sipil untuk militer. PT Dirgantara Indonesia (PT DI) terlibat di dalamnya. Sebuah perusahaan maskapai ternama, Airbus Helicopters (dulu Eurocopters), baru-baru ini melakukan pengujian sistem persenjataan helikopter militer yang rupa awalnya merupakan produk yang ditujukan untuk mengangkut sipil. Helikopter tersebut bernama H225M.

Dikenal dahulu dengan nama helikopter EC225/EC725, helikopter generasi baru dari NAS332 Super Puma itu kini telah dialihfungsikan menjadi helikopter tempur. Pengalihfungsian kendaraan udara berbaling-baling itu disebabkan permintaan terhadap helikopter dengan fungsi pengangkut sipil tidak terlalu banyak. Selain faktor permintaan, penundaan pengembangan helikopter, keterlambatan pendanaan, dan gagalnya pemasaran penjualan menjadi alasan lain. Untuk menarik permintaan terhadap H225M, sistem persenjataan tempur modular canggih bernama H Force Generic Weapon System (GWC) dipasang guna menunjang operasi militer.

Sistem persenjataan canggih generik yang dibuat khusus menunjang helikopter militer Airbus itu telah diuji pada rangkaian uji coba pada akhir Mei-awal Juni 2016 di Belgia. Sistem inovatif itu mengintegrasikan segala jenis senjata (udara-ke-udara, udara-ke-darat, balistik atau senjata yang dipandu) ke setiap jenis helikopter komersial milik Airbus, baik H125M maupun H145M. Sebagai solusi teknis yang canggih, H Force dapat memperhitungkan aspek yang berbeda dari akurasi menembak persenjataan militer. Sistem H Force mengandung unit pusat inti, helm berlayar digital (HMSD), sistem EOS, dan wescam terintegrasi dengan senjata yang dikontrol pilot.

Philippe Kohn, manajer operasional pemasaran mengatakan sistem H Force merupakan bentuk dari pengembangan lebih lanjut teknologi kapabilitas militer dari apa yang telah dibuat. Sistem H Force dilengkapi sebuah komputer misi jenis Rockwell Collins FMC-4000. Komputer misi tunggal itu memproses pengintegrasian sejumlah sistem senjata yang berbeda di atas udara. Peran dari sistem H Force itu yang membuat helikopter pabrikan Airbus Helicopters menjadi helikopter dengan fungsi serbaguna. Dalam produksi helikopter militer canggih Airbus H225M, siapa sangka terdapat sebuah fakta keterlibatan dari perusahaan industri penerbangan Indonesia.

Perusahaan Indonesia, PT DI, merupakan pemasok komponen penting di bodi H225M, yaitu fuselage (badan) dan ekor. Hingga Februari 2016, PT DI telah mengirimkan 45 unit ekor, 10 unit upper fuselage, dan 4 unit fuselage. Diketahui, sejak 2008, PT DI dipercaya Airbus Helicopters sebagai mitra pengembangan produksi badan dan ekor helikopter. Dalam kontrak produksi dan pengembangan badan H225M oleh kedua pihak, PT DI akan menyuplai 125 badan dan 125 ekor helikopter hingga 2025.

Nilai kontrak yang tertera hingga 2025 ialah US$45 juta. Pada pengerjaannya, PT DI membutuhkan waktu 1,5 bulan untuk mengirimkan satu badan terintegrasi ke Airbus Helicopters. Untuk mengerjakan proyek itu, PT DI mengerahkan 220 personel yang 80%-nya ialah tenaga muda. Di lain pihak, Airbus Helicopters juga menempatkan personel-personel mereka di PT DI Bandung untuk bekerja berkesinambungan dengan tenaga PT DI. Yulianto, Manajer Program MK II Airbus Helicopters, mengatakan apa yang dilakukan PT DI bukan sekadar merakit, melainkan dari proses pembuatan material awal (raw material), pembuatan badan, hingga perakitan badan.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More