Ukur Permukaan Air dengan Augmented Reality

Penulis: Hera Khaerani Pada: Sabtu, 26 Mar 2016, 00:00 WIB Teknologi
Ukur Permukaan Air dengan Augmented Reality

ANTARA

MANADO, kota di Sulawesi Utara yang menghadap laut dan dialiri empat sungai, menyimpan banyak keindahan dan sumber daya yang berhubungan dengan air.

Namun, air juga bisa menjadi sumber petaka.

Buktinya akibat intesitas hujan tinggi, banjir dan luapan air bisa menelan korban, seperti pada Januari 2014.

Masalah banjir tidak hanya dihadapi Manado, tapi juga berbagai wilayah lain di Nusantara.

Secerca harapan muncul dari uji coba Fujitsu Limited dan PT Fujitsu Indonesia di Manado, Sulawesi Utara.

Perusahaan asal Jepang itu baru-baru ini mengumumkan keberhasilannya membangun sistem informasi sungai yang diimplementasikan lewat augmented reality (AR).

Itu teknologi yang memadukan informasi dari pancaindra manusia dengan informasi digital yang diperoleh melalui pemanfaatan ICT untuk mengembangkan dan memperkuat apa yang menjadi persepsi manusia.

Proyek itu dilaksanakan atas undangan Japan International Cooperation Agency (JICA) kantor Indonesia.

Menurut Managing Director Fujitsu Indonesia Achmad Sofwan, sistem yang dikembangkan di Manado itu berbekal pengalaman perusahaan itu mengembangkan sistem informasi persungaian di Jepang.

Sistem tersebut memanfaatkan produk platform AR terintegrasi milik Fujitsu, yakni Fujitsu Software Interstage AR Processing Server, untuk menjalankan aplikasi pada ponsel pintar.

Dalam praktiknya, pengamat lapangan dapat memanfaatkan aplikasi pengukuran permukaan air berbasis ponsel pintar untuk mengukur tinggi muka air, mengambil gambar, dan melengkapi informasi kondisi di sekitar lokasi.

Data kemudian dikumpulkan dan dikonsolidasikan di pusat data Fujitsu, lalu diplotkan pada peta.

"Pengamat lapangan menggunakan kamera yang ada di ponsel pintar untuk memindai dan membaca alat penanda AR yang terdapat di sebuah lokasi di daerah aliran sungai di wilayah Manado. Aplikasi akan menampilkan sebuah mistar skala yang ditimpakan di atas gambar sungai," terang Achmad dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, Jumat (11/3).

Berdasarkan itu, pengamat bisa mengukur tinggi muka air secara digital dengan cara menandai luasan air yang dimaksud.

Pemantauan perubahan tinggi ambang permukaan air banjir dan penyebaran informasi dengan cepat akan memudahkan aparat pemerintah dalam penyelenggaraan mitigasi dan proses evakuasi bencana yang cepat tanggap.

Inilah yang diyakini JICA, makanya kecepatan penyebaran informasi menjadi sorotan utama program uji coba sepanjang 23 Februari-18 Maret 2016. Bersama Dinas

Pengelolaan Sumber Daya Air Sulawesi I, Provinsi Sulawesi Utara, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera BWS Sulawesi I) mereka mengevaluasi kinerja, manfaat, serta efektivitas sistem yang telah dibangun.

Pengecekan tinggi muka air sungai dan setiap perubahan yang terjadi dilakukan melalui internet, tiga kali sehari.

Sistem itu memungkinkan pengumpulan data tinggi muka air terukur, foto kondisi setempat, serta keterangan yang dilakukan petugas, dan grafik-grafik tinggi muka air di setiap lokasi.

Begitu muka air mencapai ambang batas tinggi muka air banjir, sistem akan memunculkan alarm peringatan.

Dalam uji coba ini, alarm tampil melalui layar, tetapi dalam kondisi sesungguhnya alarm juga dapat disebarkan melalui ponsel ke aparat pemerintah setempat yang berwenang dalam hal pencegahan dan mitigasi bencana.

Saat uji coba, alat penanda AR diinstal di satu aliran sungai untuk melihat tingkat akurasi pengumpulan informasi untuk kalkulasi.

Pengujian memverifikasi seberapa cepat badan PU-Pera BWS Sulawesi I mencatat, merekam, dan menyebarkan informasi akan setiap perubahan tinggi muka air yang terjadi dengan cepat dan akurat yang berguna untuk proses assessment kondisi untuk sistem tata kelola sungai yang efektif.

"Sistem ini tentunya laik dan berpeluang untuk diimplementasikan lebih luas di Indonesia," lanjut Achmad.

Sebagai catatan, sistem pemantauan terdahulu mengandalkan instalasi sensor fisik di sepanjang sungai memonitor tinggi muka air.

Akibatnya, biaya perawatan tinggi dan sulit diterapkan untuk kebutuhan jangka panjang.

Saat memanfaatkan ponsel pintar, biaya implementasi dapat ditekan.

Lebih dari itu, seluruh kalangan dapat turut dalam proses pengukuran terstandar, dilakukan dari lokasi yang aman dan jauh dari sungai, yakni melalui teknologi AR.

Tidak menutup kemungkinan jika sistem itu diberlakukan nasional, masyarakat pun bisa berpartisipasi aktif mendukung pencegahan dan mitigasi bencana alam.

Lebih lanjut JICA kantor Indonesia mengatakan nantinya dengan menyimpan dan terus mengakumulasikan seluruh informasi di data center, tidak mustahil bila sistem itu akan memanfaatkan pula big data analysis.

Hal itu akan berguna dalam merancang prediksi bencana atau untuk mendukung rencana tindakan perkuatan dan perbaikan sungai dan sebagainya.

Bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia, hal ini tentu menjadi kabar gembira.

Bukanlah mustahil bila kelak kita bisa mengadopsi teknologi Jepang untuk mencegah terjadinya banjir. (M-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More