Waspada saat Keluarga Mencandui Layar!

Penulis: Hera Khaerani Pada: Sabtu, 12 Mar 2016, 07:01 WIB Teknologi
Waspada saat Keluarga Mencandui Layar!

MI/Novin

DI hamparan karpet hijau serupa rumput, Tascha Liudmila duduk dengan buku di pangkuannya, Selasa (16/2). Lima anak yang duduk di hadapannya mulanya tidak terlalu antusias pada apa yang dibaca perempuan yang sehari-hari menjadi pembaca berita di televisi itu. Ketika mereka mulai dilibatkan dalam ceritanya, barulah antusias. "Aku suka nonton televisi. Biasanya di Sabtu dan Minggu," ujar seorang bocah lelaki dengan semangat.

Buku yang diceritakan Tascha itu tak lain berjudul Screen Time yang ditulisnya sendiri. Hari itu di Rumah Baca Reading Is Fun, Kebayoran Baru, Jakarta, bukunya resmi diluncurkan. Tujuan pembuatan buku dengan ilustrasi yang didesain Inez Tiara itu ialah ia merasa khawatir dengan budaya masyarakat Indonesia yang suka berlama-lama di depan layar gawai, terutama kaum urban.

Bukalah mata ketika bepergian ke pusat perbelanjaan. Mudah kita temukan keluarga yang duduk bersama di restoran, tapi semuanya sibuk dengan layar ponsel. Itu yang dimaksudnya screen time, yakni banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menatap layar gawai dan teknologi.

Tidak hanya di tempat publik, ketika di rumah, gejala itu acap terjadi. Dalam bukunya, Tascha mengisahkan keluarga kecil yang terdiri atas ayah, ibu, dan dua anak. Keluarga itu sarapan sambil menonton televisi.

Bahkan, ketika sang ibu menyuruh anaknya segera menyelesaikan sarapan supaya tidak terlambat ke sekolah, mata anaknya tidak pernah lepas dari layar ponsel.

"Nyatanya kenapa kita kesulitan menarik gawai dari mereka, ya karena kita (orangtua) juga seperti itu. Makanya <i>screen time<p> juga berlaku untuk orang dewasa," simpulnya.

Tascha menceritakan buku itu sempat dibacakan di sekolah anaknya. Ketika ia bertanya kepada murid dalam kelas soal screen time, muncul pengakuan yang memilukan hati, yaitu anak-anak merasa orangtua mereka lebih mementingkan ponsel ketimbang memperhatikan anak.

"Mama selalu bilang nanti dulu karena harus balas e-mail, tapi jadinya mama balas e-mail terus," ujarnya menirukan pengakuan yang didapatnya.

Psikolog pendidikan dan anak, Elizabeth Santosa, menambahkan ada banyak bahaya dari kecanduan gawai yang melanda anak-anak, di antaranya masalah fisik, seperti mata lelah dan postur tubuh yang terganggu, skoliosis. Akibat jarang bergerak, anak bisa mengalami malanutrisi atau obesitas. Di sisi lain, interaksi sosial juga terancam dikorbankan.

"Makanya anak sekarang kelihatan tidak mendalam, sulit fokus, tidak hangat, tidak sopan, atau egois. Ini akan sangat menantang ketika mereka berinteraksi di kelas," sebutnya.

Pengalihan
Bukan berarti menggunakan gawai tidak diperbolehkan sama sekali. Saat ini memang sulit bila hubungan keluarga harus kembali ke pola tradisional tanpa gawai. Namun, Elizabeth menyarankan perlunya pembatasan. Pada 2011, American Academy of Pediatrics mengatakan bayi di bawah usia dua tahun tidak boleh menonton televisi. Sementara itu, anak yang lebih besar hanya boleh menghabiskan screen time maksimal 2 jam dalam sehari. Untuk menunjang tumbuh kembang, mereka lebih perlu bermain yang melibatkan aktivitas fisik.

Sebagaimana kecanduan yang lain, kecanduan terhadap gawai perlu pengalihan. Tascha dan Elizabeth memberikan saran kepada para orangtua dengan mengalihkan kecanduan itu pada buku. Itu diyakini akan lebih bermanfaat karena nantinya akan berimbas pada tingkat intelektualitas anak.

Meski buku Screen Time yang berwarna itu terlihat seperti buku anak-anak, sejatinya buku itu akan lebih ideal bila dibaca orangtua. Dengan demikian, keluarga bisa menikmati waktu berkualitas bersama dengan membaca cerita. Di sisi lain, anak pun bisa memahami ada tugas dan tanggung jawab semua anggota keluarga untuk membatasi waktu di depan layar gawai, televisi, dan yang lain. (M-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More