Lembo Ade di Tana Samawa

Penulis: Briyan B Hendro K Pada: Kamis, 30 Apr 2015, 00:00 WIB Travelista
Lembo Ade di Tana Samawa

MI/Atet Dwi Pramadia

ALUNAN lagu reggae dari grup musik Steven and Coconut Treez tersebut menyambut saya di Tana Samawa (Pulau Sumbawa), Nusa Tenggara Barat, akhir Maret lalu.

Mansyur, sopir yang menjemput saya dan rekan di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin, Bima, seakan memberi gambaran singkat melalui lagu tersebut bahwa saya kini berada di daerah yang begitu indah laksana surga dunia.

Ketika itu saya berencana menuju Desa Pancasila di kaki Gunung Tambora dari Bima.

Perjalanan yang harus ditempuh sekitar ... km, atau 5 jam perjalanan darat.

"Hmm..pasti bakal jadi perjalanan yang melelahkan," gumam saya dalam hati membayangkan perjalanan yang jauh dengan infrastruktur terbatas.

"Lembo ade, Bang," ucap Mansyur

ketika melihat saya tampak kepanasan di dalam mobil walaupun AC sudah dinyalakan.

Lembo ade merupakan ungkapan sarat makna yang sering diucapkan penduduk Bima.

Penggunaannya misal jika sedang mengalami kesulitan dapat menggantikan kalimat 'beginilah adanya'.

Contoh lainnya, misal ketika mengalami kecelakaan, orang yang menolong dapat mengucap lembo ade.

Dari Kota Bima, kendaraan meluncur menuju Dompu dan Kempo.

Kota Bima dan Dompu yang merupakan pusat pemerintahan membuat aktivitas kota ini tampak ramai kendaraan, walaupun tidak sampai menimbulkan kemacetan.

Senja memasuki Dompu

Matahari perlahan menghilang ketika kendaraan memasuki Kempo.

Berbeda dengan Bima dan Dompu, Kempo menyajikan pemandangan sawah, perbukitan, hutan, dan laut.

Kadang jalan raya berada persis di pinggir pantai.

Tampak warna jingga dari sang surya menyinari laut seakan melambai memberi tanda gelap akan datang.

Setelah menempuh sekitar 3 jam perjalanan, dari penglihatan yang tersorot cahaya lampu mobil yang saya tumpangi, tampaknya saya berada di tengah padang sabana.

Benar saja, Bang Man menginfokan bahwa saya berada di daerah Doro Ncanga.

Apabila melintas di jalan raya pada siang hari, akan terlihat dua gunung di sisi kanan dan kiri jalan.

Karena itulah daerah ini dinamakan Doro Ncanga yang berarti Gunung Terbelah.

Samar-samar lampu kendaraan menyorot sesuatu berwarna cokelat.

Lantas saya membuka jendela supaya penglihatan di sisi kiri saya semakin jelas.

Wow...ternyata padang sabana yang saya lewati terdapat beberapa hewan seperti kuda, sapi, dan kerbau.

Sayup-sayup terdengar lonceng yang dipasangkan pada leher kerbau dan sapi.

Menurut Mansyur, jika melakukan perjalanan siang hari, sosok terlihat jelas.

Bahkan jika cukup beruntung dapat terlihat menjangan atau kijang.

Perjalanan siang
Selang 10 hari kemudian, saya kembali dari Desa Pancasila menuju Bima untuk kembali ke Jakarta.

Saya harus kembali menyewa mobil penduduk setempat karena mempertimbangkan efi siensi waktu.

Sopir yang mengantar saya kali ini berbeda, yaitu Christian dari daerah Calabai.

Perjalanan pun ditempuh pada siang hari.

Sekitar pukul 01.00 Wita, mobil yang saya tumpangi meluncur membelah teriknya matahari.

Cuaca di tanah Sumbawa jika siang hari bahkan bisa mencapai 40 celsius.

"Kalau di Jakarta matahari cuma 1, kalau di sini ada 4," kelakar Chris.

Beruntung aspal yang dilalui kendaraan sangat halus, mematahkan dugaan awal saya ketika menginjakkan kaki di Sumbawa.

Teriknya sang surya tidak menyurutkan langkah saya untuk keluar dan menepi sejenak ketika kendaraan kembali melintas di Doro Ncanga.

Kaki rasanya gatal kalau tidak menginjak langsung padang sabana dan mendekat ke kawanan kuda, sapi, dan kerbau.

Batu-batuan hasil hempasan gelegar Gunung Tambora 2 abad silam juga banyak terdapat di Doro Ncanga.

Kawanan ternak itu berkumpul tidak jauh berada dari jalan raya, bahkan sering kali menyeberang jalan raya.

Mobil yang saya tumpangi pun sempat mengalah untuk pindah ke jalur tanah, karena jalan raya penuh dengan gerombolan kerbau.

Hewan-hewan yang berada di Doro Ncanga umumnya ialah ternak peliharaan penduduk setempat.

Namun, ada juga beberapa yang liar.

Penduduk biasanya memberi tanda pada hewan peliharannya agar tidak tertukar berupa tulisan di tubuh, kalung atau tindikan di telinga.

Hewan ternak tersebut sengaja dilepas begitu saja.

Pemilik ternak pun biasanya menyuruh orang lain untuk mengontrol.

Jika beranak, biasanya satu ekor hewan yang baru lahir diberikan kepada orang yang menjaganya.

Jika sudah cukup umur, hewanhewan ternak tersebut dikirim ke luar Sumbawa untuk dijual ke Bali, Jawa, hingga Sumatra.

Kuda Sumbawa sendiri sudah sangat terkenal sebagai kuda yang sangat kuat di tanah air.

Susunya pun diyakini punya banyak manfaat.

Tidak terasa sang surya akan kembali tenggelam.

Saya pun bergegas kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Bima.

Indahnya perjalanan sepanjang Desa Pancasila membuat saya lembo ade dengan jauhnya perjalanan yang ditempuh. (M-1)
 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More