Eka Julianto Wahjoepramono: Hidup dalam Keluarga Dokter

Penulis: (Wnd/M-2) Pada: Kamis, 03 Mar 2016, 08:28 WIB Sosok
Eka Julianto Wahjoepramono: Hidup dalam Keluarga Dokter

MI/Atet Pramadia

SEBUAH foto memperlihatkan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak mengenakan jas putih khas dokter. Sebelum ditanya, ia membenarkan keluarganya memiliki profesi tenaga medis. Sang istri merupakan dokter kulit, sedangkan anak pertama memilih spesialisasi seperti sang ayah, bedah saraf.

Profesi tersebut tak pernah dipaksakan Eka kepada ketiga anaknya. Namun, ia merasa apa yang selama ini dikerjakan oleh dirinya justru menjadi panutan bagi ketiga anaknya. "Saya selalu katakan tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan, asalkan mau belajar. Jarang bicara sih saya, mungkin mereka melihat dari apa yang saya kerjakan hehehe," tukas anak sulung ini.

Prestasinya tidak berhenti hanya dengan penobatan sebagai dokter bedah batang otak pertama di kawasan Asia Tenggara. Berkat pengetahuan dan pengalamannya, Siloam Hospitals Karawaci ditetapkan sebagai post graduate training center oleh World Federatin Of Neurosurgical Societies di bawah supervisi Eka.

Indonesia menjadi salah satu rujukan bedah saraf dari 16 yang ada di seluruh dunia. Kini, beberapa dokter dari negara lain, dari Jepang hingga Amerika, dirujuk oleh pihak kampus untuk belajar di Indonesia dalam waktu sekitar tiga bulan.

Eka berharap warga Indonesia percaya dan bangga akan kemampuan anak negeri. Ia pun tidak akan memberikan rekomendasi kepada pasiennya untuk pergi berobat ke luar negeri dengan alasan tidak bisa diobati.

"Tahun ini, saya akan membuat kuliah operasi dalam bentuk tiga dimensi di bioskop degan menggunakan kacamata seperti layaknya menonton film. Ini akan memberikan pengalaman nyata bagi para peserta," pungkas dokter yang baru saja memberikan kuliah umum di SMP Wonogiri, Jawa Tengah, ini.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More