Atasi Putus Asa dengan Mengelola Perasaan Gembira

Penulis: Galih Agus Saputra Pada: Rabu, 17 Apr 2019, 17:05 WIB Weekend
Atasi Putus Asa dengan Mengelola Perasaan Gembira

ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang
Pemilu 2019

ILMUWAN Perilaku (Behavioral Scientist) Harvard Kennedy, Todd Rogers. Secara konsisten telah mengamati perilaku pihak-pihak bertarung dalam Pemilu Amerika 2016.

Dia menemukan semua orang yang terlibat dalam Pemilu pada umumnya selalu punya keyakinan bahwa mereka akan menang. Hal itu juga berarti bahwa, dalam setiap siklus pemilu, setengah populasi di sebuah negara pasti tidak akan jauh dari perasaan terpukul atau dipukul.

Meski demikian, perlu diingat pula bahwa kekalahan bisa saja menjadi semakin buruk jika seseorang tidak menerima kekalahan itu sendiri. Ilmuwan Perilaku Ekonomi (Economic Behavior Scientist) pernah menjelaskan hal tersebut menggunakan Teori Prospek, yang didukung Eksperimen Cangkir.

Ilmuwan itu terdiri dari Daniel Kahneman, Jack Knetsch, dan Richard Thaler. Mereka dalam eksperimennya mula-mula membagikan cangkir kepada setengah subyek penelitian untuk dijual, sementara setengahnya lagi diminta untuk menjadi pembeli.

Setiap penjual lantas mematok harga dua kali lipat lebih besar dari harga yang ditawarkan oleh pembeli. Singkat cerita, pembeli pun akhirnya menang dan memiliki cangkir tersebut. Fenomena ini sekalipun sangat berbeda dengan pemilu, tetapi memiliki pelajaran yang dapat dipetik. Hal itu terlihat dari bagaimana cara orang memberi penilaian yang amat tinggi terhadap sesuatu, namun pada akhirnya ia harus merelakan sesuatu itu dibawa pergi.

Pada umumnya, penjual itu juga tidak memperlihatkan bagaimana ekspresinya. Namun belakangan, mereka mengakui bagaimana dirinya amat membenci dan berusaha mati-matian untuk menghindari kekalahan, sekalipun akhirnya sesuatu yang amat berharga itu tetap dibawa pergi.

Namun, kabar baiknya, orang-orang yang melihat dirinya menjadi bagian dari di tim yang kalah, sekaligus dirundung kesedihan akan membaik dalam beberapa hari.

Ilmuwan Psikologi Sosial, Dan Gilbert selanjutnya mengatakan bahwa dewasa ini memang sering ada orang yang cenderung melebih-lebihkan intensitas dan durasi peristiwa emosional. Sehingga, ketika sesuatu yang baik mendatanginya biasanya tidak akan bertahan lama.

Sebaliknya jika seorang mendapati keadaan buruk di hadapannya namun dapat segera mengelola perasaan gembira, maka putus asa itu sendiri tidak akan bertahan lama. Gilbert selanjutnya memberikan gambaran yang dapat dilihat dari sebuah penelitian tentang, orang yang tiba-tiba menjadi lumpuh dan memenangkan lotre. Setelah peristiwa yang mengganggu itu, mereka kemudian kembali ke sebuah kebahagiaan dasar dengan amat cepat. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More