Kekalahan Dalam Pemilu Memicu 'Efek Konsensus Palsu'?

Penulis: Galih Agus Saputra Pada: Rabu, 17 Apr 2019, 17:00 WIB Weekend
Kekalahan Dalam Pemilu Memicu

MI/Usman Iskandar
Pemilu 2019

SETELAH lama dinanti, akhirnya tiba juga masa warga negara Indonesia berduyun-duyun pergi ke TPS untuk menggunakan hak suaranya masing-masing.

Barangkali, sudah sejak 2017 lalu, Ketua Panja RUU Penyelenggara Pemilu, Lukman Edy mengumumkan bahwa Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 bakalan digelar pada Rabu (17/4). Sejurus waktu menunggu datangnya masa-masa itu, orang-orang mulai dari individu, relawan, Caleg, hingga Capres juga telah mengupayakan caranya masing-masing untuk meyakinkan seluruh lapisan masyarakat agar percaya bahwa tokoh junjungan atau visi-misinya adalah benar, bahkan bersifat mutlak tanpa tedeng aling-aling.

Beragam survei, retorika, terbitan media massa, rekam jejak, testimoni, lobi, hingga rancangan kerja, juga menjadi bagian kelompok partisan untuk meraih massa seluas-luasnya. Tak lain dan tak bukan, semua itu mereka lakukan agar kemenangan dapat berpihak pada tokoh yang diusungnya. Namun, pertanyaanya, bagaimana jika semua itu meleset bahkan jauh dari prediksi yang dibuat sebelumnya? Kalau berkaca pada Pemilu Amerika 2016 lalu, orang-orang yang kalah kebanyakan akan merasa patah hati, konyol, pilu, terperangkap, hingga terperangah. Bahkan, seseorang bisa saja merasakan sakit yang luar biasa, melebihi rasa sakit akibat dihantam bencana nasional.

Koresponden Kesehatan Senior Vox Media, Julia Belluz, dan Penyunting Grafis Vox Media, Javier Zarracina pernah mengalami hal serupa. Mereka sangat terpukul kala mendapati calon yang diusungnya kalah dalam Pemilu pada masa itu. Bahkan, mereka sempat merasakan gangguan berat yang dalam pengertian psikologi disebut "Efek Konsensus Palsu". Persoalan semacam itu, juga diamati Ilmuwan Perilaku (Behavioral Scientist) Harvard Kennedy, Todd Rogers. Secara konsisten ia telah mengamati perilaku kedua belah pihak yang bertarung dalam Pemilu Amerika 2016.

Dalam temuannya, Rogers, mengatakan bahwa semua orang yang terlibat dalam Pemilu pada umumnya selalu punya keyakinan bahwa mereka akan menang. Hal itu juga berarti bahwa, dalam setiap siklus pemilu, setengah populasi di sebuah negara pasti tidak akan jauh dari perasaan terpukul atau dipukul. Kenapa demikian? Lebih lanjut, Rogers mengatakan bahwa, orang-orang yang tergabung dalam sebuah kubu biasanya cenderung lebih memilih teman dengan orang yang sepemikiran. Mereka bekerja bersama, membaca sumber berita yang sama, bahkan mencari validasi atau mengonfirmasi pandangan mereka tentang dunianya yang sama dengan cara yang sama. Sebaliknya, hal seperti itu kemudian dapat menjadi pukulan telak kala mereka tertabrak oleh sebuah realitas yang berebeda dengan anggapan atau temuannya.

Dalam suatu penelitian, Rogers bahkan sempat mengumpulkan sampel yang dapat digunakan untuk mengukur bagaimana perasaan seseorang saat mengalami kehilangan atau kekalahan dalam hal orientasi politiknya. Rogers dan rekan penulisnya menemukan bahwa dampak kesedihan karena kalah dalam pemilihan dua kali lebih kuat dari kesedihan yang mereka rasakan setelah dilanda tragedi nasional. Hal itu bisa sedemikian dalam karena berkaitan erat dengan identitas.

"Keberpihakan semakin menentukan kehidupan mental, sosial, dan geografis kita. Jadi, ketika bagian dari diri kita itu mendapat pukulan yang cukup signifikan, hal tersebut dapat menjadi pukulan untuk seluruh bagian tubuh, sekalipun hanya berlaku untuk sementara waktu," tutur Rogers, seperti dilansir Vox Media. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More