Tokoh Agama Serukan Rekonsiliasi dan Konsolidasi Usai Pemilu

Penulis: M. Ilham Ramadhan Avisena Pada: Selasa, 16 Apr 2019, 16:49 WIB Politik dan Hukum
Tokoh Agama Serukan Rekonsiliasi dan Konsolidasi Usai Pemilu

MI/SUSANTO
Ketum PBNU Said Aqil Sirodj (kiri) bersama Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti (tengah) dan Cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat.

INDONESIA sudah berulang kali mengalami turbulensi nasional dan mampu melewatinya dengan baik. Pun demikian dengan Pemilu, Indonesia juga beberapa kali sukses melakukannya. Prestasi itu harus tetap dijaga oleh bangsa Indonesia.

Demikian yang disampaikan Cendekiawan Komaruddin Hidayat dalam seminar dan Dialog Kebangsaan bertemakan Memperteguh Semangat Kebangsaan Dalam Bingkai NKRI di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Selasa (16/4).

"Jadi, tolonglah, apa yang telah kita raih selama ini jangan dirusak. Siapapun yang menang, itu adalah putra Indonesia, putra bangsa, kalah menang itu biasa saja. Kebetulan, dan dimanapun kursi Presiden hanya satu," ujar Komaruddin.

Kontestasi elektoral yang dalam hitungan jam akan berlangsung, kata Komaruddin, merupakan bentuk kerjasama bangsa untuk mencari pemimpin yang baik. Bukan sebagai ajang permusuhan yang akhirnya mengganggu pemerintahan.

"Jadi, siapapun yang menang, jangan mengexclude orang yang kalah, dan yang kalah jangan kemudian memusuhi yang menang. Oposisi boleh, tapi oposisi yang konstruktif yang rasional. Jangan kemudian mengganggu pemerintahan," kata mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah itu.

Baca juga: Optimistis Cebong dan Kampret akan kembali Menyatu Setelah Pemilu

Lebih lanjut Komaruddin menyatakan, kandidat yang esok terpilih sebagai Presiden, bukan merupakan momen kemenangan untuk kedua kandidat. Pasalnya kemenangan itu sejatinya ialah milik rakyat.

"Kemenangan itu bukan untuk Prabowo atau Jokowi, yang menang itu harus rakyat. Ukurannya apa? Kedepan makin baik dan sejahtera," terangnya.

Sementara, Ketua Umum PBNU, Said Aqil Sirodj menyoroti persoalan yang acap kali datang di masa tenang dalam Pemilu. Masyarakat yang memilih peserta Pemilu hanya dikarenakan uang dan kebendaan merupakan tanda kegagalan demokrasi.

"Tapi kalau masyarakat mensukseskan demokrasi ini tanpa ada motivasi selain ingin membangun demokrasi itu sendiri, maka itulah bangsa yang bermartabat dan berbudaya," ungkapnya.

Demokrasi bukan sebuah tujuan melainkan sarana untuk membangun bangsa dan negara. Oleh karenanya, sarana itu harus dimanfaatkan dengan baik oleh warga Indonesia.

Kesantunan dan keberadaban dalam berdemokrasi masyarakat Indonesia, diyakini oleh Aqil akan tetap terjaga. "Saya yakin bangsa Indonesia ini berbudaya, berakhlak, tidak akan seperti Timteng saya yakin itu. Maka kita jaga itu," pungkasnya.

Seirama, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti menyatakan, menjelang hari pemilihan umum memang tingkat kerawanan meningkat, namun hal itu masih berada di level yang dapat di tolelir.

Hal yang menjadi kekhawatiran, lanjut Mu'ti, ialah masa setelah pemilihan berlangsung. Salah satunya ialah adanya gejolak massa karena tidak bisa menerima hasil Pemilu. Oleh karenanya perlu dilakukannya upaya agar masyarakat mampu menerima apapun hasilnya.

"Rekonsiliasi dan konsolidasi perlu dilakukan untuk menerima hasil pemilu sebagai realitas politik. Siapapun yang terpilih, dialah pemimpin kita. Indonesia jadi model negara lain, karena tidak ada yang melaikan pemilu serentak seperti kita," ungkap Mu'ti.

Lebih jauh, terkait dengan munculnya wacana menggerakkan massa dalam Pemilu, Komaruddin menjawabnya dengan santai, "Pemilu itu people power, tapi people power yang ikuti aturan. People power itu kan massa, pemilu itu mobilisasi massa, tapi massa yang mengikuti aturan, bukan yang anti aturan, itu tidak benar," tandasnya. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More