Anak-Anak Yaman Harus Bekerja demi Bertahan Hidup

Penulis: (AFP/Tes/I-1) Pada: Selasa, 26 Mar 2019, 07:20 WIB Internasional
 Anak-Anak Yaman Harus Bekerja demi Bertahan Hidup

(Photo by MOHAMMED HUWAIS / AFP)
Anak Laki-laki membersihkan makam di Kota Sanaa Yaman

MEMAKAI kemeja garis-garis berwarna biru dan tanpa alas kaki, Ahmed al-Hamadi berjalan dari sekolah menuju area permakaman di ibu kota Yaman. Dia membantu sang ibu bekerja demi bertahan hidup.

Anak berusia 13 tahun itu dengan sigap berjalan melewati kuburan yang sempit dan ditumbuhi rumput liar. Dia mengangkut galon air di bahunya yang mungil dan mulai menyirami tanaman. Kucuran air turut membersihkan batu nisan dari debu yang beterbangan di Kota Sanaa. Ahmed dan ibunya mendapat bayaran seadanya dari keluarga almarhum.

"Kami biasanya menunggu prosesi permakaman agar bisa bekerja. Jika tidak ada yang meninggal, kami hanya berkeliaran di sekitar kuburan," ujar Ahmed.

Ahmed merupakan satu di antara jutaan anak yang berjuang untuk tetap bersekolah di Yaman. Negara termiskin di dunia itu dilanda perang, kemiskinan, dan penyakit. Konflik Yaman yang mengadu domba pemerintah dengan kelompok pemberontak terkait dengan Iran, semakin memburuk ketika Arab Saudi dan sekutunya melakukan intervensi.

Sudah empat tahun koalisi pimpinan Saudi menggencarkan operasi militer untuk menggulingkan pemberontak Huthi. PBB memandang situasi Yaman menjadi krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Yaman bahkan memiliki tingkat pekerja anak tertinggi di kawasan Arab, baik dalam persentase maupun kuantitas.

UNICEF menyebut Yaman sebagai neraka bagi anak-anak, dengan 80% anak di bawah umur memerlukan pertolongan. Sejak perang memasuki tahun kelima, sekitar dua juta anak-anak Yaman diperkirakan putus sekolah.

Seiring kekerasan yang mengintai anak-anak, ekonomi Yaman mengalami penurunan lebih dari 50% sejak eskalasi konflik pada 2015. Nilai tukar mata uang merosot tajam. Seluruh pergerakan investasi di Yaman mati.

Banyak keluarga tidak mempunyai pilihan selain mengandalkan anak-anaknya ikut bekerja walau hanya meraup beberapa dolar per bulan. Atiqa Mohammed awalnya seorang perwira militer Yaman, tetapi situasi mengubah nasibnya menjadi pedagang warung kelontong.

"Perang telah mengubah segalanya. Kebutuhan bahan pokok semakin tipis. Sudah tidak ada lagi teh dan roti," lirihnya.

Jumlah penduduk Yaman yang membutuhkan bantuan kemanusiaan mencapai 29 juta orang. Data PBB juga mencatat lebih dari 10 juta orang penduduk di ambang kelaparan massal. Beberapa daerah, baik yang dikuasai pemerintah maupun pemberontak, banyak pegawai termasuk guru yang tidak mendapatkan upah sejak 2016. Bulan ini, UNICEF menyalurkan dana US$50 per bulan per orang, untuk 100 ribu tenaga pendidik. (AFP/Tes/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More