Langka Melintas Generasi

Penulis: Suryani Wandari Putri Pada: Minggu, 24 Mar 2019, 00:40 WIB Weekend
Langka Melintas Generasi

Dok Festival Bango

APA rasanya bila bubur dipadukan dengan asinan, kudapan yang dibuat dengan mengacarkan buah atau sayur menggunakan garam dan cuka. Mungkin terasa aneh ketika bubur yang biasanya disajikan dengan kuah kari atau kecap
manis, berpadu asinan. Makanan khas Betawi ini memang memiliki rasa yang unik karena langka. Di Jakarta, hanya tiga tempat yang menyajikan menggunakan resep turun-temurun.

Hidangan bubur itu bernama bubur ase Bu Neh. Warungnya di kawasan Kebon Kacang 3, Jakarta Pusat, sudah berdiri sejak 1968 itu hanya melayani hidangan sesuai pesanan. Namun, autentik rasa kuliner satu ini sangat dinantikan penggemarnya.

Kata ‘ase’ ternyata singkatan dari asinan dan semur. Bubur yang disajikan lebih kental jika dibandingkan dengan bubur pada umumnya. “Bubur ini dibuat kental karena akan perpadu semur berkuah dengan asinan sehingga memang harus dibuat agak kental agar tak cepat mencair,” kata penerus Bu Neh, Muhammad Nasrullah, yang ditemui di stan Festival Jajanan Bango (FJB) bertajuk Kelezatan Asli, Lintas Generasi, di Senayan, Jakarta, Sabtu (16/3).

Di atas bubur itu, Nasrullah membubuhkan asinan yang terdiri atas sawi, tauge, mentimun, dan lobak yang sebelumnya direndam dalam cuka dan air garam. Lalu, ia menambahkan semur berwarna hitam, berisikan potongan daging sapi dan tahu. Semakin lengkap dengan taburan kacang goreng dan tiga jenis kerupuk.

“Kerupuknya ada tiga jenis, kerupuk kuning, merah, dan emping yang bisa disesuaikan dengan selera pembeli. Namun, porsi normalnya sudah termasuk tiga jenis kerupuk itu,” lanjutnya.

Dari segi rasa, makanan ini memiliki rasa yang komplet. Kesegaran dan asin dari asinan, gurih dan manisnya semur, serta sedikit rasa asam menjadikan rasa yang unik.


Serbasapi

Potongan kikil dari kulit sapi bagian hidung dan kaki yang sudah dimarinasi dengan kunyit dan bawang putih itu digoreng dan disajikan dengan potongan lontong. Atasnya disiram saus kacang kental yang ditambahkan penyedap alami berupa bawang goreng dan gorengan tempe.

Saat disantap, rasa manis langsung menyeruak ke dalam mulut. Potongan kikilnya kenyal, tapi tidak keras. Tidak perlu banyak tenaga untuk mengigitnya, pasalnya cungkring Pak Jumat dibuat ringan di mulut dengan proses perebusan yang cukup lama. “Kuncinya kikilnya harus direbus lama, yakni sekitar 7 jam agar empuk dan tak amis,” kata Deden, generasi kedua dari Pak Jumat.

Seperti hidangan sebelumnya, cungkringan berasal dari bahan utamanya, yakni cingur atau hidung sapi dan garing yang didapatkan dari gorengan tempe. Kudapan itu sebenarnya merupakan street food legendaris Bogor yang ada sejak 1975.

Menurut Deden, bisnis turuntemurun itu tetap mempertahankan keasliannya. Seperti dijajahkan secara dipikul berkeliling Bogor, teruma Jalan Surya Kencana dan dijual Rp15ribu per porsi. 


Satai Kuah

Kudapan selanjutnya yang cukup menarik perhatian ialah satai kuah. Ya, jika biasanya kudapan ini dikenal dengan potongan daging yang ditusuk lalu dipanggang di atas bara api hingga menciptakan kesan ga ring, kali ini mendapatkan tambahan kuah dari soto tangkar. Tidak salah, kuliner ini menggabungkan satai sapi dengan soto tangkar khas Betawi yang kental dan gurih. 

Potongan satai dari tusukan yang sebelumnya sudah dibakar itu dimasukkan pada mangkuk yang sebelumnya telah diberi irisan bawang, tomat, perasan jeruk beserta campuran babat, daging, dan kikil. Aroma dan tekstur daging yang garing hasil bakaran itu pun berpadu dengan dengan kuah siram kuah kuning khas tangkar.

Sebenarnya, cara menikmatinya ada dua. Selain disantap bersamaan, Anda bisa menikmati satai secara terpisah. Cukup celupkan ujung satai ke kuah sedikit demi sedikit. Konsistensi bisnis kuliner keluarga ini pun dijaga, meskipun Pak Diding telah meninggal.

Anak-anaknya bertekad mengembangkan usaha bapaknya ke beberapa tempat dengan konsep yang sederhana. Bahkan, Sate Kuah Pak H Diding mengharumkan n ama Indonesia di tengah perhelatan kuliner internasional World Street Food Congress di Singapura pada 2013. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More