Bangun Chemistry dengan Kuda

Penulis: Suryani Wandari Putri Pada: Minggu, 24 Mar 2019, 00:20 WIB Weekend
Bangun Chemistry dengan Kuda

MI/Briyan B Hendro

IA menunggang kuda dengan posisi kaki menempel di pedal, kedua tangannya menarik tali kendali, dan tubuhnya condong ke depan bersiap melompati rintangan setinggi 100 sentimeter (cm). Muhammad Akbar Kurniawan berhasil melompati rintangan tersebut dan mendapatkan nilai tertinggi jika dibandingkan dengan lima atlet lainnya.

Hasilnya, lelaki berusia 15 tahun itu naik podium pada kejuaraan bergengsi Longines Master dalam kelas HKJC Asian Junior Challenge 2019 di Hong Kong, 16 Februari silam. Longines Master merupakan seri kejuaraan equestrian dunia yang digelar tiga kali setahun, yaitu di Hong Kong, New York, Amerika Serikat, dan Paris, Prancis. Bagaimana cerita keberhasilan remaja yang akrab disapa Aan? Yuk ikuti bincang Muda dengan Aan di Kantor Media Indonesia, Jakarta, Rabu (27/2).

Bagaimana awalnya bertanding di Longines Master?
Aku ikut Longines Master ini karena aku menang di Kejuaraan Junior Asia-Australia di Taipei dan Juara 1 tingkat Asia di Thailand. Atas keberhasilan itu, pihak Longines Master mengundang saya bertanding di Hong Kong. Bersyukur saya bisa main, apalagi bisa menang di antara atlet-atlet berpengalaman. Mereka sering ikut kejuaraan internasional dan rata-rata usia mereka 17-18 tahun, sedangkan aku baru 15 tahun, aku atlet yang paling muda.

Menjadi paling muda, ada ketakutan kah?
Ya, grogi pasti ada, tapi kalah dengan rasa senang karena membawa nama Indonesia di kancah internasional. Jadi, dijalanin aja, rileks, dan yang penting fokus.

Apa yang membuat kamu tertarik berkuda?
Sejak kecil aku senang hewan kuda. Ayah suka ajak aku ke tempat wisata yang ada kudanya dan aku selau naik. Lama-lama tertarik, bahkan kuda menjadi permintaanku sebagai syarat bersedia dikhitan. Diumur 9 tahun aku mulai belajar menunggangi kuda ini.

Apa kamu lahir dari kelurga yang hobi berkuda juga?
Tidak sih. Kakak laki-lakiku senang berkuda setelah aku mulai duluan, selisih 6 bulan. Kami berjuang menjadi atlet sama-sama juga. Beda  dengan kakak pertamaku, dia tahu mau ikut berkuda, sekarang ia yang malah banyak membantuku mengurus pertandingan, sudah seperti manajer. Ayahku Fatrchul Anas, kini punya riding school yang memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar equestrian atau berkuda.

Bagaimana skema latihanmu?
Aku harus menjaga pola makan sehat, tak jajan sembarangan dan rutin olahraga seperti lari. Kalau latihan bersama kudanya, aku latihan seminggu dua kali. Sekali latihan itu aku bisa naikin enam kuda dengan karakter berbeda. Cara ini agar saat pertandingan internasional saya enggak kaget dan cepat memahami karakter kuda. Di kelas junior, apalagi di internasional, kita tidak bisa bawa kuda sendiri atau pilih kuda. Itu sudah disiapkan panitia.

Apakah itu menjadi tantangan terbesarmu?
Ya, bisa dibilang begitu. Kita harus punya cara bagaimana kudanya bisa nurut sama kita. Caranya dengan membuatnya jinak, nyaman berada sama kita. Intinya harus bisa kendaliin kudanya, bukan kita yang dikendaliin.

Ada ritual khusus sebelum bertanding?
Pasti. Karena olahraga berkuda itu berpasangan, kuda itu bukan alat, melainkan hewan bernyawa yang memiliki perasaan. Kalau olahraga lain kan pakai alat, misalnya, badminton pakai raket. Olahraga ini, kuda juga atlet. Untuk menciptakan chemistry perlu upaya dan waktu. Misalnya di Hong Kong dan Taiwan, panitia memberikan waktu 30 menit di kandang untuk mengenali kuda, naikin kuda, atau ngasih makanan.

Apa kamu punya kuda sendiri?
Ya, saya punya kurang lebih 10 ekor kuda dengan karakter yang berbeda, bagus untuk melatih kita. Aku sering rawat mereka, memandikan mereka dua kali seminggu, disikat karena alas kandangnya pakai serbuk kayu. Selain membersihkan serbuk kayu, sekaligus merawat bulunya. 

Apa target selanjutya?
Terus ngikutin pertandingan internasional lainnya, masih ada rangkaian pertandingan Longines Master di New York dan Paris pada April mendatang. Aku juga berharap bisa ikutan Olympic tahun ini. Yang pasti, ingin kembali mengibarkan bendera Indonesia di luar negeri.

Ada pesan untuk anak-anak yang ingin berlatih equestrian?
Kuncinya satu, yakni harus berani. Jika tak punya nyali, nanti malah kudanya yang akan mengendalikan kita. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More