Garin Nugroho Pesta Pora di Negara Melodrama

Penulis: Galih Agus Saputra Pada: Sabtu, 23 Mar 2019, 23:00 WIB Weekend
Garin Nugroho Pesta Pora di Negara Melodrama

MI/Galih Agus Saputra

SUTRADARA andal Tanah Air, Garin Nugroho, tampak girang betul pada Selasa (19/3) malam itu. Orang di kanan-kirinya juga tak kalah bahagia raut wajahnya dan kelihatan siap dengan alat musiknya masing-masing. Irwansyah Harahap tampak duduk tegap sambil menenteng gitar bolongnya. 

Di seberangnya, ada Joko S Gombloh yang kelihatan besar dengan gitar basnya. Sementara itu, di depan mereka ada empat penyanyi, Rithaony Hutajulu, Mia Ismi, Cornelia Agatha, dan Asti Aletta. Tidak ketinggalan, Tommy F Awuy juga tampak sudah siap dengan lembar­an kertas berisi lirik lagu di depannya. 

Saat itu, Garin memang sedang punya hajat. Buku barunya, Negara Melodrama terbit dan pada kesempatan ini ia mencoba memaparkan isinya. Yang menarik, gaya pemaparan Garin kali ini boleh dibilang lebih mirip pembawa acara dangdut. Ia mondar-mandir ke sana kemari sambil membawa kertas panduan suara dan sesekali mendongeng di depan penontonnya.

“Ya, ketimbang diskusi, serius-serius, mending ka­yak gini aja peluncurannya,” katanya, saat ditemui pascapeluncuran buku Negara Melodrama, di Bentara Budaya Jakarta, Tanah Abang, Jakarta.

Selama ini Garin memang dikenal sebagai sineas kondang di Indonesia. Meski demikian, ia ternyata selalu punya cara untuk menyampaikan gagasannya. Barangkali, gaya Garin kali ini juga bisa dibilang sebagai gaya bertutur secara multimedia. 
Pasalnya, wawasan Garin yang selama ini telah ia dokumentasikan lewat sejumlah esai populer, disuguhkan kembali kepada pembaca. Tidak hanya lewat buku Negara Melodrama, tapi juga lewat dongeng yang sesekali diselingi lantunan tembang kenangan yang dibawakan kawan-kawannya.

Ada 14 lagu yang dinyanyikan secara bergantian oleh Rithaony, Mia, Cornelia, Asti, dan Tommy malam itu. Bukan Garin namanya kalau tidak menandai zaman karena belasan lagu yang dibawakan malam itu, terdiri atas tembang kenangan yang mulai lahir sejak 1950-an. Misalnya, Fatwa Pujangga karya Said Effendi, Bis Sekolah dari Koes Plus, lagu duet Bing Slamet dan Benyamin Sueb, Nonton bioskop, serta Mandi Madu karya Elvy Sukaesih, hingga Badai Pasti Berlalu karya Eros Djarot.


Ruang refleksi

Bagi Garin, lahir dan popu­lernya sebuah lagu tampaknya selalu menjadi sebuah produk monumental. Lagu selalu menjadi pertanda zaman yang mana lagu tersebut dikenal. Lini masa Indonesia yang selama ini telah dikenal Garin, tampaknya telah ia soroti menggunakan kajian budaya–melodrama.

Lebih lanjut, Garin mengatakan bahwa melodrama sesungguhnya sudah hidup sejak adanya sejarah musik, yaitu pada abad ke-7 hingga kemudian berkembang menjadi sejarah sandiwara, televisi, bahkan telah menjadi cara pandang masyarakat sejak abad ke-19. Setelah itu, melodrama semakin berkembang, tidak hanya untuk pertunjukan, tetapi juga telah menjadi cara masyarakat mengonsumsi segalanya, termasuk cara mengonsumsi politik.

Oleh karena itu, buku Negara Melodrama kemudian Garin persembahkan khusus untuk menyambut tahun politik di Indonesia, khususnya pada 2019. Sejumlah kumpulan esai di dalamnya juga diharapkan dapat menjadi pesan edukasi atas situasi kebangsaan, sekaligus menjadi bahan refleksi atas isu sosial, budaya, dan politik dewasa ini.

Rumus melodrama, menurut Garin, biasanya memiliki tokoh hitam-putih dan selalu ada konflik. Itu semua lantas dikemas secara terus-menerus agar menarik perhatian dan jika ditambah kehadiran ­media sosial pada akhirnya akan memunculkan masyarakat penggemar. Suasana dengan era demikian, selanjutnya akan dikenal dengan era ­identitas, tidak mengenal minoritas dan mayoritas, bahkan tidak mengenal urusan kelompok.

“Dan yang tidak kalah penting, melodrama selalu dipenuhi nasihat, pesan moral, dengan nuansa kebersamaan. Oleh karena itu, malam ini mari kita nyanyikan bersama-sama lagu-lagu melodrama,” seru Garin, kala membuka acara.

Refleksi atas situasi kebangsaan itu mula-mula dibuka Garin menggunakan lagu Bunga Seroja. Menurutnya, lagu yang juga diciptakan Said Effendi itu merepresentasikan asal muasal berdirinya Indonesia atau yang sebelumnya dikenal dengan Melayu.

Bahasa atau kata Melayu, menurut Garin, juga yang pertama kali dikenal di seluruh dunia, yang mana kala itu masih ada raja-raja atau pada abad ke-19. Sementara itu, di penghujung acara, lagu yang disuguhkan Garin dan kawan-kawan ialah lagu masa kini, yang banyak digandrungi generasi milenial. Lagu itu berjudul Selow karya Wahyu Ramdani yang belakangan cukup populer dan sempat dinyanyikan Via Vallen. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More