Ma'ruf Amin Optimistis Menang 70% di Bengkulu

Penulis: Marliansyah Pada: Rabu, 20 Mar 2019, 20:25 WIB Nusantara
Ma

Ist

OPTIMISME kemenangan 70% ditiupkan calon Wakil Presiden 01 KH Ma'ruf Amin dari kanal suara Bengkulu. Formulasi terbaik sudah disiapkan untuk mewujudkan target tersebut. Kiai Ma'ruf juga tetap mengingatkan akar rumput (grass root) untuk mengutamakan keutuhan bangsa dan negara.

Tidak ada waktu jeda bagi Kiai Ma'ruf. Usai kembali dari safari politik di Jawa Timur, ia sudah berada di Bengkulu. Kehadiran Kiai Ma'ruf di Bumi Rafflesia untuk menguatkan suara dukungan, Rabu (20/3).

Berada di Bengkulu, KMA menghadiri Dialog Kerukunan Umat Beragama di Grage Hotel, Bengkulu. Ia juga bergabung dalam agenda Seminar Ekonomi Syariah.

Saat bertemu dengan publik Bengkulu, KMA menyampaikan optimismenya. pasangan calon 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin yakin bisa menang 70% di Bengkulu dalam Pemilihan Umum Presiden 2019, 17 April nanti.

"Kami yakin akan menang 70% di Bengkulu. Masyarakat Bengkulu ini luar biasa. Kami sudah siapkan strategi untuk bisa menang di Bengkulu," ungkap KMA, Rabu (20/3).

Untuk mewujudkan target tersebut, konsep kampanye door to door dinilainya tetap efektif. Apalagi, KMA sudah mengenal betul karakter pemilih di wilayah Bengkulu.

"Kami akan lakukan berbagai cara untuk menyampaikan program dan memberi pemahaman pada masyarakat. Mendatangi mereka secara langsung sangat efektif. Kami bisa lebih tegas karena karakter masyarakat Sumatra khas," jelasnya.
 

Baca juga: Di Bengkulu, Kiai Ma'ruf Serukan Kerukunan Umat Beragama


Kiai Ma'ruf menegaskan, kerja besar sudah dilakukan oleh Jokowi di periode sebelumnya. Karya nyata Jokowi ini bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Langkah besar Jokowi tersebut pun menjadi pondasi bagi kemajuan Indonesia. Dan, peluang untuk meneruskan kerja nyata Jokowi terbuka saat ini.

"Apa yang sudah dilakukan Pak Jokowi harus dihargai. Sekaranglah momentum untuk melanjutkannya," tegasnya.

Namun, terlepas dari apa pun, Kiai Ma'ruf tetap mengingatkan elemen bangsa untuk tetap bersatu. Mengindari konflik. Tidak terpecah oleh perbedaan pandangan selama proses Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif 2019.

"Kita harus menjaga dan merawat keutuhan bangsa ini. Konflik harus dicegah. Paham-paham intoleran itu harus dilawan, siapa pun yang meniupkannya," ujarnya.

Sebagai negarawan, Kiai Ma'ruf mengingatkan 4 elemen yang harus dijaga dalam membina kerukunan. Hal ini sebagai jaminan solidnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pertama, kata dia, ialah bingkai politik.

Kiai Ma'ruf menjelaskan, Indonesia memiliki bingkai politik yang menyatukan seluruh bangsa dan ada kerukunan beragama di dalamnya. Kerukunan ini menjadi elemen penting bagi sebuah negara.

"Stabilitas keamanan negara harus diutamakan. Salah satu kuncinya itu adalah kerukunan antar umat beragama. Untuk itu, potensi konflik-konflik antarumat beragama dalam masyarakat harus dicegah," kata kiai asal Tangerang, Banten, ini.

Ia pun memberi ilustrasi. Indonesia pernah mengalami kerusuhan yang disebabkan sentimen agama, seperti di Poso dan Ambon. Hal ini tentu menjadi pelajaran berharga. Tujuannya agar kejadian serupa tidak lagi terulang.

Adapun bingkai lainnya, lanjut dia, ialah yuridis. Kiai Ma'ruf menerangkan, harus ada upaya untuk menangkal masuknya ideologi yang melahirkan kelompok intoleran.

"Sikap intoleran yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 harus ditangkal. Soal khilafah itu tidak usah petantang-petenteng. Proporsial saja yang tidak menyalahi kesepakatan. Kalau orang sudah enyalahi kesepakatan, NKRI bisa bubar. Hal ini harus dicegah," ucap Ketua Majelis Ulama Indonesia itu.

Selanjutnya, Mustasyar PBNU itu menyebutkan bingkai berikutnya adalah kearifan lokal. Menurut dia, kearifan lokal tidak bisa diganggu. Sebab, hal ini menyentuh langsung pada budaya dan kepercayaan warga setempat.

Sedangkan bingkai keempat ialah teologi. Menurut putra Abuya Amin ini, setiap masyarakat harus mengetahui batasan-batasan untuk tidak melukai umat yang berbeda keyakinan.

"Umat beragama harus membangun teologi kerukunan. Jangan teologi konflik," tuturnya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More