Jejak Generasi Z sebagai Pelestari Kebudayaan dari Panti Asuhan

Penulis: Liliek Dharmawan Pada: Rabu, 20 Mar 2019, 19:00 WIB Humaniora
Jejak Generasi Z sebagai Pelestari Kebudayaan dari Panti Asuhan

MI/Liliek Dharmawan

ALUNAN suara gamelan terdengar dari ruangan seluas 7 meter x 13 meter. Letaknya di bagian tengah Panti Asuhan Dharmo Yuwono di Purwokerto, Jawa Tengah.

Anak-anak usia sekolah dasar terlihat menggoyang-goyangkan tangan dan kakinya, mengikuti musik gamelan yang terdengar dari 'tape recorder'. Seorang perempuan setengah baya tampak serius melihat gerakan-gerakan para siswanya sambil sesekali mengikuti gerakan mereka.

Para siswa generasi Z itu dengan tekun mengikuti apa yang diajarkan oleh guru mereka. Raut wajah mereka tampak gembira.

"Saya senang bisa mengikuti latihan menari di sini," ungkap salah seorang siswa kelas 2 SD asal Purwokerto Barat, Banyumas, Zafira, saat ditemui Media Indonesia, belum lama ini.

Zafira bersama dengan puluhan siswa lainnya tengah diajari dasar-dasar menari. Ia sudah dua tahun mengikuti kursus menari di tempat tersebut, sehingga sudah mulai bisa dasar-dasar menari dan mulai menginjak pengenalan tarian klasik Banyumasan seperti Gambyong Banyumas dan Sri Rezeki.

Siswa lainnya, Lili, mengatakan, kalau dirinya baru setahun di Sanggar Tari Dharmo Yuwono, sehingga baru masuk tahapan pengenalan dasar tarian.

"Kalau saya masih diajari tarian kijang, ula-ula dan lainnya," katanya.  

Warsim, 62, seorang kakek yang menunggui cucunya latihan menari, mengatakan, sejak dulu keluarganya mencintai seni.

"Sehingga begitu masuk ke SD, langsung saya daftarkan ke sini. Keluarga mengharapkan dia nantinya mahir menari. Sebetulnya ibunya bisa menari, tetapi karena kerja, tidak punya waktu untuk mengajari. Jadi, lebih memilih untuk belajar di sanggar saja," jelasnya.

Apalagi, biaya kursus di sanggar tari setempat tidak terlalu mahal. Sebab, setiap bulan hanya ditarik Rp75 ribu, Rp25 ribu di antaranya digunakan untuk tabungan pada pentas akhir tahun yang diselenggarakan oleh sanggar. Setiap pekannya, kursus menari dua kali, jadi selama sebulan ada delapan kali latihan. Kalau hanya Rp50 ribu, berarti sekali pertemuan hanya Rp6 ribu lebih.

"Masih terjangkau biayanya, tidak membebani orangtua," ujarnya.

Guru tari di Sanggar Tari Dharmo Yuwono, Sukati, mengatakan, pada awal anak masuk, para siswa tidak langsung diberikan materi tarian yang rumit.

"Mereka dilatih teknik dasar tarian terlebih dahulu supaya gerakannya luwes. Baru nanti masuk pada tarian yang menyenangkan, seperti Tari Kijang dan Ula-ula. Karena gerak tarinya mudah, maka anak-anak bakal bersemangat. Yang penting anak-anak suka menari terlebih dahulu," ungkapnya.

Hingga kini, masyarakat di Banyumas cukup antusias mengikutsertakan anaknya kursus menari. Namun, karena ruangannya terbatas, maka tidak banyak yang dapat ditampung. Dalam latihan menari, kata Sukati, tak sekadar bagaimana mempersiapkan siswa untuk mahir dalam menari, melainkan juga sebetulnya mendidik mereka untuk sabar, tekun, dan disiplin.

"Dari dulunya nol pengetahuan, satu per satu pelajaran masuk. Mereka harus sabar dan tekun agar bisa mengikuti gerakan-gerakan yang
diajarkan. Juga kedisplinan yang diwujudkan dalam gerakan. Ini sebetulnya juga merupakan bagian dari pendidikan karakter," ujarnya.

Ketua Sanggar Tari Dharmo Yuwono, Carlan, menambahkan, karena sanggar itu berada di panti asuhan, maka penghuni Panti Asuhan Dharmo Yuwono secara otomatis juga diikutsertakan sebagai siswa.

"Bedanya, mereka tidak ditarik biaya. Sebagai penghuni panti asuhan tentu saja berasal dari kalangan tidak mampu. Mereka mengikuti kursus begitu masuk ke panti. Apalagi, mereka juga disiapkan menjadi penari, khususnya kalau ada lomba antarpanti asuhan," ungkap Carlan.


Baca juga: Kemensos Kirim Bantuan dan Santunan untuk Korban Banjir Jayapura


Carlan mengatakan, keberadaan sanggar tari lebih muda jika dibandingkan dengan usia panti. Panti asuhan dibangun zaman Bung Karno yakni pada 1955. Sedangkan sanggar tari mulai dibentuk pada 1979. Sanggar tari tidak membangun ruang sendiri, melainkan memakai ruang aula panti asuhan.

"Ruangan itulah menjadi saksi bagi munculnya generasi-generasi muda yang mumpuni dalam tari. Jumlahnya telah mencapai ribuan. Karena
tiap tahunnya ada kira-kira 20-35 siswa yang lulus dari sanggar. Kurikulum pendidikan tari membutuhkah waktu lima tahun, mulai dari jenjang dasar hingga terampil," jelasnya.

Diungkapkan oleh Carlan, jika mengikuti penuh sampai lima tahun, maka siswa mampu menguasai 25-30 jenis tarian, mulai yang sederhana hingga yang rumit.

"Pada awal pelajaran, biasanya siswa diajari tarian sederhana yang menyenangkan. Kalau langsung tarian klasik, saya jamin pasti langsung bubar. Oleh karena itu, pada kelas dasar atau setahun pertama, yang diajarkan adalah tarian sederhana. Agar mereka mencintai tarian dulu dan mereka bangga dapat menari. Baru kemudian menginjak ke tarian klasik. Salah satu yang utama dan wajib dikuasai adalah Gambyong Banyumasan. Inilah tarian khas Banyumas. Ada juga tarian dari Solo dan Yogyakarta seperti Gambyong Parianom, Gambyong Pangkur, Golek Manis, dan lainnya. Jika sampai ke tingkat terampil, maka siswa diajari tarian dari daerah lain seperti Bali, Sunda, Betawi dan Jawa Timuran. Ini penting, supaya mereka juga mengenal kekayaan tarian daerah lain," kata Carlan.

Guna memotivasi siswa sanggar tari, setiap tahunnya Sanggar Tari Dharmo Yuwono menggelar pentas yang dibiayai secara mandiri.

"Uangnya berasal dari tabungan para siswa sanggar. Setiap bulan, mereka bayar Rp75 ribu, rinciannya masuk ke sanggar hanya Rp50 ribu dan Rp25 ribu adalah tabungan untuk pementasan. Sebab, biayanya tidak sedikit. Misalnya pada 2018 lalu, menelan anggaran hingga Rp60 juta. Pergelaran ini penting, agar para siswa semakin bersemangat dalam menari," ungkapnya.


Baca juga: Akun Medsos Akan Jadi Syarat Melamar Kerja


Generasi Z
Anak-anak didik Sanggar Dharmo Yuwono kerap mendominasi berbagai lomba tari terutama di tingkat kabupaten. Beberapa waktu lalu, ada festival tari dan ternyata hampir seluruh juara diborong oleh anak didik dari Dharmo Yuwono yang mewakili sekolahnya masing-masing.

"Pergelaran dan lomba menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian kebudayaan khususnya kesenian tari. Paling utama adalah bagaimana agar keberlanjutan generasi para penar tetap terjaga dan tarian terutama yang khas dan klasik tidak hilang," katanya.

Peran guru juga sangat penting. Padahal, kalau dihitung secara nominal, honor guru tari di Dharmo Yuwono tidaklah besar. Lima guru tari hanya diberi honor Rp500 ribu setiap bulannya.

"Sejak awal saya menekankan, kalau mereka modal paling utama adalah keikhlasan. Karena di sini adalah lembaga sosial. Soal rezeki sudah ada yang mengatur. Kini, honornya Rp500 ribu. Beberapa waktu lalu, sewaktu masih Rp200 ribu, mereka juga ikhlas menerima. Dari lima guru yang mengajar, ada yang profesinya guru sekolah dan perias. Mereka telah mengajar tari sejak zaman masih gadis dulu sampai sekarang," paparnya.

Para guru tari menyadari, jika pendapatan dari bayaran para siswa yang mengikuti kursus menari, sebagian di antaranya dipakai membantu operasional Panti Asuhan Dharmo Yuwono.

"Alhamdulillah, panti asuhan di sini masih tetap berjalan dan kini menampung 50 anak. Sebagai lembaga sosial, panti memang mendapatkan bantuan dari mana-mana. Tetapi, kami juga memiliki sanggar tari yang sedikit banyak memberikan andil untuk operasional panti," katanya.

Dari ruangan sederhana yang saban sore terdengar alunan musik gamelan itu lah, para pelestari kebudayaan khususnya tarian tercipta. Mereka adalah generasi postmillenial atau Generasi Z yang bakal menjadi pelaku dan saksi sejarah bagaimana kesenian klasik tetap eksis dalam mengarungi zaman. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More