Netizen Negara Ini Rela Bayar untuk Pujian

Penulis: Abdillah Marzuqi Pada: Rabu, 20 Mar 2019, 17:00 WIB Weekend
Netizen Negara Ini Rela Bayar untuk Pujian

Thinkstock

Perkembangan teknologi internet yang semakin pesat memunculkan banyak perilaku baru, termasuk fenomena ujaran kebencian yang membanjiri media sosial.

Merespons tren ujaran kebencian di media sosial, netizen di Tingkok membentuk grup pujian dalam sebuah grup percakapan berbasis aplikasi seperti WeChat dan QQ. Dalam grup itu hanya ada pujian untuk segala permasalahan yang dilontarkan. Grup itu juga menjadi alternatif bagi netizen yang muak dengan ujaran kebencian di media sosial.

Namun, bergabung dalam grup itu ternyata tidak gratis. Netizen harus merogoh kocek mereka agar bisa bergabung. Dalam grup itu, netizen akan mendapat pujian dari anggota lain yang notabene bayaran. Bayaran pemuji itupun cukup besar. Salah seorang admin grup bisa mendapatkan 15 yuan atau 32 ribu rupiah selama tiga menit, atau 25 yuan (Rp53.000) untuk memberikan pujian selama lima menit.

Salah satu grup percakapan itu dikenal dengan nama kuakuaqun (kelompok memuji). Bagaimana cara kerjanya? Netizen mencari grup pemuji di situs e-commerce Taobao. Di situ terdapat beberapa kelompok dengan harga berbeda, mulai dari sekitar 35 yuan (Rp74.000). Setelah transaksi selesai, penjual akan mengundang untuk bergabung dalam grup di WeChat. Biasanya anggota grup itu juga cukup besar, bisa mencapai 500 orang.

"Ini luar biasa! Sekarang kamu punya lebih banyak waktu luang. Ambil kesempatan ini untuk menikmati waktumu. Seseorang bisa bahagia meski sendiri. Anda memiliki kami di sini!" begitulah salah satu contoh balasan yang berisi pujian.

"Kami tidak memuji diri sendiri. Kami tidak menjadi pelit dengan memuji orang lain," ujar salah satu admin bernama Abelard seperti dilansir dari CNBC (20/3).

Perilaku itu muncul akibat dari dampak buruk media sosial. Banyak konten media sosial dianggap bisa berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Tren grup dengan pujian berbayar di WeChat mulai muncul setahun lalu. Kemunculan itu sebagai respons atas adanya grup caci maki pada saat yang sama. Pengguna yang bergabung dalam kelompok kutukan akan saling menghina.

"Tujuan awal grup ini adalah untuk membuat kita belajar memuji orang lain dan menerima pujian orang lain dengan percaya diri. Di sini kita bisa menghadapi segalanya. Kita menggunakan hati untuk menguatkan dan mendukung orang lain," tambahnya.

Beda grup, beda cara main. Masing-masing grup punya cara kerja tersediri, misalnya, salah satu grup ada yang mengizinkan pengguna untuk mengundang pasangan maupun teman. Pengguna juga bisa memesan pujian khusus untuk mereka. Pengguna juga bisa menginformasikan hal khusus seperti detail hubungan dengan seseorang, hobi, maupun ketidaksukaan.

Meski demikian, tidak semua grup pujian menarik bayaran, ada pula grup pujian yang gratis. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More