Golput bakal Rugikan Jokowi-Amin

Penulis: M. Ilham Ramadhan Avisena Pada: Rabu, 20 Mar 2019, 10:10 WIB Politik dan Hukum
Golput bakal Rugikan Jokowi-Amin

MI/MOHAMAD IRFAN

KURANG dari sebulan jelang pelaksanaan Pemilu Serentak 17 April 2019, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mendapati temuan kenaikan jumlah golput dalam tiap pesta demokrasi.

"Data KPU menunjukkan dalam tiga kali pemilu terakhir jumlah golput cukup variatif. Pada Pemilu 2004, tingkat golput ada di angka 23,3%, lalu pada 2009 jumlah golput sebanyak 27,45% dan 2014 angka mereka yang golput sebanyak 30,42%," ungkap peneliti LSI, Ikrama Masloman, dalam konferensi pers bertema Siapa dirugikan golput: Jokowi atau Prabowo?, di Jakarta, kemarin.

Survei tersebut dilakukan pada 18-25 Februari 2019 dengan menggunakan metode random sampling.

Jumlah responden pada survei itu sebanyak 1.200 orang dengan margin of error 2,9%.

LSI membagi masyarakat yang golput ke dalam enam segmentasi pemilih.

Segmentasi dikategorikan berdasarkan pemilih minoritas (nonmuslim), wong cilik, milenial, emak emak, terpelajar, dan pemilih muslim.

"Sebagai contoh Jokowi-Ma'ruf unggul telak di kantong suara wong cilik, di mana 63,7% responden menyatakan mendukung Jokowi-Ma'ruf," ujar Ikrama .

Namun, menurut Ikrama, dari enam kategori kantong suara itu, pasangan Jokowi-Amin menjadi yang dirugikan apabila tidak mampu menekan jumlah golput. Kecuali di pemilih terpelajar, petahana unggul di lima segmentasi lainnya.

"Dari lima segmentasi, Jokowi-Amin bakal unggul. Namun, jika pemilihnya ternyata banyak golput, pasangan 01 akan dirugikan," ujarnya.

Ia mencontohkan di segmen minoritas dengan Jokowi-Amin sudah unggul 68,7%, yakni 80,3% berbanding 11,6%.

Namun, jika banyak terjadi golput, pemilih Jokowi akan berkurang.

"Alasan golput di pemilih minoritas yaitu karena libur panjang dan mereka memilih berlibur," ujarnya.

Selain itu, imbuhnya, pasangan 01 juga harus mewaspadai informasi mengenai hasil survei. Walaupun sudah terlihat lebih unggul, justru hasil survei membuat antusiasme pemilih untuk mencoblos berkurang.

"Kurangnya antusiasme datang ke TPS karena merasa Jokowi-Amin sudah menang sehingga merasa tidak penting untuk datang ke TPS. Ia merasa satu suara tidak akan berpengaruh, tapi bagaimana bila 50 juta orang berpikir demikian? Tentu akan sangat merugikan kubu Jokowi-Amin," paparnya.

Sebab golput
Selain libur panjang, Ikrama menyebutkan sejumlah alasan yang menyebabkan tetap tingginya angka golput.

Banyak pemilih yang tidak terinformasi dengan baik terkait pelaksanaan pemilu.

Selain itu, pemilih yang memilih bekerja di hari pencoblosan. Belum lagi masalah administrasi yang membuat pemilih gagal menyalurkan suara.

Di samping itu, tambahnya, kejenuhan masyarakat akan dua calon yang sama seperti Pemilu 2014 juga memicu tingginya angka golput. Masyarakat juga dinilai tidak menyukai politik identitas hingga menyebabkan mereka jadi golput.

"Selain maasih banyak juga masyarakat yang tidak terinformasi, resitensi dari politik identitas yang ditebar kedua calon membuat pemilih jadi tidak memilih. Kami menduga, dengan berbagai alasan itu, persentase golput juga akan naik di pilpres kali ini," jelas Ikrama.

Meski demikian, Ikrama menyatakan, dengan tingkat partisipasi masyarakat yang berada di angka 70%, kondisi demokrasi terkait dengan pemilihan langsung masih cenderung aman. "Sebanyak 70% itu relatif aman. Di negara demokrasi seperti Amerika Serikat bahkan angka partisipasinya lebih kecil," tukasnya.

Karena itu, imbuhnya, untuk menekan angka golput, kedua pasangan calon harus mengajak masyarakat mau berpartisipasi dalam pemilu April mendatang. (P-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More