Jangan sampai Cahaya itu Memudar

Penulis: Kandida Tristyani Mahasiswi Fikom IISIP Jakarta Pada: Senin, 18 Mar 2019, 09:50 WIB Opini
Jangan sampai Cahaya itu Memudar

MI/amir MR

CAHAYA anak bangsa pelan tapi pasti mulai memudar. Penyebabnya, banyak dari mereka terpaksa menikmati kerasnya dunia. Bahkan, di antaranya malah kecanduan narkoba dan barang terlarang lainnya. Belum lagi banyak yang kecanduan gawai sampai terkadang melupakan kewajiban sebagai anak bangsa yang punya tanggung jawab.

Dunia seperti sudah menjadi milik mereka dan tak lagi peduli dengan lingkungan sekitar. Itulah bahaya laten yang bila dibiarkan sangat potensial merusak kehidupan kita.

Ada hak kita seperti mendapatkan dan mencari informasi sebanyak-banyaknya, mengungkapkan atau menyampaikan pendapat dan asumsi, mengembangkan kreativitas dan imajinasi yang dapat membangun bangsa, serta aktivitas lainnya. Di sisi lain, jangan lupa ada kewajiban yang tak boleh dilupakan, yaitu menjaga nama baik bangsa dan negara serta menjaga lingkungan dan masyarakat.

Apalagi di tahun politik saat ini, pintar-pintarlah sebagai anak bangsa menggunakan hak serta kewajiban. Jangan sampai kita lalai dalam mengunakannya. Pemerintah sudah menyiapkan sarana dan prasarana. Bersikap kritis merupakan keharusan, tapi jangan malah menyebarkan berita bohong.

Saat inilah kesempatan untuk kritis dan mendalami informasi secara faktual tentang calon pemimpin bangsa. Seberapa kritis dan cerdas dalam menanggapi situasi dan kondisi saat ini, merupakan kewajiban yang tak boleh dianggap sepele.

Jangan sampai cahaya itu meredup hanya karena kita apatis terhadap persoalan bangsa. Siapa yang akan menggantikan para pemimpin itu ke depannya, kalau kita justru melalaikan kewajiban. Marilah coba berkaca diri, sudahkah kita berkontribusi untuk bangsa dan negara? Sudahkah menggunakan hak dan kewajiban secara bijak?

Kandida Tristyani

Mahasiswi Fikom IISIP Jakarta

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More