Tren Soal Teroris Perempuan Didalami

Penulis: Rfaldi Putra Irianto Pada: Sabtu, 16 Mar 2019, 06:20 WIB Politik dan Hukum
Tren Soal Teroris Perempuan Didalami

Karopenmas Polri Dedi Prasetyo -- ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menunjukkan lokasi dari kasus meledaknya bom di Sibolga, di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (13/3/2019).

TERORIS di Indonesia sudah menjadikan perempuan dan anakanak sebagai senjata. Dalam beberapa kasus, anakanak dan perempuan terlibat dalam aksi terorisme.

“Pola-pola ini masih dikaji Densus dan kepolisian. Modelmodel ini mereka tiru dari IS seperti Afghanistan, Irak, dan Suriah. Inspirasi dari sana,” kata Karopenmas Polri Dedi Prasetyo, kemarin.

Dedi mengatakan pihaknya secara optimal telah melakukan pencegahan. Bagaimana pun anak-anak tidak boleh disusupi paham radikal yang
salah.

“Kita betul-betul mencegah semaksimal mungkin. Kita masih akan terus menganalisis,” jelasnya.

Menurut Dedi, pengaruh terorisme pada perempuan biasanya terjadi atas hasutan suami.

Istri, kata Dedi, dalam ajaran mereka harus taat dan patuh pada suaminya. Adapun untuk anak-anak berada di bawah pengaruh orangtua.

“Jika suami memberikan ajaran atau paham pasti lebih jauh meresap, setelah meresap dan terpapar jauh lebih kuat. Karena pada dasarnya wanita ini setia pada suami dan taat,” tutur Dedi.

Sebelumnya, kejahatan terorisme di Indonesia menggunakan cara baru. Dedi menyebut kelompok terorisme mulai menarget perempuan sebagai anggota.

‘‘Pascabom Surabaya ada fenomena baru di Indonesia, sudah mulai melibatkan perempuan lone wolf. Fenomena itu mulai terjadi di Indonesia. Beruntung, Densus 88 Antiteror Mabes Polri berhasil membaca pergerakan tersebut.’’

Saat ini Densus 88 juga sudah menangkap terduga teroris Abu Riky di Kelurahan Bagan, Kecamatan Bangko, Rokan Hilir, Riau.

Riky disebut berkaitan dengan Abu Hamzah, terduga peledakan bom di Sibolga, Sumatra Utara. Keduanya berasal dari kelompok yang sama. “Dia juga (Abu Riky) sama akan melakukan amaliyah, perannya ialah menggugah beberapa video, foto, yang isinya propaganda,” imbuh Dedi Prasetyo.

Menuju surga

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan pelaku bom Sibolga Soimah memercayai bahwa bom bunuh diri merupakan jalan cepat menuju surga.

‘’Suami pelaku mengatakan bahwa istrinya lebih radikal daripada dirinya. Bahkan dapat membuat bom,’’ kata Kapolri dalam orasi di Konvensi Nasional Pendidikan Nasional (Konaspi) IX di Padang (14/3).

Menurut Tito pelaku ini mempelajari secara online atau dalam jaringan (daring). Mereka seperti serigala yang berjalan sendirian mencari mangsa.

Mereka tidak memiliki jaringan yang luas, namun memperkaya pengetahuan melalui situs radikal.

Pengungkapan ini, lanjut Tito, berawal dari penangkapan seorang ibu di Lampung yang memberikan informasi bahwa ada temannya yang juga memiliki bom di Sibolga.

Pihaknya langsung mengirimkan anggota untuk menangkap pelaku ke Sibolga. Sesampai di lokasi petugas menangkap suaminya.

Dia mengatakan di dalam rumah ada anak dan istrinya, namun ia melarang petugas masuk ke rumahnya karena istrinya memasang kawat di sekeliling rumahnya.

‘’Ada delapan bom yang ada di sana. Tiga meledak dan mengenai petugas,’’ katanya.

Sebelumnya Kapolda Sumatra Utara Irjen Agus Andrianto mengungkapkan identitas pelaku bom bunuh diri yang terjadi Rabu (13/3) dini hari di Sibolga, bernama Solimah, jenis kelamin perempuan, berasal dari Kota Padangsidempuan. (Ant/P-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More