Tim Mulai Kaji Pemberian Obat Kanker Kolorektal untuk Pasien JKN

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Jumat, 15 Mar 2019, 18:55 WIB Humaniora
Tim Mulai Kaji Pemberian Obat Kanker Kolorektal untuk Pasien JKN

ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

TIM khusus yang dimotori Kementerian Kesehatan mulai mengkaji pemberian dua obat kanker kolorektal dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Keanggotaan tim meliputi Perhimpunan Dokter Sesialis Bedah Digensif Indonesia (Ikabdi), Perhimpunan Dokter Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin), Komnas Penyusun Formularium Nasional, dan Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK) atau Health Technology Assessment (HTA).

Kedua obat kanker kolorektal itu ialah bevacizumab dan cetuximab yang semula akan dihentikan per 1 Maret bagi pasien program JKN. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Sesialis Bedah Digensif Indonesia (Ikabdi) dr Hamid Rochanan SpB-KBD mengatakan pembahasan soal kedua obat itu masih terus dilakukan. Ia pun belum dapat memastikan kajian akan selesai dilakukan.

"Kamis pekan lalu dan Senin pekan depan pembahasan lagi di Kemenkes. Ini terus berjalan," ujar Hamid ketika dihubungi, Jumat (15/3).

Dijelaskan Dokter Hamid, tidak semua pasien kanker kolorektal efektif diberikan terapi target seperti bevacizumab dan cetuximab. Ada pasien yang hanya membutuhkan pembedahan, namun ada yang harus diikuti dengan kemoterapi atau radiasi. Meski demikian, ia mengatakan ada kelompok pasien kanker kolorektal yang membutuhkan terapi target.

Sebagai salah satu pihak yang diminta masukan terkait pemberian bevacizumab dan cetuximab, dokter dari Ikabdi menyampaikan sejumlah pertimbangan pemberian obat terapi target meliputi stadium saat pasien datang, hasil pemeriksaan KRAS, NRAS, BRAFA untuk melihat mutasi genetik sel kanker dan lokasi tumor.

Hamid menuturkan jika hasil pemeriksaan semua metode wild type positif (normal), pasien kanker kolorektal akan diberikan cetuximab. Bila hasil pemeriksaan itu ditemukan ada genetik sel kanker yang bermutasi, pasien diberikan bevacizumab. Bevacizumab dan cetuximab merupakan obat kanker untuk terapi target bagi pasien kanker kolorektal metastatik.

Secara terpisah, Husain Nurisman, 45, pasien kanker usus besar stadium lanjut didiganosa pada 2016 menceritakan pengalamannya. Ia telah selesai menyelesaikan pengobatan dan mendapatkan terapi target bevacizumab, obat yang kini tidak lagi dijamin oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Husain menyampaikan ia beruntung bahwa selama pengobatan, seluruh biaya ditanggung oleh tempatnya bekerja. Biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Ia pun menyayangkan jika obat target terapi untuk kanker kolorektal tidak lagi ditanggung dalam program JKN.

"Satu vial obat cetuximab harganya sekitar Rp5 juta sampai Rp6juta. Satu kali treatment membutuhkan dua vial diberikan sepuluh seri," tutur Husain.

Data dari BPJS Kesehatan biaya yang dikeluarkan untuk bevaxizumab dan cetuximab selama 4 tahun terakhir tidak selalu meningkat. Pada 2014 pembiayaan untuk bevacizumab sebesar Rp14,23 miliar dan cetuximab Rp9,21 miliar. Kemudian, pada 2015 untuk bevacizumab biayanya menjadi Rp60,34 miliar dan cetuximab sebesar Rp60 miliar.

Pada 2016, untuk bevacizumab sebesar Rp67,63 miliar dan cetuximab Rp47,73 miliar. Lalu pada 2017, biaya untuk bevacizumab sebesar Rp39,23 miliar dan cetuximab Rp28,62 miliar. (A-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More