Film Berperan Besar Sebarkan Spirit Positif

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Jumat, 15 Mar 2019, 09:26 WIB Humaniora
Film Berperan Besar Sebarkan Spirit Positif

ANTARA/str-Salis Akbar

DI era kebebasan informasi sekarang ini, kalangan perfilman di Tanah Air berperan besar dalam menebarkan spirit atau semangat positif bagi masyarakat, khususnya kaum milenial atau Generasi Y. Terlebih, generasi yang lahir antara 1980-1995 itu lebih menyukai pesan yang disampaikan lewat visual, ketimbang teks. "Film ibarat pisau bermata dua. Bisa jadi positif atau negatif. Film yang positif dapat mengedukasi masyarakat kita untuk menjadi lebih baik, harmonis, damai dan toleran," ujar aktris senior Ninik L Karim saat Rapat Koordinasi Pengembangan Perfilman 2019 di Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Peraih Piala Citra untuk pemeran pendukung wanita terbaik dalam film Ibunda (1986) itu menyatakan, film lebih efektif dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat, utamanya dalam mengampanyekan isu-isu tertentu. Melalui film, siswa juga bisa mengolah rasa dan cintanya lebih dalam pada seni.

"Pelajar kita kan sudah penuh dengan mata pelajaran yang memenuhi otak kognitifnya. Nah, melalui film, rasa dan jiwa mereka diolah sehingga bisa muncul cinta pada seni," pungkas dosen di Fakultas Psikologi UI itu.

Sejak empat tahun terakhir, dunia perfilman di Tanah Air semakin semarak dan menggeliat. Itu terlihat dari meningkatnya animo penonton film Indonesia secara signifikan, dengan karya sineas yang beragam.

Data Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbang Film-Kemendikbud) mencatat, jumlah penonton pada 2018 sebanyak 48 juta orang. Angka itu tiga kali lipat lebih banyak dibanding 2015 yang cuma 16 juta penonton.

Baca Juga: Jangan Sampai Industri 4.0 Gerus Identitas Bangsa

"Itu menunjukkan kondisi kebatinan pemerintahan kita yang positif dan kondusif," kata Kepala Pusbang Film Kemendikbud Maman Wijaya.

Kepala Pustekkom Kemendikbud Gogot Suharwoto mengutarakan pihaknya telah memproduksi sejumlah film sebagai media pembelajaran dan pendidikan karakter.

"Di antaranya film Langkah Yang Tersisa yang dibuat di Singkawang, Kalbar, mengisahkan persahabatan dan toleransi yang positif. Film ini telah tayang di bioskop dengan jumlah penontonnya 40 ribu orang," jelas Gatot.

Film lainnya yang diproduksi berjudul Aku dan Hari Esok berkisah tentang anak Indonesia di daerah perbatasan pulau Sebatik yang ingin bersekolah, namun terkendala ketiadaan kewarganegaraan (stateless).

Bentuk karakter

Seni memiliki cakupan luas. Tidak hanya film, tapi juga musik dinilai menjadi media efektif untuk membentuk karakter anak sejak dini.

"Musik dan lagu dapat menjadi bagian penting memberi kontribusi guna membangun dan menyemai karakter anak," kata Direktur Sekolah Global Sevilla, Michael Thia pada aca-ra gelaran musik Aku Anak Indonesia di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, belum lama ini.

Selain keluarga, sambungnya, sekolah memiliki tanggung jawab untuk membangun karakter baik kepada anak melalui proses pembelajaran inovatif. "Musik, lagu, dan lirik yang baik dapat menjadi media untuk membantu perkembangan karakter anak," tuturnya. (H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More