Terpaksa Berpisah akibat Polusi Udara Akut

Penulis: (Tesa Oktiana Surbakti/I-2) Pada: Jumat, 15 Mar 2019, 05:40 WIB Internasional
 Terpaksa Berpisah akibat Polusi Udara Akut

(Photo by BYAMBASUREN BYAMBA-OCHIR / AFP)

WARGA yang tinggal di kota terdingin harus membakar banyak batu bara dan plastik demi bertahan hidup pada suhu minus 40 derajat. Namun, kehangatan yang mereka dapatkan menimbulkan polusi yang mencemari udara.

Fenomena itulah yang kini terjadi di Ulaanbaatar, Mongolia. Akibat polusi udara, anak-anak mulai kesulitan bernapas hingga harus dievakusi ke wilayah perdesaan.

Eksodus ini merupakan peringatan keras bagi masa depan wilayah perkotaan di sebagian besar Benua Asia. Pemandangan warga mengenakan masker anti-polusi dengan langit berwarna gelap semakin mudah ditemukan.

Ulaanbaatar masuk daftar kota paling tercemar di dunia, selain Delhi, Dhaka, Kabul, dan Beijing. Kualitas udara di kota-kota tersebut bahkan tidak memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Para ahli telah berulang kali memperingatkan dampak udara buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, ancaman penyakit kronis, hingga berujung menjadi kasus kematian.

Seperti dialami Erdene-Bat Naranchimeg yang harus menyaksikan putrinya, Amina, berjuang melawan penyakit sejak lahir. Sistem kekebalan tubuhnya rusak akibat menghirup udara kotor di wilayah Mongolia.

"Kami terbiasa masuk dan keluar rumah sakit. Anak saya tertular pneumonia pada usia dua tahun sehingga membutuhkan banyak antibiotik," kisah Naranchimeg kepada AFP.

Penyakit anak Naranchimeg bukan kasus langka di kota dengan suhu dingin ekstrem. Di wilayah tersebut, banyak tenda tradisional berbasis atau dikenal dengan gers yang dihangatkan api bakar atau batu bara. Asap hitam tebal mengepul hingga membuat area sekitar dikepung kabut asap yang memperburuk jarak pandang.

Di sana, sejumlah rumah sakit sarat dipenuhi anak-anak yang sakit ringan hingga kronis. Naranchimeg hanya bisa pasrah saat mendengar saran dokter untuk mengevakuasi anaknya ke perdesaan.

Amina pun harus tinggal bersama kakek dan neneknya di Bornuur Sum, sebuah desa berjarak 135 kilometer (km) dari ibu kota. "Sejak tinggal di sana, dia jarang sakit. Meski berat harus berpisah, kesehatannya saat ini lebih baik," ucap Naranchimeg yang melakukan perjalanan pergi-pulang selama 3 jam demi menemui Amina di akhir pekan.

Langkah yang dilakukan Naranchimeg juga ditempuh banyak orangtua di Ulaanbaatar. Perpisahan terjadi demi melindungi masa depan anak-anak mereka. Tingkat PM 2.5, yaitu partikel kecil dan berbahaya di Ulaanbaatar mencapai 3.320 per Januari, atau 113 kali lipat dari batas aman WHO.

Dampak kualitas udara buruk lebih mengerikan bagi anak-anak ketimbang orang dewasa. Pasalnya, sistem pernapasan anak-anak lebih cepat.

Alhasil, polusi mudah terserap jaringan paru-paru, otak, dan sejumlah organ penting yang masih berkembang. Dalam merespons tingkat polusi tersebut, pemerintah setempat telah melarang migrasi domestik pada 2017 lalu serta melarang pembakaran batu bara sejak Mei.

Namun, kebijakan tersebut belum berdampak signifikan terhadap kualitas udara di Ulaanbaatar. (Tesa Oktiana Surbakti/I-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More