AS Ikuti Langkah Pengandangan Boeing 737 Max 8

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Kamis, 14 Mar 2019, 19:12 WIB Internasional
AS Ikuti Langkah Pengandangan Boeing 737 Max 8

AFP

AMERIKA Serikat (AS) akhirnya bergabung dengan negara-negara yang menangguhkan operasi pesawat Boeing 737 Max 8. Berita buruk terbaru bagi Boeing muncul pada Rabu sore waktu setempat.

Pergerakan saham Boeing (BA) anjlok 3%, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusan tersebut dari Gedung Putih. Namun, indeks saham Boeing pada perdagangan Rabu relatif lebih tinggi, dibandingkan kinerja saham Boeing sebelumnya yang merosot hingga 10%. Krisis yang dialami Boeing telah menghapus US$ 25 miliar dari nilai pasar perusahaan. Tidak lama setelah peristiwa kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8 yang dioperasikan Ethiopian Airlines.

Baca juga: PM Inggris Kehilangan Kendali di Tengah Polemik Brexit

Langkah pemerintah AS mengandangkan Boeing 737 Max 8 turut mempertimbangkan dua peristiwa kecelakaan mematikan dalam lima bulan terakhir. Sebelum Ethiopian Airlines, pesawat Boeing 737 Max 8 milik Lion Air jatuh di wilayah perairan Indonesia pada Oktober lalu. Adapun pesawat Ethiopian Airlines jatuh pada Minggu lalu, setelah beberapa menit lepas landas dari Addis Ababa. Seluruh awak dan penumpang pesawat tewas dalam peristiwa kecelakaan tersebut.

Sampai saat ini, tim penyelidik masih mencari penyebab dua kecelakaan yang melibatkan Boeing 737 Max 8. Penyelidikan awal dalam kasus Lion Air menunjukkan pilot berupaya mengambil kendali pesawat, setelah dipaksa turun oleh fitur keselamatan otomatis.

CEO Ethiopian Airlines, Tewolde GebreMariam, mengungkapkan pilotnya juga melaporkan masalah pengendalian pesawat sebelum pesawat jatuh.

Otoritas penerbangan di seluruh dunia menginstruksikan maskapai penerbangan menangguhkan operasi pesawat Boeing 737 Max 8, dalam tiga hari terakhir. Pada dasarnya, AS merupakan negara terakhir yang mengoperasikan pesawat tipe tersebut.

Manajemen Boeing memastikan aspek keselamatan pesawat yang diproduksi. Namun, pihaknya merekomendasikan penutupan demi menjaga aspek keselamatan penerbangan pesawat publik.

"Kami mendukung langkah proaktif ini. Kami siap melakukan apapun untuk mencari tahu penyebab kecelakaan, termasuk bermitra dengan tim penyelidik. Serta menggencarkan peningkatan aspek keselamatan dan memastikan kasus ini tidak terjadi lagi," ujar CEO Boeing, Dennis Muilenburg.

Dia menyampaikan dukacita mendalam dari perusahaan kepada keluarga korban kecelakaan. Boeing, tegas dia, selalu mengutamakan aspek keselamatan pesawat yang diproduksi.

Kinerja saham tiga maskapai AS yang menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8, yakni American Airlines, Southwest Airlines dan United Airlines, sempat melemah di tengah berita kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines. Namun tak lama pergerakan saham kembali ke zona positif. Langkah pengandangan Boeing 737 Max 8 berpotensi menggerus pendapatan tiga maskapai AS, yang mengoperasikan 67 unit Boeing 737 Max 8.

Baca juga: Black Box Ethiopian Airlines Dikirim ke Paris

Seluruh maskapai berupaya mengakomodasi penumpang yang terkena dampak penangguhan operasi Boeing 737 Max 8. Di lain sisi, jumlah pesawat Boeing 737 Max 8 tidak terlalu mendominasi seluruh armada tiga maskapai AS. Keberadaan Boeing 737 Max 8 hanya sekitar 3% dari masing-masing kapasitas maskapai.

Dalam sejarahnya, Boeing membayar ganti rugi kepada maskapai apabila pesawat produksinya harus dikandangkan karena alasan keamanan. Pada 2013, Boeing menjalankan kebijakan tersebut, setelah pesawat 787 Dreamliner dikandangkan selama tiga bulan. CEO Norwegian Air, Bjorn Kjos, mengungkapkan pihaknya akan meminta ganti rugi kepada Boeing, terkait pendapatan yang hilang akibat penangguhan operasi 18 unit pesawat Boeing 737 Max 8. (CNN/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More