Perguruan Tinggi Didorong Lahirkan Mahasiswa Inovatif

Penulis: Dhika Kusuma Winata Pada: Kamis, 14 Mar 2019, 19:08 WIB Humaniora
Perguruan Tinggi Didorong Lahirkan Mahasiswa Inovatif

Ilustrasi

PERGURUAN tinggi diminta agar bisa mencetak mahasiswa yang tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja. Karena itu, mahasiswa perlu diarahkan untuk berinovasi melalui riset dan berani membangun usaha rintisan (startup).

Hal itu mengemuka dalam diskusi kelompok terpumpun (FGD) Open Innovation 2019 yang digelar di Universitas Pancasila, Jakarta, Kamis (14/3).

Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kemal Prihatman, mengatakan para mahasiswa amat diharapkan dapat mengembangkan riset yang tidak sekadar untuk memenuhi kewajiban kelulusan. Mahasiswa perlu mengubah paradigma tentang riset menjadi peluang untuk mengembangkan diri melalui inovasi.

Baca juga: BMKG: Badai Matahari tak Berdampak ke Indonesia

"Inovasi inilah diharapkan dapat menjadi sebuah usaha bisnis baru yang siap bersaing di pasar. Pemerintah menyiapkan insentif untuk inovasi yang mumpuni bahkan bisa didanai hingga setengah miliar rupiah," ujar Kemal.

Menurutnya, geliat inovasi di perguruan tinggi Tanah Air masih perlu dioptimalkan. Generasi muda di era Revolusi Industri 4.0 saat ini dituntut untuk kreatif dan menghasilkan inovasi-inovasi. Dengan begitu, lulusan perguruan tinggi tidak banyak bergantung sebagai pencari kerja tapi bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.

"Laporan World Economic Forum untuk pilar inovasi, Indonesia masih di peringkat ke-31 dari total 130 lebih negara dunia. Itu masih harus ditingkatkan dan kuncinya perguruan tinggi harus bisa melahirkan mahasiswa inovatif dan juga mendorong dosen untuk berinovasi," imbuh dia.

Rektor Universitas Pancasila Wahono Sumaryono, dalam kesempatan yang sama, mengamini perguruan tinggi saat ini memang perlu menggiatkan riset yang berujung inovasi demi mendukung Revolusi Industri 4.0.

Baca juga: Setop Penggunaan Label Negatif Pada Anak

Hal itu, kata dia, bisa ditempuh dengan pertama-tama mengubah pola pikir dan membuka wawasan para civitas kampus untuk mau mengembangkan inovasi. Setelah itu, diperlukan kolaborasi dan membangun jejaring dengan kalangan industri. Dengan begitu, kebutuhan pasar bisa dipahami sehingga riset bisa lebih terarah.

"Kami mendorong para dosen dan mahasiswa agar terbuka dalam riset, mengembangkan barang dan jasa sehingga bisa diserap pasar. Sehingga riset tidak hanya menjadi kredit poin untuk kelulusan atau naik jabatan, tapi juga bisa menghasilkan koin (uang)," ucapnya. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More