Ketika Cawapres Bertarung Ide 

Penulis: Lasarus Jehamat Dosen Sosiologi FISIP Undana Kupang Pada: Kamis, 14 Mar 2019, 03:30 WIB Opini
Ketika Cawapres Bertarung Ide 

MI/Duta

DEBAT antarcalon wakil presiden akan berlangsung 17 Maret 2019 mendatang. Pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan sosial budaya menjadi menu utama debat cawapres. Tema-tema itu diharapkan dapat dieksplorasi calon wakil presiden. Masyarakat berharap agar calon wakil presiden mau menjelaskan cara jitu menghadapi masalah pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan sosial budaya.

Keinginan masyarakat seperti itu mudah dipahami. Dipahami karena dalam debat pertama dan kedua bulan lalu, pasangan calon presiden dan wakil presiden seperti sedang mengikuti cerdas cermat. Kala itu, debat yang dirancang mengasah gagasan, justru terpasung karena gagasan dan format debat yang salah. Semburan ide menjadi tidak tampak di sana. Semua peserta debat akhirnya seperti mengikuti paduan suara.

Hasil penilaian pascadebat, banyak pihak independen (di luar partai pendukung) menilai, debat terkesan datar dan amat membosankan. Membosankan terutama karena beberapa hal berikut. Pertama, kisi-kisi pertanyaan debat sudah diberikan seminggu sebelum debat. Kedua, panelis berperan hanya menyusun soal. Panelis tidak diberi kesempatan cukup untuk mengeksplorasi jawaban peserta debat. 

Akibatnya, jawaban pasangan capres dan cawapres terkesan menghafal dan sungguh normatif. Yang muncul justru saling serang dengan kadar serangan yang jauh dari bobot seorang pemimpin.

Wajar memang. Itu karena setiap pasangan mencoba menampilkan diri secara paripurna agar terlihat sebagai pasangan yang berkualitas dan laik dipilih. Masalahnya, idealisme dua pasangan capres tersebut justru menjebak mereka ke dalam diskusi yang terlampau monoton.

Lepas dari banyaknya kritik atas proses dan format debat, kita semua sejatinya mendukung proses ini. Dukungannya jelas bukan karena keinginan kita melihat penampilan calon yang didukung. Dukungan terutama diberikan untuk memeriksa pemaparan calon wakil presiden pada setiap aspek yang menjadi isu debat.

Dukungan harus diberikan kepada penyelenggara pemilu karena debat menjadi salah satu ajang ‘menjual’ gagasan, ide, dan solusi atas berbagai soal yang mendera bangsa dan negara ini. Merujuk logika demikian dan diasumsikan sedikit agak cerdas, masyarakat mestinya tidak terpolarisasi ke dalam kubu-kubuan.

Itu karena pemaparan ide dan gagasan dari setiap calon hanya berlangsung satu-dua jam. Padahal, isu yang disampaikan itu berdampak minimal lima tahun ke depan. Karena itu, dalam debat yang sangat bermartabat itu, audiensi dan seluruh rakyat tidak dalam posisi vis a vis menilai satu calon yang didukungnya. Semua pihak mesti duduk bersama menilai kedua pasangan calon wakil presiden.  

Idealisme seperti itu tentu sulit terwujud karena selama ini masyarakat sudah terpolarisasi dalam dua kubu besar yang berhadapan. Secara fundamental, fenomena kelompok dan kubu tersebut didasari pada konsekuensi demokrasi liberal. Di sana, setiap orang diberi keluwesan untuk mendukung calon yang diinginkannya. 

Melampau wacana komunikasi
Kennamer (2005) dalam sebuah artikel berjudul Debate Viewing and Debate Discussion As Predictors of Campaign Cognition menyebutkan debat politik mesti melampaui komunikasi. Menurut Kennamer, debat esensinya berkomunikasi. Hanya, berbeda dengan cara dan model komunikasi biasa, debat harus melampaui komunikasi itu sendiri. 

Debat mengandaikan jual-beli gagasan dan bukan sekadar mengirimkan pesan dan pesan itu diterima lawan bicara. Itulah debat yang melampaui komunikasi dalam pandangan Kennamer.

Sementara itu, dalam Is Democracy Possible Here? Principles for a New Political Debate, Ronald Dworkin (2006), menyebutkan bahwa debat memiliki kadar nilai tertentu jika dibandingkan dengan model komunikasi yang lain. Debat memiliki tujuan mulia. 

Nilai intrinsik dan ekstrinsik melekat kuat dalam debat. Nilai intrinsik berhubungan dengan tujuan utama semua manusia dan masyarakat. Nilai ekstrinsik berkaitan dengan proses politik dan langgam kemenangan tertentu.

Yang ingin disampaikan Kennamer dan Dworkin sebenarnya ialah debat yang berisi. Debat yang memiliki kadar dan bobot tertentu. Berkaitan dengan dua nilai debat yang disampaikan Dworkin di atas, jelas bahwa debat merupakan ajang pertukaran gagasan dan ide untuk mencari solusi akan masalah bersama.

Debat kita
Dalam debat, gagasan yang berbeda dipertemukan dan diuji validitas dan rasionalitasnya. Maka dari itu, debat tidak sama dengan berkelahi secara fisik. Debat ialah perkelahian pikiran. 

Pertanyaan pentingnya ialah mengapa debat menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi banyak orang? Jawabannya sederhana. Kita tidak pernah dilatih dan dididik menjadi manusia petarung yang autentik.

Petarung autentik ialah entitas yang bertarung dengan mengukur semua potensi dan peluang debat; yang bertarung karena fakta dan berbasis data objektif. Maka dari itu, masalah ad hominem, menyerang pribadi tertentu, tidak dibenarkan dalam debat.

Yang ditunggu masyarakat ialah pemaparan ide dan gagasan yang menukik ke jatung persoalan. Dua cara yang bisa dilakukan. Penyampaian ide berbasis potensi dan berbasis masalah.

Gagasan berbasis potensi mengandaikan setiap calon mengetahui secara persis aset dan potensi energi, sumber daya alam, lingkungan hidup, kehutanan, dan infrastruktur. Soal ini, rasa-rasanya kedua capres tidak mengalami kendala apa-apa sebab yang paham Indonesia akan segera tahu jika tanah ini dianugerahi beragam potensi yang luar biasa besar. 

Yang dituntut ialah penyebutan aset dan gagasan cara mengelola aset didasarkan pada data objektif yang valid. Penggunaan data abal-abal justru berpotensi mengurangi kadar kepercayaan masyarakat kepada calon yang bersangkutan.

Selain berbasis potensi, ide dan gagasan juga bisa dijelaskan berdasarkan masalah. Maka dari itu, peta masalah energi, sumber daya alam, lingkungan hidup, kehutanan, dan infrastruktur menjadi hal krusial yang harus diketahui. 

Kegagalan mengetahui masalah tentu berdampak pada kebuntuan jalan pikir mencari solusi atas masalah yang ada. Dengan demikian, data objektif dan valid pun amat diperlukan di sana. 

Di atas semua itu, debat berbasis nilai harus menjadi perhatian kedua calon wakil presiden. Kedua calon pemimpin mesti menempatkan Indonesia di atas kepala. Keduanya sedapat mungkin menyingkirkan semua kepentingan kelompok sesaat. 

Ingat bahwa kemenangan debat tidak ditentukan oleh banyaknya busa di mulut dan kerasnya suara. Kemenangan debat sangat ditentukan oleh kemampuan calon mempresentasikan ide dan gagasan aktual dan faktual berbasis data akurat.


 

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More