Ini 5 Inisiatif Indonesia dalam Pertemuan Lingkungan Sedunia

Penulis: Micom Pada: Rabu, 13 Mar 2019, 09:56 WIB Media LHK
Ini 5 Inisiatif Indonesia dalam Pertemuan Lingkungan Sedunia

Dpk. PPID KLHK

DELEGASI Indonesia berpartisipasi dalam perundingan Open-Ended Committee of Permanent Representatives (OECPR) yang diselenggarakan Badan PBB untuk Urusan Lingkungan, United Nations Environnment Programme (UNEP).

Perundingan OECPR dititikberatkan membahas rancangan-rancangan resolusi yang akan diadopsi pada pertemuan menteri lingkungan hidup sedunia atau pada sidang United Nations Environment Assembly ke-4 (UNEA-4) yang mengusung tema 'Innovative solutions for environmental challenges and sustainable consumption and production', Senin (11/3) waktu setempat.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia menegosiasikan lima inisiatif yang dibawanya dan tertuang dalam Rancangan Resolusi (Ranres). Pertama, terkait pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan (sustainable consumption and production/SCP). Indonesia ingin mendorong terbentuknya pusat-pusat pengembangan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan pada tingkat negara. Pusat-pusat ini akan menjadi knowledge platform untuk pengembangan mendorong penggalangan aksi-aksi praktikal pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Kedua, tentang pengelolaan gambut secara berkelanjutan untuk mengatasi perubahan iklim. Resolusi ini dimaksudkan untuk mendorong kerja sama internasional dalam pengelolaan ekosistem gambut berkelanjutan, mengingat pentingnya fungsi lahan gambut sebagai penyerap karbon. Pusat Gambut Tropis Internasional (ITPC) yang telah diinisiasi Indonesia merupakan salah satu pilar kerja sama pengelolaan gambut berkelanjutan.

Baca juga: KLHK Bantah Laporan Greenpeace Soal Kualitas Udara

Ketiga, terkait pelestarian hutan bakau yang memegang peran penting dalam menjaga garis pantai dari ancaman erosi dan tsunami. Tak hanya itu, ekosistem hutan bakau juga menyimpan tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, ratusan spesies berlindung mulai drai ikan hingga burung. Untuk itu, resolusi ini mendorong negara-negara untuk mencegah konversi, perusakan dan eksploitasi berlebihan terhadap hutan bakau.

Keempat, meningkatkan kerja sama internasional dalam perlindungan lingkungan laut. Resolusi ini wujud dukungan nyata Indonesia dalam menindaklanjuti Deklarasi Bali mengenai Perlindungan Lingkungan Laut dari Aktivitas Darat, yang telah disepakati pada bulan Oktober 2018. Ranres ini mengajak negara-negara untuk bekerja sama mengembangkan Pusat Pengembangan Kapasitas yang akan didirikan oleh pemerintah di Bali.

Inisiatif kelima yang disampaikan Indonesia dalam pertemuan adalah pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan. Ranres ini akan menguatkan hasil pelaksanaan Resolusi UNEA-2 tentang terumbu karang yang telah memberikan pembelajaran dan rekomendasi kebijakan.

Indonesia mengajak negara anggota UN untuk meningkatkan koordinasi, harmonisasi dan penegakan peraturan terhadap kebijakan global, regional dan lokal dalam konservasi dan pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan, termasuk penyusunan status global terumbu karang pada tahun 2020 dan penguatan Global Coral Reef Monitoring Network.

Saat ini, negosiator Indonesia yang dipimpin oleh Dubes/Watap RI Nairobi dan Staf Ahli Menteri LHK bidang Industri dan Perdagangan Internasional tengah memperjuangkan kelima Ranres tersebut agar dapat diadopsi saat penutupan UNEA-4, Jumat (15/3) mendatang.

Seluruh Ranres tersebut sedang melalui tahapan negosiasi bersama sekitar 35 Ranres lain yang diajukan oleh negara-negara anggota UNEP. Jika disetujui, kelima Ranres usulan Indonesia akan menjadi sumbangsih Bangsa Indonesia bagi pelestarian lingkungan global.(RO/OL-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More