Lambatnya Kesadaran

Penulis: Mudji Sutrisno SJ Guru Besar STF Driyarkara, Dosen Pascasarjana UI, dan Budayawan. Pada: Rabu, 13 Mar 2019, 02:45 WIB Opini
Lambatnya Kesadaran

MI/Duta

BARU setelah mengalami dengan hati dan budi dua kali perang dunia yang menghancurkan kemanusiaan serta derita manusia, kesadaran bersama bangsa-bangsa bertemu dan mengental untuk menjaga agar harkat manusia, siapa pun ia tidak dikoyak-koyak lagi dalam Deklarasi Universal piagam hak asasi manusia 10 Desember 1948. 

Hanya, hitunglah proses kesadaran bersama itu dengan waktu. Dibutuhkan 1948 untuk deklarasi sepakat bahwa manusia itu bermartabat. Bila setiap tahun memuat 12 bulan, berapa bulan diperlukan untuk menyadari sesama manusia tidak boleh diperalat, apalagi 'dibunuh' atas nama politik apa pun. 

Bila 1 bulan berisi 30 hari, mari menghitung berapa lama, berapa hari ditapaki kesadaran bersama yang dibutuhkan untuk 10 Desember 1948 merumuskan tertulis betapa anak manusia yang adalah khalifatullah Allah dan citra Allah itu harus dihormati. Itu pun baru tahap sadar bersama untuk deklarasi, yang masih butuh kesadaran lagi untuk setiap negara memberi rumusan legal formal dalam konstitusi masing-masing, seperti misalnya di UUD 1945 dalam Pasal 28, 29, dan seterusnya.

Betapa 'lambat kesadaran' berproses. Maka dari itu, tatkala Republik Indonesia diproklamasikan pada 17-8-1945, loncatan politik lebih cepat daripada proses kesadaran kultural (baca: sikap hidup dan mentalitas untuk menghormati yang baik, benar, suci, indah dalam hidup yang didalamnya beradalah manusia-manusia, ternyatalah masih lambat). Oleh karena itu, Bung Hatta menaruh perlunya proses 'mencerdaskan kehidupan bangsa' untuk siap menjadi sikap hidup dan mentalitas bangsa ini, untuk bernegara hukum dan bersistem hidup bersama karena fakta kemajemukan suku dan religi dalam demokrasi. 

Pendidikan karakter dan nilai yang menjadi salah satu proses kesadaran berbangsa, lalu menghayati (baca: menghidupi dalam penghayatan sehari-hari) pembukaan konstitusi alinea 4-nya dalam nilai-nilai fundamental berbangsa dan bernegara, yaitu nilai-nilai Pancasila. Masalah lambatnya kesadaran ini, juga langsung terbukti dalam masalah kognisi (pengetahunan tentang nilai versus penghayatannya dalam internalisasi. 

Muncul antagonisme antara pendekatan pintas (mau segera hasilnya) versus pendekatan proses. Ini berarti hasil cepat sebagai orientasi pendidikan kesadaran hanyalah jalan pintas pragmatisme yang tidak belajar membaca jalan kehidupan yang selalu berintikan proses. 

Lihatlah analogi proses mendidik dalam tahap-tahap masih ulat, maka di sana 'kotoran', dan wajah buruk ulat harus disabari ranahnya dan diberi ruang sampai ulat (contoh bagus: ulat sutra) itu mulai mengeluarkan ludah rajut liurnya untuk 'menenun kepompongnya'. Ketika tahapan sudah menjadi kupu-kupu, warna-warni kupu-kupu itu menjadi hasil pemandangan indah. Namun, kepompong pun sebagai 'sarang', menjadi bakal benang-benang sutra bila diproses. Juga lahirnya manusia, ia tidak bisa dikarbit atau dipercepat. Bayi dalam rahim ibu (kita-kita ini berasal dan berhutang hidup dari ibu-ibu kita), butuh proses dikandung, dinutrisi 9 bulan. Inilah proses kehidupan. 

Kesadaran
Ada dua mata baca untuk menyadari lambatnya kesadaran. Yang pertama, mata baca fisik yang membaca huruf-huruf dan laporan-laporan plus data-data 'hanya sebagai data-data fisik'. Misalnya, data ancaman bencana katastropik di Jawa (Kompas, 8/1, hal 1) bisa dibaca 'hanya fisik paparan kalimat-kalimat kajian terbaru sesar lembang' sebagai informasi saja tanpa dimaknai atau dihidupi dengan mata baca lain. 

Akibatnya, informasi itu (meski dipapar setelah tsunami dan bencana Sunda serta Lampung) selesai di depan mata fisik. Maka dari itu, butuh mata baca kedua, yaitu mata baca budi. Perannya adalah menganalisa dengan budi cerdas, mengkalkulasi kebencanaan yang bakal terjadi serta akal budi yang merancang persiapan, penanggulangan sampai ke hitungan memperkecil korban kemanusiaan. Lambatnya kesadaran makin bisa kita tunjuk di sini, yaitu mata baca 'sekilas' indrawi informasi yang tidak dibawa ke kesadaran budi untuk diproses. Lambatnya kesadaran juga dikonstruksi mata baca pintas, sekilas (just a glance) karena konstruksi percepatan mata baca digitalisasi dengan ambil judul-judul dan keingintahuan sekilas, lalu lupa dalam sekejap karena tidak dibatinkan, tidak diolah dalam kesadaran budi yang memikir dan mengurai nalar sehingga mudah dilupakan. 

Dua mata baca di atas harus melalui proses lebih 'batin' lagi bila kesadaran mau masuk kesadaran nurani yang mengetuk, bersuara bahkan menggugat dalam mata baca nurani: siapakah sesamaku yang jadi 'korban' kebencanaan? Bila kita semua, melalui pendidikan kesadaran mau sedikit 'berubah' tidak mudah lupa setelah peristiwa-peristiwa duka, bencana, dan derita, mengapa; alat deteksi gempa Gunung Merapi beberapa tahun yang lalu dan alat tanda peringatan tsunami Selat Sunda dan Lampung tidak berfungsi sejak 2012? 

Dengan demikian, tidak sempat memberi peringatan dini? Mengapa tidak berfungsi? Perawatan alat mahal atau kelalaian? Mata baca nurani akan terus menggugat bila 'fakta data' lambatnya kesadaran sudah diakui dahulu dengan rendah hati di tingkat universal (dalam hal Deklarasi HAM Universal 10 Desember 1948). Kemudian tingkat nasional Indonesia dalam satu gumpalan tajam gugatan kesadaran mata baca nurani yang menyeruak tanya, di saat peristiwa-peristiwa bencana terjadi, kita ramai, hiruk pikuk berwacana, membahas dalam analisis-analisis media cetak atau media elektronik sosial. Tetapi sesudah itu dilupakan’ dan seakan 'tidur' dalam kesadaran kita. 

Mengapa pula setiap kali mata baca budi ramai dalam ruang 'pasca kejadian'? Heboh dalam panggung post factum? Tidak menggugah ke kesadaran untuk siap-siap dan preventif antisipasi berdasar data situs-situs sesar, yang dalam bacaan informatif saja membuat decak kaget bahwa butuh 700 juta untuk kajian peta seperti diungkap saudara Mudrik peneliti geologi pusat Geoteknologi LIPI (Op.cit, Kompas, 8/1). Semogalah mata baca kita tidak hanya fisik indra mata, tidak hanya akal budi rasional, kritis tetapi pula mata baca nurani lantaran 'lambatnya kesadaran' terang benderang berada diproses mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More