Bumi semakin Panas,  Dampak Lingkungan dan Kesehatan

Penulis: Joyce Msuya Pejabat Direktur Eksekutif Badan PBB untuk Lingkungan (UN Environment) Pada: Sabtu, 09 Mar 2019, 03:20 WIB Opini
Bumi semakin Panas,  Dampak Lingkungan dan Kesehatan

SETIAP orang pasti paham bahwa pemeriksaan kesehatan secara berkala baik untuk tubuh. Sekali setahun, sangat dianjurkan bagi Anda untuk mengunjungi dokter yang akan memeriksa jantung dan paru-paru serta mengukur tekanan darah sekaligus menanyakan apa yang Anda rasakan belakangan ini. Pemeriksaan kesehatan seperti itu sangat penting karena dapat menemukan potensi masalah yang mungkin timbul sejak dini saat masih ada kesempatan untuk memberikan pengobatan secara efektif.

Hal yang sama berlaku bagi planet kita. Sayangnya, saya harus mengatakan bahwa kesehatan planet kita tidak sebaik pada masa lalu. Tinjauan Lingkungan Global Edisi Keenam (Global Environment Outlook 6th Edition/GEO6), sebuah publikasi dari Badan PBB untuk Lingkungan (UN Environment), yang kami terbitkan minggu ini ialah laporan paling lengkap mengenai kondisi lingkungan di dunia. Laporan itu berisi kajian rinci mengenai kondisi terkini planet bumi sekaligus analisis mendalam untuk prospek bagi masa depan yang lebih baik.

Lalu, apa isi kajian tersebut? Planet kita saat ini sedang menderita. Iklim semakin panas, makhluk hidup terancam punah, sumber daya alam disia-siakan, dan banyak dari ekosistem kita yang mengalami beban berat. Namun, ada juga kabar baik. Kita berhasil membuat kemajuan dalam upaya mengatasi kelaparan. Ada banyak contoh positif dalam usaha membuat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan penemuan baru muncul dalam skala dan kecepatan yang tidak terbayangkan dalam generasi sebelumnya.

Perbaikan menyeluruh
Akan tetapi, GEO6 menawarkan lebih dari pemeriksaan kesehatan. Laporan itu juga memberikan rencana perbaikan yang menyeluruh, serangkaian tindakan yang dapat membawa kita ke jalur yang jelas menuju masa depan yang berkelanjutan seperti dicantumkan dalam Agenda 2030 PBB. 

Laporan ini menyimpulkan waktunya telah tiba untuk melakukan perubahan yang sungguh-sungguh terhadap sistem yang memengaruhi kehidupan kita. 

Ada banyak kemajuan yang dapat dicapai jika kita fokus pada dampak lingkungan dan kesehatan dari tiga sistem berikut: makanan, energi, dan limbah. Pertama, mari kita bahas soal makanan. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dunia dan meningkatnya tekanan terhadap iklim, kita harus memproduksi makanan dengan efisiensi dan ketahanan yang lebih besar. Di samping itu, kita perlu mendorong orang melakukan diet yang lebih berkelanjutan.

Untuk mengubah sistem makanan, kita perlu memberikan insentif kepada para petani untuk mengurangi emisi gas buang dan menggunakan air serta tanah seefisien mungkin. Kita sangat perlu mengupayakan agar tidak ada lagi sisa makanan yang terbuang percuma. Selain itu, setiap orang perlu didorong untuk mulai menerapkan pola makan yang lebih sehat. Dalam banyak hal, ini berarti mengurangi konsumsi daging.

Sistem kedua yang perlu kita ubah adalah energi. Produksi energi terbarukan telah meningkat secara luar biasa dalam sepuluh tahun terakhir. Namun, sekitar dua per tiga listrik yang kita pergunakan masih dihasilkan dari bahan bakar fosil. 

Selanjutnya, meskipun jumlah tenaga listrik yang dihasilkan di seluruh dunia telah meningkat dua kali lipat sejak 1990, tetapi masih ada hampir 1 miliar orang yang tidak memiliki listrik di rumah.

Tujuan kita ialah melakukan ‘dekarbonisasi’ sepenuhnya terhadap pasokan energi. Kita harus memutus keterkaitan antara penggunaan energi dengan emisi gas buang dan polusi udara yang dihasilkannya. Kita membutuhkan peraturan, kebijakan, dan inovasi yang mendorong orang ke arah sumber energi yang lebih bersih. Kita perlu mengurangi penggunaan energi melalui peningkatan efisiensi energi dan mengurangi energi yang terbuang.

Terakhir, kita harus betul-betul mengubah cara berpikir kita akan limbah. Selama berabad-abad, pendekatan yang kita pilih untuk mencapai pertumbuhan ekonomi ialah ‘ambil’, ‘pakai’, ‘buang’. Umat manusia menggunakan sebanyak 90 miliar ton sumber daya di 2017. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50% lebih kemudian dibuang dalam bentuk limbah dan kurang dari 10% yang kembali masuk dalam perekonomian.

Inilah saatnya bagi kita untuk menerapkan pendekatan yang berbeda, yaitu melihat limbah tidak hanya sebagai masalah yang harus diatasi, tetapi juga sebagai sumber daya penting yang dapat dimanfaatkan. 

Pemerintah di mana pun perlu mengenakan pajak terhadap penggunaan sumber daya murni serta memberi insentif bagi perusahaan untuk menciptakan produk yang berkelanjutan atau dapat didaur ulang.      

Perusahaan sendiri seharusnya mulai menangani secara serius titik-titik yang menghasilkan limbah dalam rantai nilai mereka, kemudian membuat produk yang bisa didaur ulang atau dipergunakan dengan tujuan lain, setelah konsumen selesai menggunakannya. Di sisi lain, konsumen harus lebih cerdas dalam  membeli produk dan membuangnya setelah digunakan.

Membangun sebuah dunia yang aman dan nyaman bagi 10 miliar penduduknya mungkin tantangan terbesar yang pernah dihadapi umat manusia. Kita dapat melakukannya, tetapi hanya jika mampu merawat planet agar kembali sehat. 

Sidang umum keempat Badan PBB untuk Lingkungan di Nairobi pekan ini memberikan kita kesempatan untuk meneguhkan komitmen langkah nyata yang akan membantu kita menyadari perubahan yang diperlukan dunia ini. Pertaruhan kita ialah kehidupan dan masyarakat yang kita kenal serta nikmati saat ini. Kita harus bergerak cepat.
    


 

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More