Damai sejak dari Rumah

Penulis: Rully Subawaning Cahyati Orangtua Murid Pada: Senin, 25 Feb 2019, 07:20 WIB Opini
Damai sejak dari Rumah

MI/Duta

VIRALNYA video murid yang melawan gurunya karena menolak menyerahkan telepon genggam di sebuah sekolah kejuruan di Yogyakarta atau murid yang menolak dilarang merokok di sebuah sekolah menengah di Gresik, Jawa Timur, memberi bukti baru betapa kekerasan menjadi akrab dilakukan di sekolah. Dalam banyak kasus, pelaku bukan hanya murid, melainkan juga guru atau mereka yang menjadi representasi lembaga pendidikan atas alasan yang kadang sepele.

Respons mayoritas masyarakat--terutama orangtua/wali murid--melihat kasus-kasus tersebut ialah mengutuk perilaku itu, seraya membandingkan dengan relasi murid/guru/sekolah di masa sebelumnya yang dipandang sebagai masa ‘lebih baik’ atau ‘lebih beradab’. Masa yang jarang ditemukan peristiwa murid menentang gurunya semasif saat ini.

Respons lain, menyalahkan perkembangan teknologi yang dipandang menjadi penyebab anak-anak masa kini tidak lagi mendengar guru atau orangtua mereka dan lebih menyibukkan diri dalam dunia maya melalui perangkat teknologi yang mereka miliki. Perkembangan teknologi tiba-tiba menjadi ancaman terbesar bagi adab dan akhlak anak-anak.

Jarang muncul tanggapan mengenai perilaku agresif dan penggunaan kekerasan itu atau bagaimana menanamkan nilai damai dan mengurangi kemungkinan perilaku agresif di sekolah. Apa yang bisa dilakukan orangtua/keluarga untuk menumbuhkan nilai perdamaian dan empati?

Mengasuh bukan menghukum
Orangtua dan keluarga dapat memberikan kontribusi penting bagi pendidikan perdamaian, pengurangan agresi, dan penggunaan kekerasan di sekolah melalui pengasuhan yang lebih baik sejak di rumah.

Di masa yang serbacepat dan penuh ketidakpastian seperti sekarang ini, pengasuhan yang baik dituntut untuk merespons perubahan yang terjadi sekaligus melestarikan nilai-nilai luhur seperti perdamaian, termasuk penggunan cara-cara damai dalam menyelesaikan persoalan.      

Untuk itu, orangtua/guru perlu menimbang untuk menerapkan pengasuhan yang bebas dari hukuman (punishment-free parenting).

Pengasuhan tradisional biasanya hanya berfokus pada perilaku anak tanpa melihat lebih lanjut mengapa perilaku itu terjadi dan menganggap cara terbaik untuk mengubah perilaku anak ialah dengan penggunaan hukuman, ancaman/eksploitasi ketakutan, atau imbalan.

Tak dapat dimungkiri, cara semacam itu biasanya manjur untuk sementara waktu. Meskipun sesungguhnya, pengasuhan semacam ini tidak pernah menyelesaikan akar persoalan mengapa perilaku yang tak dikehendaki--seperti praktik kekerasan--dapat terjadi.

Sementara itu, pengasuhan nonhukuman atau peaceful parenting menitikberatkan perhatian pada bagaimana membangun hubungan yang baik dengan anak atas dasar rasa saling percaya dan penghormatan (trust and mutual respect) demi mewujudkan semangat kebersamaan yang sehat dalam keluarga.

Dalam pengasuhan nonhukuman yang dikembangkan ialah nilai kerja sama, integritas, dan kemampuan pengendalian diri secara mandiri daripada menumbuhkan rasa takut demi kepatuhan. Pengasuhan nonhukuman pada dasarnya ialah upaya menumbuhkan, mengenalkan, dan menguatkan nilai-nilai perdamaian sejak kanak-kanak.

Genevieve dan Dan Simperingham, pendiri Peaceful Parent Institute, New Zealand, dalam situs mereka menyatakan; peaceful parenting dapat dilakukan dengan menimbang kombinasi kemampuan atau keadaan berikut ini. Pertama, kemampuan untuk mendengar secara aktif.

Anak-anak belajar mendengar dari pengalaman mereka untuk didengarkan. Mendengar aktif ialah mendengar dengan perhatian, kehadiran, dan respons positif yang memungkinkan tejadi komunikasi terbuka dan tak searah.

Beberapa hal seperti menunjukkan respons melalui bahasa tubuh, nada bicara, dan ekspresi positif perlu dilakukan dalam mendengar anak. Mendengar aktif membantu anak belajar mendengarkan orang lain sekaligus mendorong mereka belajar memahami apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Kedua, membangun kedekatan melalui pemenuhan kebutuhan anak. Respons yang hangat secara konsisten atas kebutuhan--bukan sekadar keinginan--anak mendatangkan perasaan aman bagi anak. Perasaan aman ini hanya muncul dari niatan selalu membangun ikatan, kehangatan, afeksi, dan kemampuan untuk mengenali kebutuhan anak yang sesungguhnya.

Kedekatan semacam itu akan menjadikan anak ‘terlihat, dipahami, dan berharga’ yang berujung pada tumbuhnya perasaan diperhatikan, dilindungi, aman, nyaman, dan percaya diri.

Ketiga, kemampuan memahami dunia anak (attunement). Penting selalu mengasah kemampuan memahami komunikasi nonverbal anak-anak; bahasa tubuh atau nada suara mereka. Membiasakan untuk berbagi perasaan, ide, kreativitas, kegembiraan melalui bermain bersama atau membaca cerita akan memberi pemahaman yang lebih atas dunia mereka.

Keempat, memahami dan mengelola ekspresi emosional. Berkaitan dengan kemampuan memahami berbagai macam perasaan/emosi anak. Ekspresi emosi anak seperti; merajuk, menangis, berteriak--seperti juga berbicara atau tertawa--ialah ekspresi emosional yang wajar bagi anak-anak yang baik untuk ditunjukkan dan bukan dipendam.

Kelima, menyampaikan batasan, aturan, dan harapan dengan cara yang baik. Pada dasarnya, anak belajar melalui contoh yang diberikan orangtua. Membiasakan merundingkan aturan bersama anak dengan penuh perhatian dan kasih sayang akan memberi pengalaman bahwa mereka didengarkan dan dihargai.

Keenam, kesadaran, tanggung jawab, dan komitmen untuk masa kanak-kanak yang lebih baik. Orangtua bisa belajar dari berbagai pengalaman buruk di masa kecil mereka dan memiliki kemampuan untuk mengubahnya. Pengalaman masa kecil akan membantu mereka memahami masalah anak mereka saat ini. Membangun kesadaran akibat buruk penggunaan kekerasan di masa kecil akan membantu orangtua memutus lingkaran setan kekerasan.

Ketujuh, memahami kerentanan anak terhadap stres dan trauma. Perlu komitmen orangtua untuk memahami bahwa perilaku positif mustahil diwujudkan saat anak dalam kondisi stres, tertekan, gelisah, atau merasa tak aman. Perilaku negatif ialah gejala stres dan trauma yang tak dikelola.

Kedelapan, memahami atau bahkan membuat catatan perilaku, perasaan, dan kebutuhan anak. Penting untuk memiliki ingatan dan catatan atas perasaan atau kebutuhan tertentu yang mendorong perilaku dan respons tertentu dari anak. Hal ini akan membantu orangtua mengatasi perilaku negatif anak.

Menimbang maraknya kekerasan dan agresi di sekolah--terutama oleh murid--penting untuk menimbang pengasuhan yang menimbang nilai-nilai perdamaian. Ke depan, yang perlu kita pastikan ialah bukan lagi alternatif yang lebih baik untuk menghukum anak yang mempraktikkan kekerasan dan agresi. Namun, bagaimana membudayakan cara damai dalam menyelesaikan persoalan sekaligus memahami dan memenuhi kebutuhan anak yang menjadi modal perkembangan kecerdasan emosi mereka. Dari rumah dan keluarga, kita harus memulainya.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More