Status Siaga di Riau untuk Antisipasi Dini Karhutla

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Sabtu, 23 Feb 2019, 18:41 WIB Humaniora
Status Siaga di Riau untuk Antisipasi Dini Karhutla

MI/Rudi Kurniawansyah

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprakirakan selama periode Januari hingga Juli terjadi El Nino dengan skala lemah.

El Nino adalah meningkatnya suhu air laut di atas rata-rata normal dan mengakibatkan terjadinya fenomena alam seperti kekeringan karena musim hujan datang terlambat.

Menindaklanjuti itu, sejumlah provinsi bersiap menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang selalu berulang saat musim kemarau. Provinsi Riau telah menetapkan status siaga karhutla sejak 19 Februari hingga 31 Oktober.

Provinsi Riau menjadi salah satu wilayah yang dilanda karhutla tahun ini terutama di Kabupaten Rokan Hilir, Dumai, Bengkalis, Siak, Pekanbaru, dan Kampar.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Raffles B. Panjaitan mengatakan kebakaran di Riau sudah ditangani dengan cepat setelah ditetapkannya status siaga karhutla.

Baca juga : Guru Besar IPB: Jangan Politisasi Status Siaga Karhutla

Menurutnya penetapan status siaga oleh Gubernur Riau langkah yang tepat agar karhutla ditangani dengan cepat dengan menggerakan seluruh satuan dari pemerintah pusat dan daerah termasuk dari kementerian terkait.

Raffles menyampaikan pasukan Manggala Agni KLHK yang berjumlah 135 orang telah menyebar di kabupaten yang mengalami karhutla. Supaya tidak semakin meluas, pencegahan, pemadaman, dan patroli terpadu dengan Babinsa melibatkan masyarakat sudah dilakukan.

"Sudah dilakukan water boombing menggunakan dua pesawat, milik Kementerian LHK dan PT. Sinar Mas. Total 236. 000 liter air digunakan untuk memadamkan wilayah-wilayah yang terkena karhutla," tuturnya ketika dihubungi, Sabtu (23/2).

Di samping itu, Raffles menyampaikan pembuatan sumur bor dan pompa air di sekitar lahan serta sekat kanal di lahan-lahan milik perusahaan cukup membantu mencegah titik api meluas.

Permasalahannya, kata Raffles, untuk pemadaman darat terutama di lahan gambut yang mulai kering, sumber air agak jauh dijangkau.

Terkait luasan lahan yang terbakar, Raffles mengatakan sejak 2016 hingga 2018 terjadi penurunan signifikan secara nasional.

Ia merinci, pada 2015, lahan dan hutan yang terbakar mencapai 2,6 juta Hektare. Kemudian pada 2016 sejak adanya status siaga karhutla, penanganan menjadi lebih cepat dengan menggerakan pasukan sampai ke tingkat tapak dan melibatkan masyarakat desa untuk pencegahan di lapangan sehingga hanya 438.000 Hektare luas lahan yang terbakar pada 2016 dan pada 2017, menurun menjadi 165.000 hektare,

Sedangkan 2018 naik hingga 500.000 hektare karena cuaca lebih panas.

Diakuinya setiap musim kemarau ada daerah-daerah yang rawan mengalami karhutla selain Riau, yaitu Kalimantan Barat, Tengah, Timur, Jambi, Sulawesi Selatan, dan Papua.

Namun setelah adanya penetapan siaga karhutla, penanganan semakin cepat dan terpadu karena pemerintah daerah mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat yakni Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sehingga saat terjadi karhutla, tidak terlalu luas.

Secara terpisah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan total karhutla di Riau sejak Januari hingga 21 Februari seluas 858 hektare lahan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho menyatakan lewat akun Twitter miliknya pada Jumat (22/2) lalu, bahwa di Kabupaten Rokan Hilir, Riau seluas 117 hektare lahan terbakar, di Dumai 46,5 hektare, di Bengkalis 639 hektare, di Meranti 20,2 hektare, di Siak 5 hektare, di Pekanbaru 16,01 hektare, dan di Kampar 14 hektare.(OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More