Pendidikan, Perdamaian, dan Kontribusi NU-Muhammadiyah

Penulis: Ali Usman Pemerhati Pendidikan Pada: Senin, 18 Feb 2019, 00:10 WIB Opini
Pendidikan, Perdamaian, dan Kontribusi NU-Muhammadiyah

MI/Duta

UNIVERSITAS Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengusulkan dua organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, sebagai kandidat untuk memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian Dunia. NU dan Muhammadiyah berkontribusi besar dalam pembangunan demokrasi dan melakukan inisiasi serta aksi nyata dalam perdamaian yang tidak hanya nasional di Indonesia, tetapi juga hingga internasional.

Lalu, apa hubungannya dengan pendidikan? Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM yang menjadi partner riset, sebagaimana hasilnya telah dirilis beberapa waktu lalu, berjudul Dua Menyemai Damai: Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi (2019), memasukkan subbab khusus tentang kontribusi di bidang pendidikan yang dilakukan kedua ormas tersebut.

NU maupun Muhammadiyah merupakan organisasi sipil bercorak keagamaan (Islam) yang tidak memiliki hubungan struktural secara langsung dengan negara atau lembaga-lembaga pemerintahan. Namun, eksistensi NU dan Muhammadiyah telah ada sebelum bangsa ini menjadi negara yang berdaulat pada 1945. NU didirikan 1926 dan Muhammadiyah lebih awal lagi, yaitu di 1912.

Sejak awal berdiri, NU dan Muhammadiyah memiliki perhatian yang sangat serius terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Itulah sebabnya, hingga kini NU dan Muhammadiyah memiliki aset ribuan lembaga pendidikan, dari tingkat paling dasar (PAUD) sampai perguruan tinggi (PT). NU dikenal memiliki jaringan lembaga pendidikan pesantren yang sangat luas, begitu pula dengan Muhammadiyah dikenal karena jumlah aset lembaga pendidikan formalnya yang juga banyak.

NU dan Muhammadiyah, dengan demikian, tidak diragukan lagi telah nyata membantu dan meringankan tugas negara, yang jika bidang pendidikan sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah, pasti kewalahan dan tidak akan mampu menjalankannya secara maksimal. Pada konteks inilah, NU dan Muhammadiyah sebagai bagian dari civil society ikut menyukseskan tumbuh berkembang iklim demokrasi dan perdamaian di Indonesia.


Kontribusi  NU-Muhammadiyah

Secara empiris, kontribusi NU dan Muhammadiyah di bidang pendidikan itu setidaknya bisa diamati dari tiga fakta berikut. Pertama, NU dan Muhammadiyah mengimplementasikan paradigma inklu­sif. Di lingkungan pesantren atau lembaga pendidikan NU, perjumpaan lintas etnik dan agama-agama berupa pertukaran pelajar; kunjungan dari/ke komunitas agama lain hingga belajar Islam di pesan­tren; menjadi fenomena yang lazim terjadi. NU melakukan internalisasi terhadap diktum bahwa perbedaan itu ialah kasih sayang (rahmah), sejalan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Sementara itu, pengalaman Muhammadiyah, telah melampaui wacana pluralisme agama, yaitu memberi kesempatan kepada siswa-siswi nonmuslim untuk bersekolah di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Berdasarkan penelitian Abdul Mu’ti dan Fajar Rizal Ul Haq berjudul Kristen-Muhammadiyah (2009), menunjukkan sekolah-sekolah Muhammadiyah di tiga kota yang menerima siswa dan guru beragama Islam, Kristen, Katolik, serta menerima dari berbagai suku, yakni di Kupang (NTT), Yapen Waropen (Papua), dan Putussibau (Kalimantan Barat). Praktik pendidikan Muhammadiyah dengan menerima siswa dan guru nonmuslim ini dapat meningkatkan public awareness terhadap Islam di kalangan nonmuslim (Azca, dkk:, 2019).

Kedua, orientasi pendidikan yang dikembangkan NU maupun Muhammadiyah memiliki sinergi dengan misi pendidikan nasional yang dicanangkan pemerintah. Berkaitan dengan ideologi, misalnya, bahwa pesantren dan lembaga pendidikan di lingkungan NU-Muhammadiyah tidak mengajarkan perbuatan-perbuatan makar/kriminal yang menjadi ‘musuh’ negara, seperti kasus terorisme.

Implementasi dari praksis pendidikan bagi NU-Muhammadiyah sangat komplementer dengan visi dan misi pendidikan nasional bangsa, seperti penguatan karakter peserta didik dengan cara ikut menyelenggarakan upacara setiap hari-hari tertentu, sinergi kurikulum nasional dengan lokal ke-NU-Muhammadiyah-an, dan lain sebagainya.
 
Ketiga, pendidikan NU-Muhammadiyah telah melahirkan tokoh-tokoh perubahan bangsa, dari sebelum bangsa Indonesia merdeka sampai sekarang, seperti kontribusi KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, KH Wahid Hasyim, Ki Bagoes Hadikusumo sebagai anggota BPUPKI yang ikut andil dalam merumuskan ideologi negara (Pancasila), hingga Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga dunia internasional sebagai pendorong laju perubahan sosial dan terpilih menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia.

Tokoh-tokoh lain dari lulusan pendidikan NU-Muhammadiyah sampai sekarang terus bermunculan dan menjadi mesin penggerak seiring perubahan zaman, baik di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, maupun termasuk pendidikan.

Karena itu, dengan mencermati kontribusi NU-Muhammadiyah, sangat layak jika kedua ormas Islam terbesar di dunia ini masuk nominasi sebagai penerima Nobel Perdamaian Dunia. Semoga benar-benar jadi kenyataan memperoleh penghargaan bergengsi tersebut.

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More