Lestarikan Budaya, UBL Gelar Budi Luhur Minang Festival

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Minggu, 17 Feb 2019, 21:15 WIB Humaniora
Lestarikan Budaya, UBL Gelar Budi Luhur Minang Festival

Ist

BUDI Luhur Minang Festival digelar pada 16 Februari 2019 di Auditorium Universitas Budi Luhur (UBL) Jakarta Selatan. Kegiatan ini diadakan sebagai bentuk kepedulian Universitas Budi Luhur bagi pelestarian budaya di Nusantara.

Pada festival ini, puluhan jenis kuliner jajanan Minang, pertunjukan saluang (suling) oleh seniman Katik Batuah yang dihadirkan langsung dari Minangkabau beserta pasangannya, pelawak khas Minang dan tari-tarian minang.

Dalam kesempatan ini, Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro, MBA, dan Rektor Universitas Budi Luhur, Prof Dr Ir Didik Sulistyanto, memberikan penghargaan kepada tokoh pelestari adat budaya Minang, Yus Datuk Parpatiah.

Didik menjelaskan, Indonesia sangat kaya budaya. Karena itu, kekayaan budaya itu jangan sampai diambil bangsa lain.

"Semua budaya yang ada di Nusantara harus kita jaga dan kita lestarikan. Dan inilah salah satu bentuk bagaimana Universitas Budi Luhur menjaga dan melestarikan budaya Nusantara," kata Didik melalui keterangan tertulis Minggu (17/2).

Ketua Pusat Studi Kebudiluhuran UBL sekaligus Ketua Penyelenggara Budi Luhur Minang Festival 2019, Dr Yusran, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut terbuka untuk umum.

"Angku dun sanak, kami jalang untuk baringan datang. Bagurau Samalam Suntuak Dendang Saluang," ujar laki-laki berdarah Minang ini.


Baca juga: Belajar Bahasa Asing Lebih Mudah lewat Seni


Sementara, Kasih Hanggoro menambahkan bahwa acara ini digelar bagi masyarakat luas untuk menjalin keakraban di Kampus Universitas Budi Luhur. Untuk ke depan, kata dia, festival berbagai budaya Nusantara lainnya seperti Jawa, Batak, Toraja, Dayak, dan sebagainya akan dicoba digelar, karena sivitas akademika Universitas Budi Luhur memang berasal dari berbagai wilayah Tanah Air.

"Dan Universitas Budi Luhur terus akan berusaha menjaga Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika," tandasnya.

Yus Datuk Parpatiah ialah budayawan yang dikenal masyarakat Sumatra Barat melalui rekaman petuah adat, drama, komedi, dan monolog melalui pita kaset. Sejak 1980 hingga 2015, ia sudah menghasilkan 130 judul karya, antara lain, Di Simpang Duo, Maniti Buiah, dan Kasiah tak Sampai yang berbentuk drama, Rapek Mancik dan Bakaruak Arang yang merupakan karya komedi, Pitaruah Ayah, Baringin Bonsai, Diskusi Adat, Panitahan Baralek, Kepribadian Minang, serta Pitaruah Pangulu yang berbentuk petuah adat dan juga dua film yang diproduksi TVRI.

Dalam dekade 1980 hingga 1990-an, karya-karya Yus Datuk beredar dalam bentuk kaset di bawah label Balerong Grup Jakarta. Ratusan ribu kaset karyanya tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara.

Tidak hanya orang Minang yang mendengar karya-karyanya, beberapa peneliti dan pengagum budaya Minangkabau pun turut mengoleksinya. Meski kaset tidak lagi diputar orang, karya Yus Datuk tetap bisa dinikmati melalui format MP3, atau melalui media CD dan VCD. Beberapa videonya pun beredar di YouTube.

Yus Datuk Parpatiah dengan nama lahir Yusbir merupakan anak dari pasangan Abdul Jalil dan Syafiyah. Ia dilahirkan di Nagari Sungai Batang, Agam, Sumbar, pada 7 April 1939. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More