Hulu Laran di Selembar Kain

Penulis: Retno Hemawati Pada: Minggu, 17 Feb 2019, 01:40 WIB Weekend
Hulu Laran di Selembar Kain

MI/Ebet

DESAINER Mel Ahyar mengangkat kain Nusantara untuk memperkaya fesyen Tanah Air dengan lininya Happa yang bekerja sama dengan penyanyi Andien Aisyah. Mereka peka dalam pemilihan bahan dan kain dari daerah yang memiliki nilai historis.

Seperti koleksi Happa yang ke-14 ini mengusung tema Hulu laran yang mempunyai arti ‘penunjuk jalan’. Konon menurut ceritanya ada dua kisah sang penyair dari Timur dan Tari Caci dari bagian barat yang mengajarkan kepada manusia untuk hidup bersama. Dua cerita dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ini yang kemudian diangkat Happa.

“Saya tidak mau kalau mengangkat kain, tapi tidak tahu ceritanya,” Jelas Mel Ahyar saat ditemui di Iwan Tirta Home pada Kamis (7/2). Menurutnya akan begitu sulit jika harus mengeluarkan produk, tapi tidak tahu asal cerita dari kain aslinya.

Sebagai pendiri dari Happa, Mel juga selalu terjun langsung mendatangi para perajin kainnya dan kadang tidak mudah untuk mengerti semua secara keseluruhan ceritanya. Selain baju, Happa dengan mengusung tema Hulu laran yang berkolaborasi bersama Andien Aisyah ini, mengeluarkan tas, sepatu, untuk melengkapi tampilan etnik NTT agar terlihat lebih serasi.

Pada koleksi Happa dengan tema sebelumnya yaitu Tanggai, kisah yang diusung dalam kain ini ialah berasal dari tarian tradisional sebagai simbol keramah-tamahan. Tarian itu berasal dari kerajaan kuno, saat Raja Syaillendra menguasai Sumatra dengan mayoritas masyarakat di sana yang menganut agama Buddha. Mengambil tema Tanggai dan akulturasi karena  ingin memberikan aura positif pada busananya. Mel sendiri mengaku sampai kewalahan menerima pesanan saat itu dan hingga sekarang masih ada yang memesan dengan motif ini.

Kesuksesan dalam setiap tema yang dibawakan Happa juga karena pemilihan bahan yang baik dengan cerita yang jelas dari setiap kainnya. Untuk saat ini baju yang dibuat dari kain NTT ini hanya dipadukan dengan beberapa pernak-pernik, border, dan ilustrasi gambar saja menggunakan teknik digital printing. Tidak seperti sebelumnya yang banyak menambah aksen pada motif dan warnanya. Memang semua juga disesuaikan dengan kain aslinya. Mel hanya mengambil kain berwarna gelap walaupun sebenarnya banyak variasi warna yang ditawarkan.

Namun,  ia hanya mengambil warna gelap dan juga puisi dari sang penyair. Pada koleksi Happa ini juga ada baju yang dibordir dengan puisi sang penyair dengan dua perpaduan warna hitam dan putih yang tampak menawan.

“Kebetulan kami ada koneksi dengan daerah Sumba, NTT, dan sekitarnya. Kamudian kain ini bagus dan akhirnya kami ambil,” kata Andien Aisyah. Ia memang berkolaborasi dengan Mel Ashar karena banyak memiliki selera yang hampir sama. Mulai dari pemilihan bahan, warna, dan gaya pakaian yang akan dikeluarkan. Jadi pekerjaanya ini santai, tetapi tetap menghasilkan dan memiliki nilai serta tujuan yang baik, sebab menurutnya, cerita budaya Indonesia ini sangat beragam dan pantas untuk diketahui dunia. Bukan hanya cerita, kain tenun dan motifnya juga budaya daerah yang sangat menarik untuk diulik.

Menjaga warisan
Setiap perjuangan pastilah ada hasil yang akan dipetik, inilah yang selalu dicoba untuk terus dipegang teguh Happa. Brand ini tidak  pernah absen mengusung kain dari berbagai daerah. Warisan budaya dari Indonesia teramat banyak dan Happa hanya mengambil beberapa warna ritual Tari Caci seperti warna biru, kuning, mustard, merah marun, hijau toska, dan hitam. Warna-warna ini mendominasi keseluruhan warna dari Hulu Laran.

 Happa memang sering mengambil warna-warna yang mendekati gelap dengan padan baju bertumpuk diadaptasi dari pakaian adat NTT yang mengolaborasikan kain tenun dan baju keseha­rian mereka disertai dengan aksesoris khas dari sukunya. Perpaduan yang apik ditambah dengan simbol-simbol dari kekuatan sang penyair, seperti bintang jatuh, burung elang, dan perumpamaan sang penyair.

Tren serta mode setiap tahunnya juga selalu mengalami perkembangan, sehingga banyak yang ingin terlihat tradisional, tetapi tidak terlihat kuno. Seperti cerita Hulu Laran ini, sebenarnya syarat akan budaya tradisional yaitu berasal dari cerita leluhur Wato Wele dan Lia Nurat yang merupakan contoh tradisi para penyair sastra dari suku Lamaholot. Para penyair ini merupakan orang pilihan yang dipercaya mendapatkan anugerah bersyair dari Bintang Jatuh. Sang penyair bertutur, ia didatangi oleh Sili Gokok, seekor burung elang yang diyakini turut memberikannya kemampuan bersastra. Syair ini biasanya digunakan untuk adat pernikahan, upacara penguburan, pembukaan ladang, dan panen.

Dikemas dengan modern dan kain-kain yang mengikuti perembangan zaman, membuat filososi yang ingin disampaikan Happa tetap terjaga. Happa tidak ingin mendominasi kain yang diangkat dari luar, namun modelnya memang disesuaikan pasar. Kain yang diusung akan tetap mengambil dari daerah Nusantara. Selain mengetahui cerita asli dari motif yang ia ambil, itu juga untuk menjaga kesakralan dari cerita tersebut. Ada beberapa motif yang memang tidak bisa semuanya dibuat seperti gambar dewa, alat-alat suci atau barang-barang keramat yang memang tidak boleh untuk dipakai manusia. (Putri Yuniarti/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More