Kanker Anak, Deteksi dan Obati Segera

Penulis: Dhika Kusuma Winata Pada: Rabu, 13 Feb 2019, 02:30 WIB Kesehatan
Kanker Anak, Deteksi dan Obati Segera

Thinkstock

SUDAH satu setengah tahun Farid Ali, 13, tinggal di Rumah Kita, rumah tinggal yang didirikan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) untuk anak-anak yang tengah menjalani pengobatan kanker di Jakarta.

Farid yang berasal dari Bukittinggi, Sumatra Barat, itu menderita kraniofaringioma. Yaitu tumor ganas (kanker) yang berkembang di dekat kelenjar pituitari di bagian dasar tengkorak. Ditemani sang ibu, ia rutin menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

"Sudah banyak kemajuan, tapi kata dokter masih ada sel kanker yang tidak bisa diangkat karna sangat dalam dan dekat dengan pembuluh darah besar, saraf hormon, dan saraf mata," ujarnya saat ditemui di Rumah Kita yang berlokasi di Jl Percetakan Negara No 129, Jakarta, Jumat (8/2).

Meski rindu keluarga di Bukittinggi, ia mengaku betah tinggal di Rumah Kita bersama anak-anak penderita kanker lainnya. "Di sini banyak teman, banyak kegiatan, sering jalan bareng donatur," imbuhnya.

Berbeda dengan Farid, penghuni Rumah Kita lainnya, Vika Triani, 12, asal Bengkulu menderita kanker darah, leukemia mielositik kronis. Sejak setahun ia ditemani ibunya tinggal di Rumah Kita.

Ia menuturkan, dulu sempat putus sekolah namun kini dia bisa melanjutkan di Sekolah-Ku, program pendidikan yang digagas YKAKI untuk anak-anak penderita kanker. "Nilai hasil belajarnya ditransfer ke sekolah saya di Bengkulu," katanya.

Selain bersekolah, di Rumah Kita ia juga mengikuti les musik piano dan beragam kegiatan lain. Tentu saja, kontrol ke dokter sebulan sekali ke rumah sakit tak pernah ia lewatkan. Ia menjalani pengobatan di RSCM menggunakan fasilitas Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Pengalaman Farid dan Vika menunjukkan kanker tak pandang bulu. Serangannya juga bisa menimpa anak-anak. Namun mereka juga membuktikan bahwa penyakit itu tak perlu dihadapi dengan kesedihan tak berujung. Banyak pihak yang mau membantu pengobatan.

Seperti YKAKI dengan program Rumah Kita yang bisa dimanfaatkan secara cuma-cuma (atau membayar hanya Rp5.000 per hari bagi yang mampu). Juga fasilitas KIS dari pemerintah yang membebaskan biaya pengobatan untuk masyarakat tidak mampu.

Terlebih, menurut Konsultan Hematologi Onkologi Anak dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr Mururul Aisyi SpAK, kanker pada anak memiliki peluang kesembuhan yang lebih besar jika dibandingkan dengan kanker pada dewasa.

"Kanker pada anak secara umum memiliki tingkat peluang kesembuhan di atas 80%. Bahkan untuk leukemia bisa 90% survival rate-nya," katanya, Senin (11/2).

Syaratnya, lanjut dia, kanker dideteksi dini dan segera diterapi dengan benar. Namun diakuinya, masih banyak anak penderita kanker yang terlambat diobati. Keterlambataan atau penundaan terapi medis itu berdampak pada berkurangnya tingkat kesembuhan.

"Cancer awareness masyarakat kita masih rendah. Ketika timbul gejala tidak langsung ke dokter. Ataupun ketika didiagnosis pada stadium awal, setelah itu pasien tidak terapi di rumah sakit melainkan ke pengobatan alternatif. Kembali ke rumah sakit ketika sudah makin parah," tuturnya.

Mururul menyarankan para orangtua untuk mengenali enam jenis kanker yang rentan menyerang anak. Kanker tersebut ialah leukemia, retinoblastoma atau kanker mata, osteosarkoma atau kanker tulang yang umumnya terjadi pada lengan dan tungkai anak, limfoma maligna, dan karsinoma nasofaring.

Pemerataan layanan
Senada, Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Ira Soelistyo juga menekankan pentingnya orangtua mengenali gejala kanker pada anak agar tidak tidak terjadi keterlambatan deteksi dan penanganan.

Terkait dengan pelayanan kesehatan kanker anak, menurutnya saat ini sudah cukup maju jika dibandingkan dengan sebelum era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). "Sekarang umumnya semua di-cover oleh JKN. Dengan dukungan pembiayaan tersebut sekarang orang sudah lebih mau periksa ke rumah sakit," ujarnya.

Ke depan, lanjutnya, strategi penanganan kanker anak yang lebih komprehensif, misalnya, dengan pemerataan fasilitas kesehatan dan tenaga spesialis. "Hingga kini, pasien kanker anak lebih banyak ditangani di Jakarta karena terbilang lengkap fasilitas dan tenaganya."

Menanggapi hal itu, Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan pemerintah tidak mengabaikan persoalan kanker anak. Itu dilakukan antara lain dengan layanan kesehatan yang terjangkau melalui JKN. "Kami juga concern dalam upaya pencegahan terhadap faktor risiko melalui edukasi," ucapnya. (*/H-2)

 

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More