Waspadai Leptospirosis saat Musim Hujan

Penulis: (Sru/H-1) Pada: Rabu, 13 Feb 2019, 02:00 WIB Kesehatan
Waspadai Leptospirosis saat Musim Hujan

Thinkstock

MUSIM hujan tengah melanda Tanah Air. Hujan selain menimbulkan banjir, juga menjadi masa rawan penyakit karena berbagai jenis mikroba serta virus lebih mudah berkembang biak di musim ini. Apalagi, jika daya tahan tubuh sedang menurun.

Beberapa penyakit yang sering diderita masyarakat di musim hujan, antara lain influenza atau flu, diare, demam tifoid atau tifus, demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan leptospirosis. Leptospirosis ialah penyakit yang sering muncul ketika banjir melanda, terutama di kota berpenduduk padat.

Penyakit yang disebabkan bakteri leptospira tersebut banyak menginfeksi beberapa hewan, di antaranya anjing, tikus, babi, dan sapi. Hewan yang terinfeksi bakteri leptospira selanjutnya dapat menularkan penyakit tersebut melalui urine atau darah.

Itulah sebabnya, pada saat banjir lebih banyak masyarakat di kota berpenduduk padat seperti Jakarta yang terserang leptospirosis jika dibandingkan dengan daerah yang memiliki penduduk yang lebih sedikit. Penyakit tersebut antara lain ditularkan melalui urine tikus.

"Biasanya, di kota besar leptospira banyak dibawa oleh tikus. Karena penduduk yang padat, ditambah lingkungan yang tidak terjaga, maka perkembangan tikus juga banyak. Urine tikus sangat berbahaya," kata Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi, Jumat (8/2).

Menurutnya, pada 2015 Jakarta mengalami kejadian luar biasa (KLB) leptospirosis. Pada saat itu, Jakarta dilanda banjir besar.

Ia mengungkapkan, penanganan leptospirosis sering terlambat dilakukan atau dideteksi fasilitas kesehatan sebab selain sulit dikenali, penyakit leptospirosis juga memiliki waktu yang panjang untuk dapat dideteksi.

"Penyakit ini memang sulit dikenali karena tandanya sama seperti demam dan bakteri ini bisa baru ketahuan antara dua sampai empat minggu. Jadi, banyak yang terlambat ditangani," terangnya.

Padahal, kelasnya, dampak penyakit tersebut cukup mematikan karena dapat menyebabkan gagal ginjal, radang selaput otak (meningitis), dan sesak napas. Oleh karena itu, seseorang yang mengalami demam dalam waktu lama dan tubuhnya terlihat agak kuning, harus segera ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh pengobatan menggunakan antibiotik. "Obatnya hanya antibiotik," tegasnya.

Nadia lalu merinci, perkembangan bakteri leptospira memiliki dua periode, yakni inkubasi dan infeksius. Masa inkubasi yakni waktu di antara ketika terkena infeksi dan munculnya gejala. Kondisi ini berlangsung selama 10 hari, sedangkan infeksius ialah kondisi saat penderita dapat menularkan kepada orang lain.

Ia mengatakan, masalah tikus sulit dikendalikan. Untuk menghindari terkena penyakit leptospirosis, ia meminta masayarakat untuk lebih waspada pada musim banjir.

Untuk mengantisipasi leptospirosis, ujarnya, Kemenkes terus melakukan sosialisasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait guna memonitor sekaligus sigap dalam mencegah serta menangani penyakit tersebut.

"Seperti di daerah yang terkena bencana saat ini, kami selalu mengingatkan bahwa selain penyakit demam berdarah, ancaman penyakit leptospirosis juga harus menjadi perhatian. Untuk mencegahnya, jagalah kebersihan lingkungan. Sampai sekarang belum ada kasus penyakit ini lagi di daerah yang terdampak bencana," tandasnya. (Sru/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More