Sahroni Optimistis Dapil DKI Tambah Kursi NasDem di Senayan

Penulis: RO/Micom Pada: Selasa, 12 Feb 2019, 16:33 WIB Politik dan Hukum
Sahroni Optimistis Dapil DKI Tambah Kursi NasDem di Senayan

istimewa

PARTAI NasDem Optimistis mampu membalikkan prediksi hasil Lembaga Survei Charta Politika yang memperkirakan partai tersebut tidak akan menyumbang satupun kursi di DPR dari daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta III.

Optimisme itu diutarakan Anggota DPR dari Fraksi NasDem Ahmad Sahroni pada acara rilis Survei Pileg Dapil DKI Jakarta 1, 2, dan 3 dengan tema Menerka Wajah Wakil Rakyat Ibukota 2019-2014, Senin (11/2) di Jakarta.

Sahroni yang kini tercatat sebagai anggota Komisi III DPR ini menyebutkan bahwa pada Pileg 2014 sejumlah riset bahkan tidak memunculkan nama calon legislator (caleg) NasDem untuk DPR. Namun kemudian hasil Pileg berkata lain, dimana NasDem meloloskan satu kursi dari Jakarta yang diwakili oleh Ahmad Sahroni.

“Dulu (Pileg 2014) nama Ahmad Sahroni tidak ada dalam survey tapi menghasilkan satu kursi. Sekarang ada namanya (dalam survey), satu kursi pasti dijamin dapat. Gak ada namanya dapat satu kursi, gimana ada namanya?” Sahroni meyakini.

Pada kesempatan itu, Sahroni mengungkapkan strategi dirinya menarik hati para pemilih di Dapil III dengan aksi nyata turun langsung ke masyarakat. Data diterima dari Ahmad Sahrorni Center (ASC), selama menjabat sebagai wakil rakyat sejak Oktober 2014, Ahmad Sahroni setidaknya telah melakukan 129 kunjungan ke masyarakat dengan kapasitasnya sebagai anggota DPR/MPR dalam berbagai kegiatan seperti reses, kunjungan kerja daerah pemilihan, dan sosialisasi 4 pilar.

Sebagai contoh, Sahroni tak pernah melewatkan enam kali kunjungan daerah pemilihan (kundapil) setiap tahunnya yang diatur oleh UU No 17 Tahun 2014 Tentang, MPR, DPR, DPD, dan DPRD, serta Peraturan DPR RI No 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib. Pun demikian kegiatan reses menyerap aspirasi di daerah pemilihannya, dilakukan wakil rakyat dengan panggilan akrab Anak Priok ini lebih dari 10 kali setiap tahunnya. Ahmad Sahroni juga kerap tak membatasi pertemuan dengan masyarakat hanya dengan 100 orang seperti diatur dalam perundangan. Masyarakat yang diberikan undangan bertatap muka dengannya kerap berjumlah 500 hingga 1000 orang.

“Semangat kerja, maju terus, pantang mundur,” Sahroni menanggapi rilis Charta Politika.

Survei Charta Politika yang menempat Sahroni menjadi salah satu caleg dengan popularitas dan elektabilitas yang cukup tinggi di Dapil DKI III. Survei tersebut menempatkan Sahroni dengan tingkat elektabilitas 4,0 persen, bersaing ketat dengan nama-nama lain seperti Charles Honoris (PDIP), Lulung Lunggana (PAN), Yusril Ihza Mehndra (PBB) dan Adang Dardjatun (PKS).

Direktur Riset Charta Politika, Muslimin pun memperkirakan pertarungan antarcaleg di Dapil DKI Jakarta III akan berlangsung ketat. Hal ini mengacu pada anomali yang ditemukan dari hasil survei dimana jika di Dapil DKI I dan II popularitas partai mengungguli calegnya, di Dapil DKI III justru popularitas caleg melampaui partai pengusungnya.

Kondisi ini menurut Muslimin sekaligus mengingatkan para caleg di dapil DKI III untuk bekerja keras meyakinkan masyarakat agar lebih bijak dan cermat memilih calon anggota DPR yang nantinya mewakili suara mereka di parlemen pada periode keanggotaan DPR 2019-2024.

Terlebih survei ini menurut Muslimin mengungkap bahwa 34 persen pemilih masih berpeluang merubah pilihannya. "Artinya para caleg masih memiliki kesempatan dalam dua bulan ke depan mempengaruhi pemilih yang 34 persen menetapkan pilihannya," ujar Muslimin.

Senada, Sahroni mengimbau agar warga Dapil DKI Jakarta III cermat memilih caleg yang secara konsisten mau turun mendengar aspirasi warga dan sekaligus mencarikan solusi atas persoalan tersebut.

"Pilihlah caleg yang tidak pernah absen di masa reses, mendengar dan mencari solusi pada persoalan masyarakat," pungkas Sahroni. (A-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More