Tarif Tol Trans-Jawa bakal Dikaji Ulang

Penulis: ANDHIKA PRASETYO Pada: Selasa, 12 Feb 2019, 09:50 WIB Ekonomi
Tarif Tol Trans-Jawa bakal Dikaji Ulang

ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF
Mobil melintas di jalan tol Jombang-Mojokerto (JOMO) Desa Tampingmojo, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur

MENTERI Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono akan mengumpulkan seluruh pengelola pengoperasian Tol Trans-Jawa. Hal itu untuk mengevaluasi dan mendapatkan pandangan terkait dengan tarif jalan bebas hambatan tersebut yang dinilai masih terlalu mahal, terutama untuk angkutan logistik. “Ada informasi soal tarif Trans-Jawa mahal. Saya sedang coba kumpulkan semua pihak karena ini kan terdiri dari banyak BUJT (badan usaha jalan tol), mulai dari Jasa Marga, Waskita Toll Road, Astra Tol Nusantara, Sumber Mitra Jaya. Jadi harus dikumpulkan dulu semua dan kita diskusikan,” ujar Basuki di kantornya, Jakarta, kemarin. Ia mengatakan pertemuan tersebut rencananya dilaksanakan segera pada bulan ini. “Saya minta BUJT menyamakan jadwal mereka,” lanjutnya. Menurut Basuki, pemerintah sebetulnya telah melakukan berbagai upaya untuk menekan tarif tol, mulai penyederhanaan dari lima menjadi tiga jenis golongan harga sampai pemberian diskon sebesar 15% untuk dua bulan pertama pengoperasian Tol Trans-Jawa.

“Itu sebetulnya turun sudah banyak, tapi mungkin masih terasa mahal,” tuturnya. Tol Trans-Jawa sepanjang kurang lebih 1.000 kilometer menghubungkan ujung barat hingga timur Pulau Jawa. Tol tersebut dibuat dengan tujuan mempermudah arus orang dan barang. Namun, para pengusaha logistik mengeluhkan mahalnya tarif tol tersebut. Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto beberapa waktu lalu mengungkapkan untuk melalui Tol Trans-Jawa, misalnya, diperlukan biaya total mencapai Rp1,3 juta, sedangkan kemampuan daya beli dari pelanggan jasa logistik tidak naik. Menurut dia, para pengusaha menginginkan untuk biaya tol setidaknya tarif bisa turun 50%.
Direktur Operasi II PT Jasa Marga Subakti Syukur mengakui penetapan tarif untuk Trans-Jawa belumlah fi nal. Pihak Jasa Marga masih melakukan penelitian bersama para ahli dan akademisi guna mendapatkan variabel
yang tepat untuk jarak dan tarif maksimum. “Tapi ini kan butuh waktu. Maka itu, dua bulan awal ini kami beri diskon dulu 15%. Kalau penelitian sudah beres, katakan kami bisa diskon sampai 60%, itu akan ada penyesuaian lagi,” ujar Subakti di kantornya, kemarin.
 

Ketersediaan warung kopi
Namun, menurut Basuki, persoalan tarif sebetulnya bukanlah satu-satunya hal yang memicu para sopir truk enggan melewati Tol Trans-Jawa dan lebih senang lewat jalur pantai utara (pantura) Pulau Jawa. Pertama, kata dia, ialah ketersediaan warung kopi. Jika melalui jalur pantura, sopir truk memiliki banyak pilihan tempat beristirahat lantaran banyaknya warung kopi yang buka di sepanjang jalan. Sebaliknya jika melalui tol, sopir harus menunggu sampai tiba di rest area yang jumlahnya terbatas. “Harganya juga berbeda. Di warung kopi paling Rp10 ribu dapat. Di rest area bisa lebih mahal,” ucapnya. Faktor lainnya, kata Basuki, ialah kekhawatiran para sopir jika terjadi insiden di jalan tol.
Jika melalui pantura dan truk mengalami kebocoran ban, sopir bisa memperbaiki di mana saja dan mudah untuk mendapat pertolongan. “Kalau di tol kan tidak bisa. Harus cari rest area,” ujarnya. (E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/2) akan digelar debat kedua Pilpres 2019. Debat kali ini akan mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kedua ini?





Berita Populer

Read More