Perkuat Implementasi Pendidikan Karakter

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Selasa, 12 Feb 2019, 00:15 WIB Humaniora
Perkuat Implementasi Pendidikan Karakter

MI/ROMMY PUJIANTO

KASUS perundungan guru oleh siswa di SMP PGRI, Gresik, Jawa Timur, yang sempat viral berakhir damai. Keluarga dan siswa telah meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuat­an tak terpuji itu. Meski begitu, evaluasi dan pembenahan perlu dilakukan dengan mengedepankan pembinaan terhadap siswa dan sekolah.

“Kasus ini berakhir dengan damai. Mereka difasilitasi Kapolres Gresik bertemu bersama Dinas Pendidikan Gresik, siswa dan orangtua serta guru dan sekolah terkait. Pelaku telah meminta maaf dan tidak akan mengulangi lagi,” kata Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud, Hamid Muhammad, di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, kasus perun­dungan tersebut viral di media sosial sejak Sabtu (9/2). Dalam video berdurasi 22 detik tampak guru menghampiri dan menegur siswanya di kelas. Namun, siswa tersebut malah melawan dan menantang sang guru berkelahi. Siswa lain hanya tertawa-tawa.

Menurut Hamid, jika sekolah tersebut melaksanakan program penguatan pendidikan karakter (PPK), kasus itu mungkin tidak terjadi. Dia menyarankan pihak pemda dan yayasan penyelenggara pendidikan melakukan pembenahan.

“Di setiap kabupaten dan kota sudah ada sekolah percontohan (yang menjalankan program PPK), tinggal diperluas ke sekolah lain,” imbuhnya.

Secara terpisah, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menekankan pentingnya evaluasi dan pembenahan untuk ke depannya. Tidak fokus menghukum pihak yang dianggap salah, tapi meng­utamakan pembinaan terhadap siswa dan sekolahnya.

“Anak tentunya wajib belajar dari kesalahannya. Namun, anak juga harus diberi kesempatan memperbaiki diri,” ujarnya.

Menyinggung program PPK, menurutnya, program tersebut belum membumi. Akibatnya, banyak sekolah yang belum paham bagaimana mengimplementasikannya.

“Namun, pendidikan karakter sejatinya tidak hanya didapat di lingkungan sekolah. Karakter seorang anak sangat dipengaruhi pola asuh dalam keluarga,” cetus Retno.
Faktor siswa dan guru

Menurut Retno, kemungkinan ada dua faktor yang menyebabkan siswa tersebut berperilaku kasar pada guru. Pertama, karena karakter siswa yang kurang terbina dengan baik di rumah maupun di sekolah. Bisa juga karena siswa sudah kecanduan gim daring yang mengandung unsur kekerasan sehingga anak tidak bisa membedakan antara perilaku di dunia maya dan di dunia nyata.

Faktor kedua, papar Retno, bisa berasal dari sang guru, seperti rendahnya kompetensi pedagogis guru, terutama dalam penguasaan kelas serta dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menantang kreativitas serta minat siswa.

“Kemampuan manajemen pengua­saan kelas dengan karakter siswa yang bermacam-macam perlu dilatih. Hal ini merupakan tanggung jawab dinas pendidikan dan Kemendikbud,” pungkasnya. (H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More