Industri Perhotelan Terpukul Tiket Pesawat

Penulis: Cahya Mulyana Pada: Senin, 11 Feb 2019, 20:15 WIB Ekonomi
Industri Perhotelan Terpukul Tiket Pesawat

ANTARA FOTO/Audy Alwi

KETUA Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani meminta industri moda angkutan udara memperhatikan kelangsungan industri pariwisata dan perhotelan dalam perumusan harga tiket. Hal itu supaya okupansi hotel dan jumlah wisatawan tidak tergerus akibat ongkos pesawat naik.

"Jadi intinya tiket pesawat mahal dengan kenaikan sangat tinggi rata-rata 40%. Kami sudah mulai merasa dampaknya jadi terjadi penurunan okupansi antara 20-40% dan terjadi dibeberapa daerah," terangnya ditemui saat menghadiri Rakernas dan HUT ke 50 PHRI di Jakarta, Senin, (11/2)

Menurut dia, kebijakan pelaku industri angkutan udara sangat berimbas pada kunjugan wisatawan dan penyewaan kamar hotel. Hal itu sudah terbukti saat beberapa maskapai menaikan harga tiket meskipun pada akhirnya kembali diturunkan serta bagasi berbayar.

Menurut dia, industri hotel dan restoran merupakan bagian dari rantai industri pariwisata yang didalamnya termasuk industri angkutan udara. Dengan begitu seluruh kebijakan yang diambil memberikan efek domino.

Akibat kebijakan kenaikan harga tiket beberapa waktu lalu, kata dia, menyebabkan okupansi hotel turun hingga 40% di beberapa tujuan wisata. Selain itu secara nasional okupansi hotel juta turun 5-10%, menjadi 50-55% dibandingkan tahun lalu 60-65%.

Ke depan ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam industri pariwisata dapat lebih bersinergi. Kemudian untuk menekan harga tiket pesawat turun supaya okupansi dan wisatawan naik, pemerintah perlu mengkaji ulang harga avtur.

Itu dengan memberi ruang badan usaha lain selain PT Pertamina dapat menyalurkan avtur supaya harganya lebih kompetitif. Kemudian juga memangkas pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% untuk avtur dan suku cadang pesawat.

Selain itu, Hariyadi menjelaskan pihaknya mendukung pemerintah terkait target kunjungan wisatawan asing pada 2019 sebanyak 20 juta orang. Meski demikian itu tidak akan meningkatkan okupansi hotel karena pertumbuhan hotel terus naik.

"Jumlah kamar hotel berbintang pada tahun lalu mencapai 350 ribu kamar dan nonbintang 310 ribu kamar. Itu naik 25 ribu kamar atau 7,7% dibanding 2017. Pertumbuhannya memang tidak hanya yang konvensional, tetapi juga nonkonvensional, seperti AirBnB," katanya.

Pada kesempatan sama Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan pihaknya telah menurunkan tim khusus untuk mencari jalan tengah dari kebijakan tarif tiket pesawat bagasi dengan Kementerian Perhubungan. Pasalnya ketentuan tersebut berdampak pada industri pariwisata dan perhotelan.

Itu seperti terjadi beberapa waktu lalu yang menaikan tarif secara mendadak dan menjadi pertimbangan masyarakat untuk berwisata. "Tapi kalau penurunan tarif boleh besar dan mendadak," jelasnya.

Selain itu ia meminta industri perhotelan untuk membuat banyak acara dan program untuk menarik pengunjung. Kemudian target okupansi hotel pada 2019 tidak akan berubah dari okupansi tahun ini yakni sekitar 55% karena maraknya pertumbuhan hotel baru.

"Target kunjungan wisman kita tahun ini 20 juta dengan devisa USD 20 miliar. Untuk tahun ini devisa dari industri pariwisata kami harapkan paling tinggi karena menyentuh 17 juta wisman dan sekitar USD 17 miliar bersaing dengan batu bara dan nanti (perbandingannya) mainnya di koma saja di data BPS," pungkasnya. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pada Sabtu (13/4) digelar debat kelima Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Debat ini akan mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan, dan industri. Menurut Anda, siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?






Berita Populer

Read More