Pascabrexit, Inggris dan Swiss Teken Kesepakatan Dagang

Penulis: Antara Pada: Senin, 11 Feb 2019, 14:00 WIB Internasional
Pascabrexit, Inggris dan Swiss Teken Kesepakatan Dagang

Daniel LEAL-OLIVAS/AFP

INGGRIS dan Swiss, Senin (11/2), akan menandatangani kesepakatan untuk melanjutkan perdagangan dengan syarat prefensial pasca - Brexit, kata Departemen Perdaganagn Inggris, melindungi hubungan perdagangan senilai 32 miliar pounds.

Peresmian kesepakatan tersebut, yang sebelumnya telah diumumkan, merupakan satu dari langkah nyata Inggris yang dibuat untuk memastikan bahwa semua kesepakatan dagang yang saat ini mendapat keuntungan dari keanggotaan Uni Eropa akan terus berlanjut hingga Inggris meninggalkan blok tersebut bulan depan.

"Ini tidak hanya akan membantu mendukung pekerjaan di seluruh Inggris tetapi juga akan menjadi landasan yang kuat bagi kita untuk membangun hubungan dagang bahkan yang lebih kuat dengan Swiss saat kita meninggalkan Uni Eropa," kata Menteri Perdagangan Internasional Liam Fox dalam satu pernyataan.

Kesepakatan tersebut mencerminkan strategi "mind the gap" Swiss untuk memastikan hubungan dagang yang mulus dengan Inggris, terlepas dari apakah London nantinya bisa mandek dan menyetujui perjanjian keluar resmi dengan Brussel pada 29 Maret, tanggal yang dijadwalkan untuk meninggalkan Uni Eropa.

 

Baca juga: Menteri Inggris Diam-Diam Bahas Penundaan Brexit

 

Inggris menemui jalan buntu dalam perundingan ulang di menit-menit terakhir kepakatan keluar yang disetujui dengan Uni Eropa tahun lalu tetapi itu sangat ditolak oleh parlemen Inggris pada Januari.

Pemerintah pada Januari mengatakan mereka mengharapkan Inggris akan memiliki sebagian besar kesepakatan yang diperlukan untuk menciptakan kembali kesepakatan dagang yang sudah ada antara Uni Eropa dan negara ketiga yang siap hingga akhir Maret.

Kesepakatan lanjutan serupa telah diumumkan dengan Israel dan kesepakatan "pengakuan mutual" telah disetujui Australia dan Selandia Baru.

Namun Kepala Konfederasi Industri Inggris, Carolyn Fairbairn pada Minggu mengatakan "mimpi buruk yang berlangsung " dari keluarnya Inggris berarti bahwa mitra dagang utama seperti Jepang dan Korea Selatan enggan menandatangani kesepakatan hingga mereka mengetahui bentuk pasti dari hubungan Inggris- Uni Eropa di masa mendatang.

"Ini akan menjadi keputusan bahwa urusan tersebut akan menyertai pekerjaaan dan investasi - dan mereka akan mengurangi itu - sehingga Anda memiliki sedikit potensi terhadap perdagangan global, itu artinya akan lebih sedikit investasi di masa mendatang dan itu berarti lebih sedikit pekerjaan di masa depan," kata dia kepada Sky News. (OL-3) 
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/2) akan digelar debat kedua Pilpres 2019. Debat kali ini akan mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kedua ini?





Berita Populer

Read More