Markah Cinta Raja Shah Jahan

Penulis: Retno Hemawati Pada: Minggu, 10 Feb 2019, 08:40 WIB Weekend
Markah Cinta Raja Shah Jahan

MI/RETNO HEMAWATI

Matahari belum muncul secuil pun. Kami bergegas dengan udara yang sangat dingin, tujuh derajat celsius. Baju yang kami kenakan mesti dibuat bertumpuk-tumpuk agar hangat.

PAGI itu, 14 orang rombongan Indonesia undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia yang baru saja bertugas untuk South Asia Tourism and Travel Expo (SATTE) 2019, berangkat dari Crowne Plaza New Delhi menuju Agra, Uttar Pradesh. Ya, kami akan bertandang ke Taj Mahal yang ikonis tersebut.

Perjalanan yang sedianya dimulai pukul 03.00 waktu setempat, urung dilakukan. Kami berangkat molor dua jam dari rencana awal. "Kita tidak mungkin melakukan perjalanan pukul 03.00, kabut sangat tebal, jalanan licin dan berbahaya," kata pengemudi bus yang kami tumpangi semalam sebelumnya.

Matahari tentu saja belum muncul secuil pun. Kami bergegas dalam udara yang terasa amat dingin, tujuh derajat celsius. Baju yang kami kenakan mesti bertumpuk-tumpuk agar tubuh tetap hangat.

Perjalanan yang kami lewati setidaknya sepanjang 222 kilometer dan ditempuh selama empat jam melewati Taj Express Highway. Dua kali rombongan kami berhenti, untuk mencecap masala chai panas, teh hitam dengan campuran rempah-rempah dan rempah-rempah aromatik khas India. Minuman itu pas untuk menghangatkan badan dan juga menyempatkan diri untuk sarapan. Mengudap naan, yang ditemani banyak kari.

Kami sampai di Taj Mahal setidaknya pukul 10.00 waktu setempat. Cuaca sangat cerah meskipun dingin masih menggigit. Dari lokasi parkir, kami menaiki kendaraan terbuka khusus untuk di area Taj Mahal saja.

Di tempat bersejarah ini, ada banyak tour guide yang berupaya menawarkan jasa. Mereka bilang, mereka ialah petugas pemerintahan dengan tarif resmi. Mereka juga menunjukkan semacam kartu, yang sebenarnya tidak terbaca juga karena lusuh.

Kami mengangguk-angguk setelah salah satu dari mereka menjelaskan tarif dan bagaimana prosedural untuk masuk ke sana. Suraj, demikian lelaki itu menyebutkan namanya, akan menemani kami setidaknya hanya dalam waktu satu jam, tidak lebih.

Untuk masuk ke sana, pengunjung mesti bebas dari makanan dan minuman. Untuk memastikan hal tersebut, mesin X-Ray yang usang harus dibantu dengan pemeriksaan manusia.

Setiap orang asing yang masuk akan dikenai biaya 1.100 rupee atau sekitar Rp220 ribu, dua kali lipat jika dibandingkan dengan harga tiket masuk warga lokal.

Dengan membayar seharga itu, pengunjung mendapatkan air mineral dan juga pembungkus sepatu, mirip dengan pembungkus kepala sekali pakai.

Kebersihan memang sangat diutamakan di Taj Mahal yang dibangun oleh arsitek Ustad Ahmad Lahauri ini. Burung-burung, serangga, dan hewan-hewan kecil hidup dengan nyaman dan tidak terganggu dengan pengunjung yang jumlahnya ribuan.

Lingkungan di area seluas 22,4 hektare, tempat bangunan ini berdiri, sangat terasa asri. Apalagi, dilengkapi kolam, air mancur, dan bangunan-bangunan lama. Udaranya bersih dan sampah rapi terbuang di tempatnya. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan lingkungan di luar Taj Mahal.

Berkunjung ke Taj Mahal, memang serasa berkunjung ke istana, mungkin karena pemandangan saking megahnya. Padahal, Taj Mahal ini ialah makam, mausoleum. Ya, makam Mumtaz Mahal. Sang suamilah, Raja ternama Shah Jahan, yang membangunnya sebagai pertanda cinta bagi mendiang istrinya tersebut.

Butuh 22 tahun untuk mendirikan Taj Mahal. Makam ini baru rampung dibangun pada 1653 dan kemudian ditahbiskan sebagai situs warisan dunia UNESCO pada 1983. Taj Mahal juga menjadi pemenang dalam inisiatif tujuh keajaiban dunia baru pada 2007.

Patuh

Saat bertandang, para pengunjung Taj Mahal mesti patuh dengan peraturan yang diterapkan, termasuk tidak boleh mengambil gambar ketika berada di dalamnya.

Selain itu, dengan banyaknya pengunjung, setiap orang harus antre dengan tertib. Semua petunjuk keluar atau masuk, harus lewat kanan atau kiri, sangat jelas terbaca. Taj Mahal memang terasa dikelola dengan serius.

Belum puas berkeliling karena waktu terbatas dan ingin pengalaman lain? Anda bisa juga melakukan sesi pemotretan ala-ala gadis India yang mengenakan kain sari warna-warni lengkap dengan aksesorinya, cantik!

"Bisa kok sewa baju kain sari itu, cuma Rp200 ribu," begitu kata Suraj. Dia menambahkan, seandainya pengunjung ingin membeli busana sari tersebut, seharga Rp1,5 juta, di sekeliling Taj Mahal banyak toko-toko yang menjualnya.

Di luar Taj Mahal juga banyak pedagang suvenir dengan harga yang beragam. Anda bisa pilih sesuka hati dengan harga yang relatif terjangkau. Namun, hati-hati saat Anda akan menukar uang, harus sedikit teliti dan juga harus melakukan negosiasi di depan agar kurs tidak jomplang. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/2) akan digelar debat kedua Pilpres 2019. Debat kali ini akan mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kedua ini?





Berita Populer

Read More