'Bali Pulau Plastik' Diharap Ubah Cara Pandang Soal Sampah

Penulis: Arnoldhus Dhae Pada: Rabu, 30 Jan 2019, 18:27 WIB Nusantara

ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

FILM pendek berjudul Bali Pulau Plastik diluncurkan di Denpasar, Rabu (30/1). Peluncuran film dokumenter yang menceritakan Pulau Bali yang identik dengan plastik itu dihadiri awak media, aktivis lingkungan hidup dan berbagai elemen lainnya.

Turut hadir Ewa Wojkowska (Kopernik) sebagai pembicara. Film tersebut merupakan sebuah serial menarik terbaru dari Kopernik, Akarumput dan Visinema Pictures yang menelusuri masalah sampah dengan melibatkan inisiatif lokal di seluruh Pulau Bali. Peluncuran serial itu direncanakan 1 Februari 2019 di Potato Head Bali.

Film berjenis dokumenter itu direncanakan akan tampil dalam 10 episode dengan durasi paling singkat selama 30 menit. Isi dari 10 episode, semuanya tentang Balimemerangi sampah plastik dengan target audiens dari seluruh kalangan di Bali mulai dari banjar, desa, kelurahan, kelompok muda mudi Bali, pemerintah dan bahkan industri plastik.

"Kami ingin menunjukan kepada dunia bahwa Bali memiliki banyak simpul dalam memerangi sampah plastik, mulai dari agamanya, budaya, kearifan lokalnya dan seterusnya. Tujuannya adalah mengubah paradigma warga Bali dalam memerangi sampah plastik, mengenal berbagai potensi dan sumber daya lokal dalam menangani sampah. Kita ingin agar dunia atau minimal daerah lain di Indonesia mengetahui simpul-simpulnya dalam memerangi sampah plastik," ujar musisi Bali sekaligus pemrakarsa film dokumenter Bali Pulau Plastik, Gede Robi Supriyanto.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Gerakan Nasional Atasi Limbah Plastik

Sutradara Dandhy Laksono mengatakan secara keseluruhan, isi dari film dokumenter ini adalah kondisi riil di lapangan yang ada di Bali. Tidak ada hal yang direkayasa. Data yang disajikan adalah data general, fakta lapangan terbaru.

Intinya, plastik itu adalah masalah bersama namun solusinya ada di dalam diri tiap-tiap orang baik sebagai perorangan maupun lembaga mulai dari pemerintah maupun swasta.

"Targetnya adalah perubahan paradigma dan tingkah laku dalam memerlakukan sampah itu sendiri. Kita ingin agar pikiran setiap orang berubah mengenai cara melihat sampah," tambah Dandhy.

Robi menegaskan, di Bali sudah ada payung hukum mengenai sampah plastik oleh Kota Denpasar dan Provinsi Bali. Namun peraturan pembatasan kantong sampah plastik itu baru satu langkah dalam mencegah sampah plastik.

"Kita pernah melakukan hitung-hitungan. Dalam satu rumah tangga itu, 70% adalah sampah organik dan bahkan lebih. Sementara 30% adalah sampah anorganik. Sementara 25% dari 30% merupakan sampah yang bisa dijual ke pemulung. Artinya persoalan selesai dan ini memberikan rezeki kepada pemulung. Hanya 5% yang perlu penanganan seperti kantong plastik, pembungkus makanan, dan sejenisnya. Payung hukum sebenarnya baru menyentuh yang 5% tersebut," tuturnya.

Hingga saat ini, penanganan sampah di bali masih terbilang primitif. Warga mengumpulkan sampah, dibawa ke TPS dan petugas mengangkut ke TPA. Sementara yang benar, urusan sampah selesai di tingkat rumah tangga.

Sebenarnya telah banyak prakarsa besar yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran publik terkait dampak sampah plastik di Bali. Melalui serial video ini diharapkan dapat menggaungkan kampanye tersebut ke ranah yang lebih luas dan mengubah perilaku masyarakat Bali dalam pengelolaan sampah plastik.

Bali menghasilkan 268 ton sampah plastik setiap harinya dan 44% di antaranya tidak diolah sehingga mencemari lingkungan.

“Dari jumlah itu, 45% adalah sampah plastik lunak, 15% plastik keras dan besi. Dari sampah plastik lunak, yang terbanyak adalah plastik kemasan sebanyak 40%, kemudian makanan atau yang berlabel, sedotan sebanyak 17%, dan kresek sebanyak 15%," tukas Dandhy.

Selain itu ada 4,8–12,7 juta ton sampah plastik yang terbuang ke laut dalam setahun. lndonesia sendiri menghasilkan lebih dari 45,3 juta ton sampah per tahunnya, sepertiga dari jumlah tersebut tidak tertangani dengan baik.

“Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik ke laut kedua terbesar di dunia setelah Tiongkok."(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More