Industri Migas Harus Kompetitif

Penulis: Cahya Mulyana Pada: Rabu, 23 Jan 2019, 06:30 WIB Ekonomi
Industri Migas Harus Kompetitif

MI/AGUS M

INDUSTRI yang berkiprah di sektor energi di Indonesia diharapkan semakin kompetitif. Dengan demikian, industri itu dapat menciptakan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Hal tersebut dikemukakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dalam kuliah umum bertajuk Mewujudkan Energi Berkeadilan yang Berkelanjutan di Grand Studio Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, kemarin.

Hadir mengikuti kuliah umum itu Deputy Chairman Media Group Lestari Moerdijat, President Director Metro TV Suryopratomo, Plt Direktur Utama Media Indonesia Firdaus Dayat, Direktur Pemberitaan (nonaktif) Media Indonesia Usman Kansong, Plt Direktur Pemberitaan Media Indonesia Gaudensius Suhardi, dan tamu undangan lainnya.

"Masyarakat untung apabila harga energi murah," kata Jonan di acara yang digelar untuk merayakan HUT ke-49 Media Indonesia itu.

Untuk itu, lanjut Jonan, pemerintah mendorong industri yang bergerak di subsektor minyak dan gas dengan serangkaian kemudahan serta kepastian berusaha melalui perbaikan regulasi.

"Pada 2018 kami menderegulasi 186 perizinan dan sertifikasi. Masih ada 60-70 regulasi yang perlu dikaji untuk kemudahan investasi. Kami berpegang pada Pasal 33 UUD 1945 yang menggariskan seluruh kekayaan alam dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat," ujar Jonan kepada sekitar 200 undangan tersebut.

Di depan undangan dari BUMN, perusahaan energi, transportasi, properti, perbankan, kementerian/lembaga, Kadin, perguruan tinggi, pemda, dan perhotelan itu Jonan mencontohkan munculnya perusahaan ritel ikut mendorong harga BBM lebih murah dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

"Exxon siap turun di sektor ritel dengan membangun 10 ribu SPBU mini. Kata Presiden, silakan. Semakin banyak ope-rator, harga lebih kompetitif dan rakyat untung. Perusahaan pelat merah dan swasta punya kesempatan sama untuk meningkatkan kedaulatan energi nasional," ungkap Jonan.

Pemerintah juga mendorong turunnya harga gas seiring dengan meningkatnya infrastruktur jaringan gas kota. "Minimal 500 ribu rumah memanfaatkannya setiap tahun. Ini memangkas impor elpji hingga US$50 juta per tahun," tambahnya.

Di sektor kelistrikan, pemerintah sangat berharap tarif listrik juga turun. "Saya, Menteri BUMN, dan Dirut PT PLN sepakat tarif listrik itu bisa semakin terjangkau. Kami pastikan batu bara memenuhi kebutuhan pembangkit," tandas Jonan.

Isu sosial
Dalam menanggapi Jonan, Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan, meng-akui iklim usaha di sektor energi masih memerlukan beberapa sentuhan tambahan agar semakin kompetitif.

"Belum lagi ada kekhawatir-an jika ganti menteri, berubah lagi kebijakan. Selain itu, perlu ada kemudahan dan perlakuan khusus sehingga bisa menarik investasi. Isu sosial kemasyarakatan kerap menjadi penghambat bagi investor migas untuk masuk ke Indonesia. Banyak sekali persoalan atau tuntut-an dari masyarakat sehingga memberatkan investor," kata Mamit. (X-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/2) akan digelar debat kedua Pilpres 2019. Debat kali ini akan mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kedua ini?





Berita Populer

Read More