Pemerintah Minta Bulog Serap Jagung Petani

Penulis: Andhika Prasetyo Pada: Selasa, 22 Jan 2019, 18:31 WIB Ekonomi
Pemerintah Minta Bulog Serap Jagung Petani

Dok. MI

PEMERINTAH menugaskan Perum Bulog menyerap jagung produksi petani pada masa panen raya yang diprediksi akan tiba, Februari hingga April.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan pasokan yang melimpah harus dapat terserap secara maksimal agar harga tidak turun terlalu drastis.

"Nanti sebagian akan diserap Bulog. Bulog akan simpan untuk persiapan akhir tahun," ujar Amran usai menghadiri rapat koordonasi terbatas di Kantor Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (22/1).

Bulog akan diupayakan memiliki stok penyangga untuk memenuhi kebutuhan pada akhir tahun ketika tidak ada produksi jagung di Tanah Air. Pemerintah tidak ingin tragedi tahun lalu, yakni ketika stok menipis membuat harga melonjak sehingga para peternak kecil kelimpungan, terulang.

"Dulu kita lakukan ini untuk beras saja. Sekarang jagung juga, untuk disimpan dan digunakan saat paceklik, saat panen rendah. Itu rencana kita," jelas Amran.

Baca juga: Darmin Sebut Impor Jagung untuk Tekan Harga

Kendati demikian, ia mengatakan pemerintah tidak menargetkan berapa besar volume serapan yang akan dilakukan.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan pihaknya akan menyerap jagung sesuai dengan kebutuhan dan sesuai kemampuan kapasitas tampung mereka.

"Kita serap sesuai dengan kebutuhan. Untuk cadangan peternak nanti kita alokasikan," tutur Budi.

Namun, jika melihat kapasitas gudang Bulog, serapan jagung dirasa tidak akan besar. Pasalnya, saat ini kemampuan tampung perseroan hanya 3,6 juta ton. Sebanyak 2,1 juta ton dari itu sudah penuh terisi beras.

Ditambah, pada periode yang sama, yakni hingga April, Bulog juga menargetkan serapan beras hingga 1,8 juta ton.

Di sisi lain, jumlah beras yang akan dikeluarkan untuk keperluan bantuan sosial dan operasi pasar selama kurun waktu itu diperkirakan hanya 600 ribu ton. Artinya, gudang perseroan akan terisi beras 3,3 juta ton dan hanya ada ruang sekitar 300 ribu ton untuk menyimpan jagung.

Namun, pria yang akrab disapa Buwas itu mengaku masih tersedia ruang yang cukup untuk menyimpan jagung sebagai stok penyangga.

"Ada gudang yang kosong untuk beras di beberapa daerah dan ini ada kebutuhan untuk jagung. Nanti kami hitung berapa kemampuan kita. Kami sedang hitung," tandasnya.

Terkait harga pembelian, ia memastikan nominal yang ditawarkan tidak akan merugikan para petani.

Sedianya, pemerintah melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58 Tahun 2018 telah menetapkan harga acuan pembelian jagung di tingkat petani sebesar Rp3.150 per kilogram (kg) dan di tingkat pabrik pakan sebesar Rp4.000 kg.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, terutama akhir tahun lalu, harga jagung di level petani meroket bahkan menyentuh Rp6.000 di beberapa daerah.

Buwas mengatakan pihaknya tidak memiliki anggaran khusus untuk program serapan jagung. Mereka akan mengandalkan pinjaman dari perbankan untuk menjalankan tugas tersebut. Dibandingkan dengan program serapan gabah/beras, perseroan mencadangkan dana sebesar Rp10 triliun untuk sepanjang tahun ini.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/2) akan digelar debat kedua Pilpres 2019. Debat kali ini akan mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kedua ini?





Berita Populer

Read More