RUU Koperasi Belum Sentuh Ruh Koperasi

Penulis: M Fauzi Pada: Jumat, 18 Jan 2019, 22:55 WIB Ekonomi
RUU Koperasi Belum Sentuh Ruh Koperasi

Dok/Yuni Hegarwati

PASKA Mahkamah Agung menganulir UU No.17 Tahun 2012, masyarakat koperasi dipaksa kembali menggunakan UU No.25 tahun 1992. Padahal aturan perundangan produk lama itu tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman.

Janji pemerintah sejak 2016 bahwa UU Koperasi baru segera terbit, hingga kini belum terealisasi. Kini, pemerintah bersama DPR RI telah membentuk tim khusus dan tim teknis guna menyelesaikan RUU Koperasi agar menjadi UU. Sayangnya RUU tersebut belum menyentuh ruh koperasi (gotong royong), karena minimnya sosialisasi.

Demikian benang merah seminar yang menampilkan pembicara Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Inas Nasrullah Zubir, pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta Dr Reverisond Baswir, Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Rully Irawan.  

Seminar bertajuk 'Urgensi Menunggu UU Koperasi Baru, Menyongsong Reposisi Bisnis Koperasi di Era Distruptif’ digagas Majalah Peluang ini, sejumlah pelaku koperasi mengaku tidak mendapatkan sosialisasi yang cukup. Bahkan ada yang terkejut ketika mengetahui sejumlah pasal di dalamnya. 

"UU Koperasi yang baru diharapkan tahun ini disahkan, kalau konsepnya dari kami sudah sejak 2016 karena kami belajar dari sejak dianulirnya UU No 17 tahun 2012 tentang perkoperasian oleh Mahkamah Agung. Kami berharap sebelum tugas periode DPR selesai, sehingga memberi arah baru bagi koperasi," kata Rully.

Rully menambahkan, UU koperasi baru ini menjadi acuan, kepastian hukum dan pelindung bagi pelaku koperasi.

"Adapun jika undang-undang tersebut belum disahkan juga, kita siapkan peraturan menteri sebagai aturan pelaksananya," katanya.

Wakil Komisi VI DPR-RI Inas Nasrullah Zubir mengaku, RUU Koperasi yang baru pada dasarnya tidak disetujuinya. Semangat RUU ini lebih banyak pada koperasi simpan pinjam, sementara koperasi produsen dan konsumen sedikit.

"Mereka yang menyarankan RUU koperasi ini mindsetnya masih koperasi itu adalah simpan pinjam, koperasi bukan hanya simpan pinjam, tetapi koperasi konsumen dan produsen. UU seharusnya memberikan ruang pada koperasi produsen dan koperasi konsumen. Masa, lahan koperasi hanya simpan pinjam, Saya sudah ingatkan jangan sampai koperasi menjadi tempat perkumpulan modal," kata Inas di Jakarta, Kamis (17/1).

Dalam RUU Koperasi pada Pasal 1 disebutkan, Koperasi adalah perkumpulan orang yang bersatu secara sukarela dan bersifat mandiri untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial, dan budaya melalui usaha bersama yang diselanggarakan secara demokratis dan profesional berdasarkan asas kekeluargaan dan gotong royong.

"Jadi sudah tidak perlu lagi diperdebatkan, sudah tidak bisa diubah karena sampai kapan pun tidak akan kelar-kelar UU Koperasinya," tegasnya.

Ketua Umum Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) Provinsi DKI Jakarta, Hasanudin mengaku terperanjat ketika mengetahui Pasal 10, ayat 1 draft RUU Koperasi yang berbunyi; Koperasi Primer didirikan oleh paling sedikit sembilan orang.

"Jangan-jangan ini pasal titipan? Kalau sembilan orang, seorang suami, isteri, anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya bisa mendirikan koperasi. Apakah seperti ini koperasi yang diinginkan, bagaimana pasal ini bisa muncul," ujar Hasanudin.

Pendapat lain juga disampaikan Presiden Direktur Kopsyah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI), Kamaruddin Batubara. Ia mengatakan, jangan sampai rancu, koperasi itu kumpulan orang bukan kumpulan modal. Karena yang dimaksud kumpulan orang di sini adalah yang menyetorkan modal masing-masing, tetapi mempunyai hak suara yang sama.

“Justru menyatukan modal dari banyak orang ini kekuatan koperasi. Sebagai contoh kekuatan gotong royong koperasi yang dilakukan Kopsyah BMI mengumpulkan modal dari anggota Rp100 ribu per orang dan hasilnya terkumpul Rp6 miliar untuk mendirikan toko bangunan,” kata Kamaruddin.

Sementara itu Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto mengungkapkan agar koperasi juga bisa bergerak di bidang layanan publik, termasuk juga pelayanan listrik. Yang terpenting pemerintah dengan tegas menetapkan dan mengakui reposisi koperasi, termasuk nilainya, hingga proteksi yang dilakukan pemerintah.

“Amerika Serikat yang selama ini dianggap negara kapitalis, listrik dikelola oleh koperasi. Di Singapura koperasi dibebaskan dari pajak oleh pemerintahnya. UU Koperasi yang baru nantinya tentu tidak sesuai dengan harapan para pelaku Koperasi, karena di samping mereka tidak dilibatkan, banyak pasal-pasal yang tidak mengakomodir kepentingan pelaku Koperasi, entah bagaimana yang tadinya fraksi-fraksi tidak setuju, mungkin tiba-tiba ada 'lobi-lobi' oknum tertentu jadinya setuju," imbuhnya. (O-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/2) akan digelar debat kedua Pilpres 2019. Debat kali ini akan mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kedua ini?





Berita Populer

Read More